Hidden Love

Hidden Love
Perdebatan


__ADS_3

Lagu pop kebarat-baratan menemani perjalanan pagi Sastra menuju ke perumahan tempat Dyana. Dia yakin dapat membawa Dyana kembali ke desa. Setelah itu, Sastra berencana akan membawa Dyana ke salah satu tempat yang paling indah dan menyatakan perasaannya.


"Hum, semoga saja Dyana sudah bangun dan tidak keluar bersama pria itu." Gumamnya disela perjalanan.


Setengah kilo lagi ia akan sampai. 


Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Seseorang menelponnya.


Setelah menerima telpon dia semakin menambah kecepatannya, tapi bukan ke arah perumahan yang dituju. Dia ke jalur lain menuju ke pusat kota.


Di tempat  lain.


Dita yang terus saja memberi penjelasan tetap disangkal oleh mantan kekasihnya. Mereka kembali lagi bertemu di restaurant SunLiner di pusat kota. Kekasihnya, Debay meminta wanita itu untuk menemuinya. Debay kembali menemukan bukti perselingkuhan Dita.


"Bay! Yang katanya kamu lihat di depan rumah itu hanyalah orang yang menolong aku. Dia menabrak aku hingga pingsan dan aku dibawa ke rumah sakit. Itu pas aku pulang dari cafe sama kamu." Dita sampai terengah-engah menjelaskan. Namun, rahang pria berbadan kekar dan tinggi itu tetap mengetat seakan menolak setiap penjelasan mantan kekasihnya.


Meski Debay sedikit kelu saat Dita mengatakan dia tabrakan. Tapi, ia tetap kukuh bahwa itu semua hanya karangan belaka.


"OKE! Aku benar telah menduakan kamu, tapi bukan orang yang kamu temui di perumahan." Dita mencoba mengatakan semua itu agar Sastra tidak kena imbasnya.


Debay tetap diam, ia nampak berpikir keras. Entah harus percaya atau tidak. Hatinya meminta percaya tapi logikanya menolak.

__ADS_1


"Kalau kamu memang sudah tidak mencintai saya, lalu kenapa mendebatkan semua ini. Toh, saya bukan lagi milik kamu!" Dita sekarang berbicara datar, formal tapi menusuk. Ia lelah menjelaskan semuanya. Tapi kali ini berhasil memancing pria di depannya untuk berhenti bungkam.


"Kamu jangan berprasangka apa-apa. Karena saya sudah tidak percaya kamu lagi. Saya hanya ingin membuktikan penghianatan kamu. Agar kamu tahu, kalau kamu lah yang membuat ini terjadi." Debay diam, dia menahan emosinya untuk tetap berbicara setenang mungkin dan balik berkata formal. 


Dia hanya ingin Dita menyadari bahwa kegagalan pernikahannya karena dia. Dan keributan di tengah keluarga saat ini gara-gara dia juga. Semuanya hancur karena dia.


"Tiga tahun kita menjalin kasih, sampai kita hampir menikah. Tapi, nampaknya Tuhan berbaik hati pada saya. Sehingga saya tidak menghabiskan hidup saya bersama wanita seperti kamu." 


Keduanya diam saat mengingat perjalanannya tinggal selangkah menuju bahagia. Dita sadar ini salahnya, ia berpaling saat Debay selalu sibuk dengan urusannya.


Dita sangat sakit mendengar perkataan pria yang sudah tahu segalanya tentangnya. Bahkan sifatnya pun diketahui.


Mereka duduk kembali. Memikirkan apa yang telah terjadi. Di dalam benak mereka masih menyimpan perasaan yang sama. Dita sebenarnya tidak serius dengan lelaki itu,dia hanya butuh hiburan dan pelampiasan kesepiannya.


Dita berharap Sastra datang untuk memberi penjelasan pada mantan calon suaminya itu. Mau bagaimana lagi, sekarang pria selingkuhannya sudah tidak bisa dihubungi setelah Dita memberi sebuah mobil. Dan Sastra adalah pria yang ditemui bersamanya.


Sejujurnya Dita ingin hubungannya kembali seperti dulu. Ia ingin melanjutkan pernikahannya bersama Debay.


"Sekarang aku mau tanya! Apa alasan kamu sampai tega berselingkuh dari aku. Bahkan tidak cuma satu pria. Kamu punya banyak pria Dit!" Debay kembali buka suara, ia sekarang sudah memantapkan niatnya untuk menanyakan hal ini setelah dari kemarin terus saja gagal.


"Maaf. Aku gatau kamu akan percaya atau tidak. Aku hanya hilaf sebab kamu tidak seperti dulu lagi, kamu tidak pernah perhatian sama aku. Biasanya dari pagi sampai malam kamu terus memantau semua yang aku lakuin." Lalu Dita diam sejenak dan melanjutkan lagi.

__ADS_1


"Kamu jarang minta ketemu. Bahkan saat aku akan menemui, kamu malah menolak. Alasan kamu rapat lah, urusan ke luar kota lah, nemuin klien dan banyak lagi." Dita melemas mengetahui betapa bodoh alasannya. Tapi, dia berusaha jujur.


"Aku kesepian, rasanya hatiku itu dihempaskan ke langit paling atas lalu dicampakkan hingga tembus ke lapisan tanah paling bawah. Sakit!" Kali ini Dita tak dapat lagi menahan air matanya. 


Hati Debay mencelos melihat orang yang masih disayangnya menangis. Tapi, dia menguatkan hati untuk tidak kasihan pada wanita di depannya. Debay kemudian menjawab dengan tenang.


"Karena aku yakin kamu itu sudah dewasa. Buktinya aku melamar kamu. Tapi apa? Kamu malah menduakan aku kaya gini. Kamu tahu ngga, kalau aku kerja lebih keras untuk kamu, untuk kita. Semua sekarang sudah sia-sia." Debay berbicara dengan marahnya. Dia kemudian mengacak rambutnya frustasi.


Dita belum pernah melihat Debay semarah ini. Tiga tahun mereka menjalin cinta, Debay sangat sabar dan penyayang. Ini semua salahnya.


"Tapi kenapa kamu tidak menjelaskan semua itu. Kamu malah membiarkan aku menunggu tanpa kepastian. Sudah berminggu-minggu aku gelisah karena kamu selalu sibuk kerja sampai tidak sempat bertemu. Jujur, kalau aku boleh memilih. Lebih baik kita hidup sederhana tapi bahagia. Bukan malah mengejar uang seperti saat ini." Penjelasan Dita panjang lebar. Meski masih ada unek- unek yang belum tersampaikan, ia tahan agar Debay bisa memberikannya penjelasan juga.


"Itu karena kamu egois. Sudah tiga tahun kita menjalin hubungan, seharusnya kamu mengerti keadaan aku. Tapi apalah, semua sudah terlambat. Semua sudah hancur!"


Debay kemudian pergi, dia mengambil jasnya lalu pergi meninggalkan Dita yang masih berderai air mata.


"Bay! Debay!" 


Dita memanggil Debay, namun tidak dihiraukan. Terlihat sekali dia sangat marah. Emosinya sudah diambang batas.


Sastra yang baru memasuki parkiran restaurant SunLiner melihat seorang pria keluar dari cafe dengan tampang yang begitu marah. Sastra hanya memandangi saja, toh dia tidak kenal. Intinya dia sekarang harus menemui Dita secepatnya.

__ADS_1


Setelah sampai, dilihatnya wanita itu menangkup wajahnya sendiri. Dia menangis tersedu-sedu. Beruntung cafe masih sangat sepi, hanya ada mereka. 


__ADS_2