Hidden Love

Hidden Love
Kemarahan Sekar


__ADS_3

Di sisi lain, Sekar yang sampai jam segini belum menemukan Sastra pulang langsung memanggil semua bodyguardnya. Namun, hasilnya nihil sebab tidak ada yang tahu kemana Sastra. 


Dia menghancurkan semua barang-barang yang ada di dekatnya hingga semua hanya bisa tertunduk.


“Sial! Kemana lelaki itu hingga jam segini tak juga muncul. Beraninya dia.” Omel Sekar.


Setelah habis-habisan melempar semua barang di ruang tamu dia berjalan ke kamar Ayahnya Sastra.    


“Dasar! Perempuan ini bikin malu saja.” Kata Dewi yang ikut dibondong ke rumah Sastra.


“Hey! Pak tua, kemana anakmu? Kalau sampai jam sembilan tak pulang, saya pastikan rumah ini tak akan berbentuk lagi.” Ancamnya kasar pada Ayah Sastra.


“Harusnya kamu lebih tahu, bukankah kalian sudah kembali menjadi sepasang kekasih. Saya sudah tak bisa lagi mengatur anak saya, dia sudah besar pasti bisa mengatur dirinya sendiri. Kalau kamu menginginkan dia, cari saja sendiri. Oh ya, kalau kamu mau hancurkan rumah ini, silahkan saja!” Katanya langsung pergi.


“AHH!! Semuanya benar-benar menyebalkan. Awas saja, akan aku hancurkan semuanya!” Amarah Sekar makin memuncak.


***


Sastra yang masih menunggu wanita yang ditabraknya menghabiskan waktu dengan bermain game di handphonenya. 

__ADS_1


“CUKUP! Kau tak perlu jelaskan apa-apa lagi. Semuanya sudah jelas, kau telah berselingkuh dengan lelaki itu. Bahkan kau bermesraan hingga berciuman. Kau kira aku tidak tahu, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.” Bentak lelaki itu mengetahui kebohongan calon istrinya.


“Dia hanya sahabat kecilku saja, tidak lebih!” Wanita yang jelas-jelas bersalah itu tetap membela diri.


“Baru kali ini aku melihat sahabat hingga berciuman panas. Sahabat kok berani berbuat bejat! Pokoknya aku batalkan pernikahan kita. Aku tidak mau punya istri seperti kamu.” Ucap lelaki itu sambil menunjuk wanita di sampingnya dengan sangat marah.


“Tolong jangan, aku tidak serius dengannya. Aku hanya bosan saja.” Wanita tersebut menangis menolak pernyataan pria di depannya.


“Akhirnya kamu mengaku. Kalau kamu sudah bosan biar kita sudahi saja semua drama ini.” Lelaki yang sudah tak bisa menahan amarahnya menetapkan pendiriannya untuk tetap berpisah dan membatalkan pernikahan mereka.


Ingatan tersebut muncul begitu saja di ingatan wanita yang masih berbaring lemas, dia kembali menangis. Tapi, dia semakin menangis melihat dirinya berada di ruangan asing. 


Sontak Sastra yang mendengar teriakan dari ranjang yang ia tunggu sedari tadi sangat terkesiap, hingga handphonenya hampir jatuh. 


“Hallo, saya Sastra. Orang yang menabrak anda tadi. Saya minta ma-" katanya tercekat karena wanita disebelahnya malah langsung memeluknya tanpa izin.


"Maaf, saya tidak mengenal anda. Tolong lepaskan saya." Sastra berontak.


Serentak wanita itu menatapnya lekat. Ternyata yang dipeluk bukan Ngurah kekasihnya, melainkan orang lain.

__ADS_1


"Maafkan saya, saya tidak tahu. Saya kira Anda calon suami saya." Katanya tidak enak dan langsung melepaskan pelukan itu dengan cepat.


"Maaf, karena Anda saya harus menunggu di sini. Besok-besok kalau menyebrang hati-hati." Sastra menasihati tapi juga menyindir wanita itu.


"Iya, Pak. Saya minta maaf, saya sangat terpukul karena sesuatu buruk menimpa saya." Katanya penuh maaf.


"Baiklah. Saya sudah membayar semua biayanya. Jadi izinkan saya untuk pergi sekarang." Pinta Sastra.


"Maaf, saya boleh mina tolong? Oh ya, nama saya Dita, saya sudah bekerja. Kamu sudah bekerja atau masih sekolah?" Sastra mengurungkan niatnya untuk pergi karena wanita itu mau minta tolong.


"Saya masih sekolah. Mau minta tolong apa?" 


"Tolong antar saya ke rumah, ya?" Mintanya memelas.


"Baiklah." Sastra pasrah, lagian dia juga harus bertanggung jawab atas orang yang telah ditabraknya.


"Terimakasih."


Mereka keluar dari rumah sakit, diantarnya wanita yang bernama Dita ke rumahnya. Sastra merasa lega karena tidak terjadi apa-apa dengan wanita itu. Sekarang dia bisa berfokus mencari Dyana.

__ADS_1


__ADS_2