
Olahraga memang selalu ada di setiap kelas. Mungkin waktu Sekolah Dasar, olahraga adalah pelajaran yang paling seru karena gurunya humoris, jarang menulis, belajar diluar, tidak terlalu ditekan dan kalau ada renang selalu suka-suka. Masuk ke Sekolah Menengah Pertama, olahraga mulai agak memuakkan. Menulis setiap bab, sering ada tes, mulai banyak peraturan dan selalu ditargetkan, gurunya pun cenderung galak. SMP saja seperti itu, apalagi SMA. Itu pengalaman Angga.
Angga sebenarnya agak malas kalau pelajaran olahraga. Kelas mereka kedapatan jam setelah istirahat dan itu sudah mulai panas. Terlebih setelah pusing menghadapi terik matahari, jam berikutnya dia harus pusing lagi karena pelajaran matematika.
Hanya saja Angga tidak mau kehilangan nilai dan membolos hanya untuk menuruti rasa malasnya.
Tidak jauh dari Angga yang malas, Yulu cenderung kurang semangat. Karena hari ini ada tes, tesnya itu melakukan roll sebanyak tiga kali. Jujur saja, Yuli tidak suka. Dia sering pusing, memang salah dia sendiri karena menumpu pada pucuk kepala tali Yuli tidak mau mengaku.
Intinya dia benci senam lantai.
"Jangan ngelamun, kan gak lucu kalau iblis kemasukan." Yuli langsung tersentak begitu saja, dia menoleh dengan cepat kemudian menatap tajam.
"Tiba-tiba nongol mulu Lo! Dasar setan!" balas Yuli sedikit membentak, hitung-hitung melampiaskan rasa kesalnya terhadap tes hari ini.
Angga tidak langsung membalas seperti biasanya. Lelaki itu malah mendekatkan wajahnya pada wajah Yuli, kemudian menatap lurus ke arah perempuan itu. Cenderung khawatir.
"Lo kenapa Yul?" tanyanya yang kemudian berhasil membuat Yuli mengernyit dan memasang raut bertanya.
"Hah? Baik kok gue, baik!" balas perempuan itu cepat seraya melangkah mundur agar wajahnya dan Angga tidak berjauhan.
Angga menegakkan badannya, kembali menatap Yuli lurus dan berucap, "Semoga aja ya, perasaan gue tiba-tiba gak enak. Gue ngerasa kayak khawatir gitu sama Lo." Kemudian laki-laki itu melenggang begitu saja dari hadapan Yuli.
Yuli kehabisan kata-kata.
HIDDEN LOVE
Tes roll depan ini terasa mudah untuk beberapa orang dan terasa sulit untuk sebagiannya lagi. Karena pada faktanya kemampuan seseorang memang berbeda-beda.
"Jadi di tes ini, kalian melakukan gerakan roll depan sebanyak tiga kali. Nilai diambil juga dari sikap awal serta kesempurnaan saat pelaksanaan," jelas guru olahraga mereka dengan panjang lebar dan raut serius.
"Mengerti kalian?" Tanyanya kemudian setelah hening.
"Mengerti Bu!" jawab mereka serempak.
"Kalau mengerti, ibu harap kalian tak ada yang melakukan kesalahan. Kalian sudah cukup sempurna dalam latihan minggu kemarin. Dalam latihan ini, kalian harus lebih ditingkatkan ya! Karena nilainya akan dimasukan sebagai nilai rapot tengah semester."
"Baik Bu!" jawab mereka lagi.
"Sekarang yang laki-laki dulu. Baris sesuai absen."
__ADS_1
Yuli menggigit bibir bawahnya, merasa ragu. Terlebih dia tidak sekolah minggu kemarin, membuatnya tidak tahu dengan pasti cara melakukan roll yang baik dan benar. Yuli hanya mengamati, ia pikir ia akan lama. Terlebih namanya masuk pada jajaran absen terakhir.
Ternyata tes itu tidak selama voli atau basket, lumayan cepat. Laki-lakinya tampak menguasai, meskipun ada yang miring sehingga tubuhnya keluar dari matras. Karena itulah cepat.
Ketakutan Yuli bertambah begitu melihat Dhilla menabrak tiang basket. Karena posisi matras sengaja disana karena lebih teduh. Dahi teman sebangku Dzikya itu tampak menonjol, membuat Yuli jadi ngeri sendiri.
"Yuli!" panggil guru olahraga mereka kemudian. Yuli dengan gelagapan langsung memeragakan gerakan awal seperti yang ia lihat dari teman-temannya tadi.
Dia memejamkan matanya, berdoa semoga dia bisa. Peluit belum dinyalakan, karena guru olahraga mereka didatangi salah satu murid dari kelas lain. Yuki menyempatkan dirinya menatap teman-temannya. Kemudian Yuli berhenti pada Angga yang masih menatapnya sepeti tadi.
Khawatir.
Yuli menggelengkan kepalanya berusaha kembali fokus. Setelah intruksi peluit ia lancar menjalankan roll pertamanya, tinggal dua roll lagi.
Roll tadi cukup membuat kepalanya pening, Yuli tak terbiasa dengan hal ini. Dia mencoba melakukan roll yang kedua namun naas, kepalanya mengenai tiang itu.
Dan dunia Yuli gelap disaat itu juga.
Hidden Love
"Udah sadar Yul?" Sebuah suara ia dengar begitu matanya menangkap sinar dari lampu diatas ruangan. Ia tahu sekarang ia berada dimana.
"Ah i-iya," jawab Yuli sembari memicingkan matanya pada asal suara. Masih berusaha memproses apa yang terjadi padanya.
Itu Jani, membuat Yuli meringis karena meski tahun pertama mereka sekelas juga Yuli belum berhasil akrab dengan perempuan ini.
"Lo pingsan cukup lama. Kayaknya Lo pingsannya berlanjut jadi tidur yah? Soalnya tadi sempat sadar," balas Jani kemudian, hari ini dia kebagian jaga UKS.
Yuli tersenyum kaku, tidak tahu harus membalas apa. Dia kemudian menoleh pada tangan kirinya yang terasa berat, dan mendapati Angga yang tertidur berbantalkan tangannya.
Kenapa dia jadi gugup?
"Kenapa Setan bisa ada disini?" tanya Yuli sembari berusaha menetralkan kegugupannya.
"Angga yang tadi gendong Lo kesini. Jam pulang udah daritadi tapi Angga maksa buat nunggu Lo sampai sadar. Tapi, dia malah ketiduran," jawab Jani sembari melirik Angga sebentar, lalu fokus kembali pada Yuli.
"Terus kenapa Lo disini? Bukannya Diani?" tanya Yuli lagi.
"Piket. Ini juga mau pulang. Niatnya mau bangunin Angga buat tanya apa dia masih mau nungguin Lo. Kalau iya, tadinya gue mau pulang duluan," jawab Jani lagi.
__ADS_1
"Bangunin aja si Setan ini. T-tangan gue pegel."
"Yah pantes. Udah sekitaran dua jam anak ini tidur. Dari jam pulang sampe sekarang," ucap Jani sembari berjalan mendekati Angga.
Perempuan itu menepuk punggung Angga dua kali, "Ga, Yulinya udah sadar."
Angga langsung terduduk tegak, meski matanya masih menutup. Perlahan laki-laki itu membuka matanya.
"Ga, mau Lo atau gue yang anter Yuli?"
"Hm? Gue aja," balas Angga kemudian dengan lesu. Tampaknya masih mengumpulkan nyawa.
Jani hanya mengangguk sebagai balasan, "Okay, gue duluan ya. Bye," balas Jani kemudian tanpa berkata-kata lagi perempuan itu berjalan dan menghilang dibalik pintu UKS.
"Mmm, Yul maaf kalau tangan Lo pegel. Gue gak sadar kalo gue ketiduran."
Yuli mengangguk, dalam hati merutuk mana ada orang ketiduran yang sadar? Tapi dia tidak menyuarakan pikirannya itu, malas berdebat. Tanpa kata Yuli mengubah posisinya menjadi duduk lalu turun dari ranjang UKS.
"Gue mau pulang, Ga," ucap Yuli kemudian seraya memakai sepatunya.
"Yaudah, gue ambil tas dulu, masih dikelas."
Tanpa menunggu jawaban dari Yuli, Angga langsung berlari kecil menuju kelas untuk mengambil tas mereka.
Yuli meringis, menatap sepatunya kosong , "Yakali gue baper?" ucapnya dengan nada kesal yang kentara.
"Baper kenapa?" Yuli tersentak, menoleh cepat ke arah Angga yang sudah kembali dengan tas dipegagannya kemudian menggeleng keras.
"Kok udah balik?" Yuli tidak menjawab, memilih untuk menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan.
"Dibawain Widia, ketemu deket ruang piket."
Yuli mengangguk, kemudian berdiri, "Ayo pulang, kepala gue sakit," ajaknya kemudian mengambil tasnya dari Angga dan berjalan mendahului lelaki itu.
"Eh tungguin gue Blis."
"Halah cowok kok lelet!"
Untuk pertama kalinya, Angga khawatir saat olahraga bukan bosan seperti biasanya. Dan untuk pertama kalinya, Yuli merasa nyaman ketika bersama dengan Angga.
__ADS_1