
Aditya Putra, nama itu yang diketikkan di pencarian pada akun facebook. Dyana menggaruk-garuk kepalanya, tentu saja bukan hanya ada satu akun tapi banyak sekali.
Dyana memang ingat wajahnya Adit tapi itu sewaktu dia tinggal di rumahnya. Dan dirinya masih smp. Adit lebih tua tiga tahun darinya.
Akhirnya setelah mengintip satu persatu akun, Dyana mendapat profil yang mirip dengan Adit. Lalu dengan cepat ia melihat akunnya. Ternyata sangat lengkap, dari status sampai dengan alamat hingga sekolah tercantum disana. Karena dirasa sudah lengkap dan benar orangnya Dyana kemudian mengetikkan pesan, "Kak Adit, ini aku Dyana dari desa. Aku udah di kota, aku mau kesana ya kak? Boleh tidak?" TanyabDyana tanpa ba-bi-bu.
Begitu pesan yang dikirim dan pas sekali sedang aktif di messenger. Begitu cepat akunnya memperlihatkan "Sedang mengetik..."
Dyana sangat berharap pesannya dibalas. Sedari tadi angkutan yang ia naiki sudah menurunkannya di pinggir jalan yang entah dimana. Beruntung dia masih punya sisa paket data.
Tak perlu menunggu lama, ternyata Adit sangat aktif di sosial media. Dilihat juga dari kiriman-kirimannya yang berisi penawaran bisnis. Dyana semakin terpukau dengan sepupunya, meski keluarga jauh dia cukup akrab sewaktu Adit tinggal di rumahnya.
Adit sangat terkejut saat ada pesan masuk dan namanya tidak asing tapi sudah lama tak dijumpai. Dyana.
Adit langsung mengetik ingin membalas bahwa dia sangat senang dengan kedatangan sepupunya walaupun tiba-tiba. Namun, dirasa sangat lambat akhirnya dia memilih langsung menelpon.
Dyana yang terus memperhatikan hpnya penuh harap, ia sangat terkejut ternyata Adit menelpon. Apa yang harus ia katakan tiba-tiba sudah berada di kota yang sangat besar.
__ADS_1
"Hallo, Dy." Begitu kata diseberang langsung memanggil Dyana.
"Hallo, Kak Adit. Dyana sudah di kota sekarang."
"Kenapa mendadak sekali? Bibi kenapa tidak bilang sama aku. Biasanya aku menelpon setiap ada luang."
"Ceritanya panjang Kak. Aku belum bisa jelasin sekarang."
"Ya udah, kamu sekarang dimana? Sama siapa?" Tanya dibalik telepon dengan nada cemas.
"Aku sendirian ke sini kak. Aku ga tahu ini dimana, tapi disini ada banyak cabang jalan dan ada patung besar." Jawab Dyana takut dan malu dengan sepupunya itu.
"Kamu tunggu di sana jangan kemana-mana. Kakak sampai tiga puluh menit lagi."
Adit sangat khawatir dan langsung melajukan mobilnya. Pusat kota sangat jauh dari rumahnya. Tentu membutuhkan waktu yang cukup, apalagi di sini sering macet. Dan yang paling mencemaskan di pusat kota terjadi banyak kejahatan, kalau tidak cekatan bisa dicopet atau apalah itu.
Adit semakin mempercepat laju mobilnya. Dia sangat takut, Dyana belum terbiasa di kota.
__ADS_1
Karena sangat khawatir dia lagi-lagi menelpon Dyana.
Dyana yang semakin berkeringat menunggu Adit datang. Ia sangat tidak nyaman semua orang yang berlalu lalang menatapnya aneh. Di tengah kelinglungannya hpnya tetiba berdering. Telepon masuk.
"Hallo, Dy." Suara Adit lagi-lagi terdengar cemas.
"Hallo Kak, lagi berapa menit lagi sampai." Dyana terdengar semakin tak nyaman.
"Tunggu sebentar lagi ya. Lagi lima menit aja." Adit mencoba menenangkan.
Di tempat lain...
Sastra kembali menuju rumah Dyana. Dia punya firasat kalau Dyana bukan pergi hanya sampai di desa saja. Tapi pergi ke tempat yang jauh. Sebab Dewi saja sampai diberi pesan untuk memberitahu jika ada pengumuman.
"Kalau memang Dyana di desa. Lalu kenapa sampai memberi Dewi pesan." Pikir Sastra.
Sastra menuju ke rumah Dyana lagi. Menanyai Ibu apakah Dyana punya tempat pelarian di kota.
__ADS_1
Sastra semakin yakin saat mengingat Dyana pernah bercerita kalau ia punya sepupu di kota yang masih kuliah.
Sedikit lagi dia akan menemukan Dyana.