Hidden Love

Hidden Love
Sesal


__ADS_3

Dyana menyesali keputusannya. Meski begitu, ia merasa sangat senang demi kebaikan dirinya dan Sastra juga keluarganya. 


Air mata kembali membasahi pipinya, ia masih tetap duduk di tempat itu. Dyana tidak ingin kalau orang di dalam rumah tahu kalau ia sedang menangis.


Seorang lelaki menatap Dyana dengan tatapan sendu. Ia ikut merasakan apa yang sedang gadis itu alami. Dirinya pun merasa sangat tidak berguna. Padahal Dyana sudah menceritakan semuanya, tapi dia juga terpaksa bungkam saat tahu apa alasan dibalik keputuan Dyana. Lagi pula, Sastra sudah terlanjur pergi. Lagian, cowok itu terlalu bodoh, kalau memang ia sadar akan perasaan Dyana lalu kenapa ia tak memaklumi dan berjuang bersama. Adit malah berperang dengan perasaannya sendiri. Dia benar-benar bagai telur diapit batu. 


Tak tahan melihat Dyana terus terpuruk, Adit menghampiri. 


"Dy!" Adit duduk di samping Dyana. Ia langsung mengelus punggung sepupunya itu berharap bisa mengalirkan daya semangat. Ia mengerti Dyana sangat sakit saat ini tapi Adit pun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sakit Dyana saat ini tidak bisa disembuhkan dengan obat apapun selain Sastra. 


Dyana menyandarkan kepalanya pada bahu Adit. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain menyesali apa yang terjadi.


"Kamu 'kan tahu kalau apa yang kamu katakan itu demi kebaikan semuanya. Jadi, jangan menangis lagi. Kalau memang kalian nanti berjodoh maka Tuhan akan mempertemukan," rayu Adit sembari mengelus rambut Dyana. Tapi, suasana tetap hening. Dyana tak mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Ibunya yang melihat dari kejauhan tampak tak bisa berkata lagi. Ia pun tak bisa ikut campur dengan urusan mereka. Ia tak tahu kenapa anaknya menolak Sastra yang sebaik itu. 


"Sudah, kamu harus makan dan tenangkan dirimu. Kalau kamu begini terus maka ibu dan adikmu akan curiga. Seharusnya kalau memang Dy mencintai Sastra maka carilah solusi kedepannya. Kamu pasti bisa," Adit menyemangati. 


Dyana lalu mengangguk dan kembali ke dalam rumah. Adit mengekori, 'Sejujurnya aku tak tega dan ingin sekali bilang pada cowok bodoh itu kalau Dyana melakukan ini semata-mata karena ancaman.' Kesal Adit dalam hati. 


***


Sastra sudah semakin menjauh dari rumahnya. Ia melihat dari kaca mobil, dirinya masih tidak percaya kalau semua perjuangannya sampai di sini saja. Darma yang melihat putranya hanya diam, dia hanya membiarkan saja karena dia pun tak tahu harus berkata apa. 


Sastra masih berharap kalau Dyana akan mengikutinya ke bandara. Tapi dengan segera ditepis, jelas-jelas Dyana sudah menolaknya dua kali. Bagaimana hatinya berharap pada kedatangan Dyana.


Sejenak Sastra diam, menghela nafasnya dalam. Dia meyakinkan dirinya bahwa keputusannya memang benar. Dan kalau bisa, ia tidak ingin mengingat itu semua.

__ADS_1


'Terimakasih desaku.' Hatinya luka tapi dia tidak berani menangis walau di depan dirinya sendiri. Sebagai lelaki ia harus kuat. 


Sastra melanjutkan langkahnya. Ia dan ayahnya segera masuk ke dalam pesawat. Ia akan membawa harapan yang lebih baik untuk kedepannya. Setelah ini ia tidak akan jatuh cinta lagi pada perempuan sebelum ia sukses. 


***


Dyana sudah selesai makan. Dengan segera ia masuk kamar dengan pikiran yang masih melayang-layang. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada yang lainnya untuk tidur.


Sampai di kamar Dyana mengambil buku hariannya. Dyana menumpahkan semua rasa marah, kecewa, dan kesedihannya di sana. Ia merasa buku dan pena jauh lebih baik daripada curhat dengan manusia. Karena ia bisa menangis sepuas mungkin dan mengeluarkan semua caciannya pada dirinya sendiri. Ia bisa dengan puas merutuki ketidakmampuannya di sana. 


'Kalau saja aku tahu ini akan terjadi, mungkin aku akan menahan perasaan ini lebih dalam lalu menguburnya sampai tidak bisa menyembul lagi. Bodohnya aku yang tak mampu berjuang dan menakutkan sebuah ancaman. Seharusnya aku mampu mengalahkan ancaman itu, karena aku yakin cintaku lebih besar dari pada sebuah gertakan mulut seorang wanita. Tapi, apa daya kau juga sudah pergi. Harapanku sudah benar-benar lenyap dan hanya tinggal senyap. Hatiku juga sudah tergores oleh keputusanku, aku juga sudah menggores hatimu. Maaf, satu kata yang hanya sia-sia diucapkan dan tak mengubah apa pun yang terjadi.' 


Dyana sampai ketiduran, ia menulis di kasur dengan tengkurap. Air matanya sudah menyatu dengan tinta. Dinding ruangan beserta isinya jadi saksi bisu tangisnya malam ini. Lengkap sudah cerita hari ini, ia benar-benar sakit.

__ADS_1


Di luar kamar Dyana, Adit dan yang lain hanya bisa bercakap-capak ria dalam kepungakan. Hanya pura-pura karena mereka menyimpan perasaannya yang terselubung.


__ADS_2