Hidden Love

Hidden Love
15. Liburan?


__ADS_3

Kelas 11-C rusuh lagi, mendekati Ulangan Akhir Semester, guru-guru makin jarang masuk ke kelas karena katanya sibuk dengan membuat soal-soal untuk ulangan nanti.


Ketua kelas 11-C, Pitri akhirnya memutuskan untuk membahas sesuatu daripada mereka tenggelam dalam kegabutan semakin jauh. Dia sudah berdiri didepan papan tulis, setelah memberi instruksi pada teman-temannya agar duduk ditempat masing-masing.


"Kalian mau liburan bareng gak?"


"Udah ngajak liburan aja, UAS aja belum. Masih lama," balas Dzikya, sedikit kesal karena acara main gamesnya diganggu.


Hana yang memang duduk dibelakang pacarnya itu langsung menoyor kepala Dzikya, Iya, Hana sama Dzikya pacaran. Tidak tahu kenapa keduanya bisa terlibat menjadi sepasang kekasih karena sebelumnya mereka tidak jauh berbeda dengan Angga dan Yuli, bertengkar terus.


"UAS DUA HARI LAGI, NYET!"


Dzikya meringis, mengusap bagian kepalanya yang terkena tangan Hana, kemudian berbalik dan menatap Hana dengan mengejek, "Memang lama, tanpa Menma hari gue terasa lama."


"Kan ada Hana, Dzik," celetuk Dian kemudian yang mengundang tawa dan ledekan dari beberapa teman yang lain.


"Jadi mau liburan kemana dulu?" Kia yang sudah merasa obrolan mereka sudah berbelok-belok akhirnya kembali membahas topik utama mereka, liburan.


"Kemana dulu nih? Kalau nyebrang pulau gue absen," timpal Angga dengan santai.


"Nah iya, tujuan kemana dulu?" tanya Yuli kemudian.


Pitri tersenyum, terlihat terharu, "Akhirnya ada yang normal, walau sebentar gue bahagia," ucapnya kemudian dengan dramatis.


Fadil tertawa, "Akhirnya dia curhat." Padahal itu tidak lucu sama sekali, memang pada dasarnya dia receh.


"Liburannya yang murah, kalau bisa traktir gue, hehe," celetuk Dhimas kemudian dan tertawa tanpa dosa.


"Kalau yang jauh banget gue skip," sahut Jani.


Kia menatap lurus Pitri, "Gue pengen ke Bali."


Jani merengut, "Yah gue gak bisa ikut kalau kesana."


"Dua-in, gue gak bisa kalau luar pulau," balas Angga seraya menunjuk teman sebangkunya.


Hada cengengesan tanpa sebab, "Gue dua-in Dhimas kalau gitu, yang murah hehe."


"Gue mau dong ke Bali," timpal Widia.


Hana terkekeh, "Eh iya ya, ke Bali kan banyak turis. Siapa tahu ada bias nyasar."


"Cewek Lo tuh, Dzik." Hada berniat mengompori.


Dzikya mendongak, menatap langit-langit kelas menerawang, "Andai di Bali ada Menma gue pasti datang," balas Dzikya, sama sekali tidak terpengaruh dengan kompornya Hada.


Widia menggeleng, kenapa teman-temannya mudah teralihkan begini?


"Jadi mau kemana?" tanya Widia kemudian.


"Naik gunung yuk!" Jawab Malik cepat.


Hada menggeleng, "Mending keliling Bandung, mampir ke taman-taman yang ada."

__ADS_1


Hana tersenyum, "Kita tinggal di Bandung, bisa kapan aja kalau mau gitu!"


Pitri yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya kemudian bersuara, "Aku udah ngobrolin nih sama Bu Rere," ucapnya seraya menunjukkan ponselnya.


"Kata ibu jangan sampai keluar pulau, ibu nyaraninnya kita kemah aja di Lembang," sambungnya kemudian.


"Terus kan cuacanya lagi gak tentu, jadi kayak ragu gitu kesana. Ibu juga usul supaya kita ke Jogja aja, ibu ada rumah disana katanya kita bisa nginep disana. Lumayan kan mengurangi biaya?"


"Disana juga makanannya murah-murah, gimana?" Tanya Pitri kemudian seraya menatap satu persatu wajah teman-temannya.


Mendengar kata makanan Dzikya langsung berdiri dari duduknya, "SETUJU! ASAL MAKANAN MURAH, DZIKYA PASTI ADA!"


"Boleh, hunting food** disana hehe," sahut Widia. Membuat Dzikya berbalik dan menunjuk Widia begitu saja.


"Ashiap! Ntar kita barengan lagi," ucapnya kemudian.


Widia mengangguk, "Sans, Dzik. Kita kan teman kuliner," balas Widia cepat seraya menunjukkan ibu jari kanannya.


"Boleh aja," jawab Hana kemudian untuk pertanyaan Pitri.


Yuli tersenyum, "Ikut dong, keknya bakal seru."


Hada mengangguk, "Selama murah, Hada ikut!"


"Gue gimana nanti ya," ucap Jani kemudian.


"Ah iya, gue juga," sambung Angga setelahnya.


"Wah wah ada apa ini?" sahut Widia ikut-ikutan Hada untuk mengompori.


Dian menggeleng, "Dasar kompor kalian!"


Kia mulai merasa suasana tidak enak langsung berteriak dengan semangat, "GUE IKUT DONG PIT!"


Pitri mengangguk, "Fix ya ke Jogja? Seminggu kenyang gak?"


"Kenyang banget kalau gue," jawab Widia mulai membayangkan apa saja yang akan ia makan nanti.


"Boleh banget hehe," sahut Dzikya kemudian.


Fitri mengangguk, "Nanti kira diskusikan lagi ya, pokoknya tiga hari sebelum berangkat harus konfirmasi ikut apa enggaknya."


Hidden Love


"Jadi, kayak yang udah kita diskusiin waktu itu, hari ini kita bakal bahas kepastiannya. Mulai dari keikutsertaan sampai biaya yang harus dikeluarkan," ucap Pitri memulai obrolan mereka setelah UAS selesai kemarin dan hari ini hari bebas sebelum besoknya akan dibagikan besok.


Semua murid langsung fokus pada Pitri, tidak seperti biasanya. Mungkin karena bahasannya liburan murid-murid yang biasanya bandel sekarang terlihat antusias dan nyimak obrolan ini.


Setelah itu Angga sama Jani saling pandang, Yuli memperhatikan itu dari belakang. Karena hari ini bagian Yuli dan Okta duduk di bangku paling belakang barisan kedua dari pintu.


Sementara, Jani sama Angga ada dibarisan kedua dibarisan keempat. Cukup jauh sih, tapi Yuli masih bisa mengamati mereka.


"Nah mulai dari kendaraan, ada yang saudaranya suka nyewain bus gak?" Tanya Pitri lagi membuat Yuli mau tidak mau fokus lagi pada ketua kelasnya itu.

__ADS_1


Dhimas sama Malik mengangkat tangan mereka.


"Kalian tawar yah, nanti kita sewa yang lebih murah. Buat seminggu yaa," ucap Pitri lalu diangguki oleh dua orang itu.


"Liburannya seminggu?" Tanya Angga tiba-tiba.


"Iya, kemarin kita udah bahas kan?" Pitri balik bertanya.


"Dimana?" Tanya Angga lagi.


"Waktu itu," jawab Pitri kemudian diangguki sama Angga, dia lupa.


"Terus kalau biaya nanti aku kasih tahu lagi ya, soalnya buat bayar bis belum pasti. Kalo buat penginapan, rumahnya Bu Rere. Bu Rere udah ngebolehin kok, walau nanti ibu gak akan tanggung jawab sepenuhnya. Soalnya, wali kelas kita kan baru ngelahirin," jelas Pitri dan diangguki sama beberapa anak kelas.


"Nah sekarang keikutsertaan," lanjut Pitri dengan nada menggantung.


"Kemarin yang belum bersedia itu kalo gak salah Jani, Angga, Dhilla, Ryan, ah banyak?" ucap Pitri sambil baca ulang group chat mereka, karena pas malam dia sempat bertanya lagi.


"Angga gimana? Mau ikut gak?" Tanya Pitri yang membuat beberapa orang fokus sama Angga, termasuk Yuli.


"Hmm... gimana ya?" Tanya Angga balik, cowok itu mengusap tengkuknya. Terlihat jelas kalau dia bingung.


"Kalau ikutannya gak penuh seminggu gimana?" Tanya Angga kemudian.


"Loh kenapa?" Tanya Pitri sambil mengernyit.


"Jawab aja."


"Gak apa, cuma nanti pulangnya sendiri," jawab Pitri terdengar ragu.


Angga mengangguk paham, tampaknya laki-laki itu masih enggak untuk mengkonfirmasi keikutsertaannya.


"Jani gimana?" Tanya Pitri kemudian karena Angga tak kunjung jawab.


Jani senyum, "Nanti gue kabarin. Malem deh?" Kemudian Pitri mengangguk atas jawaban Jani.


"Kalian kenapa deh?" Tanya Dzikya tiba-tiba, tidak tahu dituju untuk siapa.


Beberapa orang langsung menatap Dzikya bingung.


"Lo nanya ke siapa?"


"Itu, Jani sama Angga. Kalian ada urusan bareng yah?"


Yuli kembali menatap ke arah Jani dan Angga, dua orang itu menunduk seakan sedang perang dengan dirinya sendiri.


"Gak lah Dzik, kebetulan aja." Angga langsung jawab, kalau kelamaan diam temen-temannya pasti bisa curiga.


Jawaban Angga kemudian diangguki oleh Jani.


Tapi, Yuli merasa kalau dua orang ini sedabf berbohong.


"Yaudah, ntar malem kumpul di rumah aku ya, jam 7an," final Pitri yang kemudian diangguki oleh beberapa orang disana.

__ADS_1


__ADS_2