Hidden Love

Hidden Love
Sadar


__ADS_3

"Apa kamu yang namanya Sekar?" Adit curiga melihat gerak-gerik Sekar yang nampak aneh. Sejak tadi, Merry memanggil dengan nama itu, membuat Adit ngeh siapa perempuan asing yang dilihatnya.


"I-iya," jawabnya gugup. 


Adit memandang dengan teliti hingga menemukan bekas wajah jahat Sekar. 


"Dyana menolak Sekar karena ancaman kamu! Dia sampai meninggalkan Dyana ke Jepang." Adit makin mendekat ke arah Sekar. 


"Karena itu juga Dyana sampai menangis setiap malam!" Adit geram melihat tampang Sekar yang terlihat licik. 


"Ma-maaf. Tapi, saya sudah berubah. Makanya saya ikut ke sini. Saya ingin meminta maaf. Biar saya yang bicara dengan Sastra. Dia pasti merasakan yang sama dengan Dyana." Wajah bersalah Sekar makin menjadi melihat Adit yang begitu marah. 


Adit pun melakukan yang menurutnya itu benar. Diteleponnya Sastra menggunakan hp Dyana. Ternyata nomor Sastra masih disimpan. Beruntung. 


Sastra sedang memainkan ponselnya di ruang tamu. Hari ini dia tidak kemana-kemana. 


"Dyana?" Wajahnya berubah senang. 


"Hallo!" sahutnya. 


"Sastra, mohon maaf--ini Adit…." Belum selesai Adit berbicara Sekar mengambil hp Dyana. 

__ADS_1


"Sastra, ini Sekar. Maafkan aku, Dyana menolakmu sebab ancamanku, jadi tolong maafkan aku. Dyana tidak salah. Kau ceoatlah ke Indonesia, Dyana ditusuk orang tidak dikenal." Sekar menjelaskan dengan cepat tanpa sensor apalagi basa-basi agar Sastra tidak terkejut. Dirinya malah menjelaskan dengan begitu cepat. 


Adit hanya menepuk jidatnya sendiri, tidak paham dengan cara pikir perempuan di depannya. 


"Apa? Dyana ….?" Sastra tidak percaya begitu saja. "Kau pasti membohongiku!" tukasnya. 


"Kalau kau tidak percaya, ini Ibunya."


Sekar memberikan telpon pada Ibu Dyana. 


"Iya, Sastra. Kalau kau bisa ke sini, datanglah. Tapi kalau kau tidak bisa tidak apa. Tapi, Dyana memanggil-manggil namamu terus." Air mata Miya lolos. Dia sebenarnya tidak tega dengan Sastra yang jauh dari jangkauannya.


"Baik, Bu. Pasti saya akan berusaha ke sana." Sastra tidak habis pikir dengan apa yang didengarnya. 


Dua hari kemudian Sastra sampai …. 


Flashback off ….


"Dyana, orang yang kamu tangisi tiap malam sudah di sini. Sadarlah! Apa kamu tidak capek tidur tiga hari?!" Adit berbicara pada Dyana yang lelap. Adit sempat-sempatnya menyindir Sastra yang cepat emosi dengan keadaan waktu itu. 


Sekar sedikit cemburu dengan Sastra yang begitu perhatian begitu menyayangi Dyana. Tapi, dia sekarang harus rela sebab cinta tidak harus memiliki. 

__ADS_1


"Kenapa Dyana bisa ditusuk?" Sastra membalas Adit yang menyindirnya. 


"Dari rekaman cctv ada orang yang sengaja menusuknya. Aku tidak tahu siapa, yang jelas Dyana lelaki. Aku sudah menyelidikinya." 


"Kau harus menghukumnya ! Kalau kau tidak bisa biar aku!" Sastra menyahuti. 


Adit hanya diam. Dia belum bisa menemukan pelakunya padahal sudah tiga hari. 


Sastra mengelus lembut pucuk kepala Dyana. Beberapa minggu ditinggal ternyata rasanya masih sama seperti dulu. 


"Maafkan aku, ini semua gara-gara aku." Sekar baru datang dari kamar mandi langsung nimbrung. 


"Semuanya sudah terjadi!" Sastra berkata setengah berteriak. 


"Sudah-sudah, lebih baik kita berusaha agar Dyana cepat sadar." Miya yang mendengar anak muda di depannya saling sindir dengan cepat memungkas. Dia sudah snagat pusing memikirkan Dyana yang tak kunjung bangun, sekarang malah ditambah dengan adu mulut. 


"Apa kau sudah makan?" tanya Sastra pada Lia yang hanya diam. 


"Sudah Kak, tolong selamatkan Kak Dyana." Wajah Lia berubah, matanya sendu. Dia memohon seakan Sastra adalah kehidupan Dyana. 


Orang yang dibicarakan tiba-tiba melenguh. Tangannya bergerak, seakan sangat lelah tidur berhari-hari. 

__ADS_1


"Dyana, sudah sadar!" teriak Sastra girang. 


Dengan cepat Adit keluar memanggil dokter.


__ADS_2