Hidden Love

Hidden Love
Menangis


__ADS_3

"Ternyata kampusnya megah sekali ya?!" ucap Sastra pada Yuki yang kini berjalan di sampingnya. 


"Iya. Bukankah sama seperti kampus di Indonesia?"


"Sama, tapi mungkin gaya bangunan yang berbeda." Sastra tetap melangkah menuju semakin ke dalam kampus. 


Mereka berangkat bersama menuju kampus. Nagoya university adalah kampus impian Sastra sejak masuk SMA. Tapi sempat diurungkan karena ia telah jatuh cinta dengan seseorang. Lalu karena cintanya tak mendapat balasan, mimpinya bersekolah di luar negeri timbul kembali. Apalagi dia punya teman keci di sana menambah semangatnya. 


"Kamu kenapa memilih Nagoya University untuk melanjutkan sekolah?" Sastra bertanya. 


"Cita-citaku menjadi dokter. Dengan itu--aku bisa menolong orang sakit," jawab singkat Yuki. 


"Lalu, Yamada sekolah di mana?" Sastra peduli dengan pacar Yuki juga. Mereka memang berteman. 


"Dia mungkin tidak di sini. Dia suka budaya, photografi dan travelling. Aku belum sempat menanyakan. Tapi, dia katanya sudah memilih satu kampus idolanya. Cuma belum dia katakan," jelas Yuki. 


Saat mereka sudah selesai mengurus data pendaftaran, Yuki dan Sastra keluar melewati halaman depan. Tiba-tiba orang yang sangat dikenal Yuki dilihat di taman depan.


"Hai, Choi!" Yuki berpelukan dengan seseorang yang dipanggil Choi. Sastra pun menyapa dengan membungkuk lalu tersenyum. 


"Dia siapa? Ganteng sekali," tanya Choi memberi kode. 


"Dia itu teman kecilku. Kamu sudah selesai juga?" Yuki balik bertanya, mereka satu sekolah tapi baru bertemu lagi sekarang.

__ADS_1


"Iya. Bagiamana kalau kita makan? Anggap saja perkenalan dengan teman kecilmu." Choi mengajak Yuki juga Sastra. 


Mereka pun mengiyakan kemauan Choi. 


***


Tingkah Choi yang begitu periang membuat Sastra jadi saklek tak karuan. Ia cuma bisa menanggapi dengan senyuman. Semua hal pribadinya ditanyakan, seakan dia bukan orang Jepang yang biasa introvert. Tapi memang dia punya nenek dari Jakarta. 


Sastra langsung menghempas tubuhnya di sofa. Dia benar-benar lelah seharian. Dari matahari bangun hingga digantikan bulan--ia baru pulang. Kalau bukan temannya Yuki, ia mungkin sudah meninggalkan wanita itu di cafè. 


Mengingat cerita Choi yang punya nenek di Jakarta membuat Sastra ingat Dyana yang ada di Indonesia. Ia jadi berpikir, apa yang dilakukan pengambil hatinya itu. Meski belum bisa melupakan Dyana, tapi Sastra akan berusaha sekuat mungkin. 


"Lucu juga punya cinta pertama karena dijodohin," gumam Sastra tersentum kecut.


"Oh ya, apa kamu tahu Jakarta?" tanya Choi.


"Ada apa?" Sastra agak lelah dengan pertanyaan yang keluar dari bibir Choi. Dia memang keliwat ramah. 


"Nenekku dari Jakarta. Ibuku dari Jakarta sedangkan Ayah asli orang sini," jelas Choi. 


"Apa kamu sering berkunjung?" tak tega hanya membiarkan Choi yang bertanya sedari tadi, Sastra mencoba untuk ikut bertanya balik.


"Tentu! Bila ada waktu," sahut Choi. 

__ADS_1


Mereka kemudia menghentikan percakapan saat pesanan telah datang.


Flasback off.


***


"Dyana, kamu apain aku sampai begini?" Sastra mengacak rambut frustasi. Pasalnya ia sejak sampai di Jepang terus saja teringat Dyana. 


"Apa kamu pelet aku? Rasanya aku tak betah di sini!" pikiran gila itu muncul saat Sastra tak bisa mengendalikan rindunya. Otaknya terus saja memutar gambar wajah Dyana, seakan tayangan slide tak ada habisnya. 


Sastra hampir saja meneteskan air mata rindu. Tapi ia segera urungkan, egonya lebih tinggi. Ia harus melupakan teriakan hatinya memanggil nama Dyana, ia juga harus segera mematikan ingatan tentang Dyana. Dengan langkah kasar ia menuju ke kamar mandi. Bunyi lantai malah terdengar sendu meski diinjak langkah keras. 


Sastra mengguyur kepalanya dengan air shower. Tidak peduli dinginnya malam ini, yang jelas ingatannya bisa teralihkan meski sekejap. 


"Hei otak! Coba kamu lupakan dia sedikit saja! Kenangan itu memang singkat, tapi kenapa kau memutarnya berulang kali!" Sastra berteriak di bawah guyuran air. 


Darma yang mengecek anaknya sudah pulang atau belum tiba-tiba mendengar teriakan itu. Dia bukan marah, tapi tersenyum.


"Beruntung sekali kau bisa merasakan mencintai, todak seperti aku yang tak pernah mencintai," gumam Darma. 


Darma menutup lagi pintu kamar anak kesayangannya. Dia sesungguhnya menyayangi anaknya, apalagi dia sangat mirip dengan ibunya. Karena ia tak peduli membuat ia kehilangan istrinya yang begitu menyayangi dirimya. Tapi ia baru menyadari setelah istrinya pergi. 


Sastra akhirmya berani meneteskan air mata saat air mengaliri wajahnya makin deras. Tak menyangka jika cinta membuatnya menangis. Setelah ini ia tak ingin mencintai seseorang lagi. Sastra akan menjaga hatinya untuk sementara.

__ADS_1


__ADS_2