Hidden Love

Hidden Love
Ceritalah


__ADS_3

Dyana menghempas tubuhnya yang lelah ke sofa. Adit yang sedang menggoreng sesuatu melihat raut lelah Dyana. Dapurnya berhadapan langsung dengan ruang tamu dan tv. Apa pun aktivitas di dapur terlihat jelas sekarang ini. Dyana enggan membuka mulut untuk menyapa, ia takut kalau Adit dapat mendengar suara hatinya yang sedang berteriak sedih. 


"Kamu kenapa?" tanya Adit tiba-tiba sudah di samping Dyana. 


"Hai, Kak. Aku cuma lelah saja," sahut Dyana tersenyum tapi matanya tidak bisa berbohong. 


Adit menaruh cemilan goreng lalu ikut duduk di samping Dyana. 


"Kamu kenapa?" Adit seakan tak puas bertanya sekali. Sebelum dia tahu yang sebenarnya. 


"Aku lelah, ini 'kan pengalaman pertama aku." Dyana tersenyum sendu, dia tak sanggup berbohong. Semakin ia ditanya semakin dirinya ingat akan masalahya. Semakin dia ingin menangis kencang. 


"Aku mau ganti baju dulu," kata Dyana langsung menuju ke kamarnya. Membuat Adit semakin yakin kalau adiknya ada masalah. 


'Kamu bad lier Dy!' batin Adit. Ia kembali mengutak-atik laptopnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA. 

__ADS_1


Dyana membiarkan seluruh tubuhnya dibasahi derasnya air. Ia tak peduli sudah berapa lama berada di sana. Yang jelas, dia tidak akan berhenti sebelum merasa baik. Bulir-bulir air mata bercampur dengan derasnya air. Hatinya terus berteriak 'rindu'. Langit yang sudah gelap tak digubris Dyana, kesedihannya mungkin lebih gelap daripada malam. Sendunya mengalahkan pekikan suara binatang malam. Ingin ia memutar kembali kenangan-kenangan indah. Tapi itu hanyalah sesuatu yang tidak mungkin, dirinya telah melepas kebahagiaannya sendiri. 


Rambutnya yang basah terus dikeramasi lembut tanpa sampo. Pandangannya kosong, dibiarkan air leluasa keluar masuk ke dalam indra pengelihatannya. 


"Aku tahu, cukup tahu! Bukan kamu yang salah tapi aku! Aku!" Lelah dengan diamnya, Dyana berteriak parau. Suaranya sama besar dengan riak air. 


Adit merasa matanya mulai kering menatap benda di depannya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA. Sudah 45 menit dia berkutat dengan tugas kuliahnya yang direvisi. Adit tersadar, ia menoleh ke pintu kamar Dyana. Sama sekali belum terbuka. Segera laptopnya dimatikan. Kakinya dengan pasti melangkah ke kamar Dyana. Siap dengan apa yang akan dilihatnya. 


Pintu dibuka. Matanya hanya menemukan barang-barang yang berdiam di tempatnya. Tidak ada Dyana di kasur, depan cermin, atau ….


Suara gemericik meyakinkan Adit kalau adiknya ada di sana. Tak peduli apa yang akan terjadi, Adit mengetuk pintu kamar mandi. 


Belum ada jawaban. Tetap gemericik air yamg ia dengar. 


"Dy! Dyana!" gedoran pintu makin keras terdengar. 

__ADS_1


Dyana tersadar dari lamunannya. Tanpa melanjutkan mandinya, ia langsung keluar memakai handuk. Matanya yang sembab segera dikedip-kedipkan percaya akan hilang. 


"Iya, Kak." Senyumnya mengembang, berbohong dengan hatinya dan matanya yang sembab. 


Adit lega tapi cemas.


"Kamu habis menangis?" tanya Adit memegang bahu mulus Dyana.


"Ti-tidak," sahutnya menyembunyikan muka.


"Ceritalah!" Adit bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi.


Dyana diam kembali berpikir.


"Iya, tapi Kakak keluarlah dulu. Aku mau ganti baju." Dyana tak lepas tersenyum seakan Adit tidak tahu dia sedang bersedih.

__ADS_1


"Oke! Tapi kamu jangan kunci pintu, Kakak tidak akan ngintip kok," ucapnya mengingatkan langsung keluar.


Dyana sedikit lega, ia tidak dimarahi karena menangis. Dia sedikit malu setelah dipikir-pikir.


__ADS_2