
Sekar langsung menghempaskan badannya pada kasur berukuran besar. Di sana adalah kamar Dendy. Ia merasa sangat lelah hari ini, bukan karena berjalan tapi karena masalah yang menimpanya.
Tak ingin susah berpikir, ia langsung memejamkan matanya hingga tak terasa ia terlelap.
Hingga malam, Sekar masih begitu pulas tertidur dengan pakaian sekolahnya yang masih membalut tubuh jangkungnya.
Dendy baru saja pulang dari bekerja. Hari ini ia tidak patroli--hanya pendataan saja.
Ceklek!
Dendy membuka cepat kamarnya agar segera memuaskan lelah punggungnya. Tapi, ia sedikit terkejut--pasalnya ia lupa kalau Sekar sudah minta izin tinggal di rumahnya untuk sementara.
"Sudah dari jam berapa Sekar tidur?" Dendy heran akan lelapnya Sekar sampai menghabiskan seluruh bagian kasurnya. Ia tidak jadi beristirahat sebentar. Kakinya terpaksa melangkah ke kamar mandi, badannya juga perlu air agar lebih segar.
Tiga puluh menit Dendy menghabiskan waktunya untuk mandi. Niatnya agar badannya segar lagi setelah aktivitasnya seharian.
Baru ia keluar kamar mandi, tetap yag dilihat adalah pemandangan seorang gadis yang tidur terlentang dengan koper di tepi kasurnya.
"Apa dia baru tidur?" Dendy menggaruk kepalanya yang masih basah. "Dia belum ganti baju, belum makan apalagi mandi. Ini sudah pukul sembilan," lanjutnya.
__ADS_1
Dendy akhirnya memilih membangunkan Sekar meski tak tega. Diguncang pelan bahunya, Sekar pun menggeliat kencang.
Puak!
Tangan Sekar mengenai mulusnya pipi Dendy. Dirasa ia mengenai sesuatu, Sekar membuka paksa matanya.
"Dendy? Maaf-maaf!" Sekar langsung duduk refleks ikut mengelus pipi Dendy yang kena pukulan tangannya.
"Tidak apa-apa, mandi gih!"
Sekar merasa tersentuh, Dendy begitu polos--ia sama sekali tidak marah walau Sekar tak sengaja memukulnya. Bahkan Sekar tidur semena-mena di rumah orang.
"Ternyata lumayan juga," katanya menahan sedikit nyeri.
Sekar baru sadar kalau ia tidak membawa pakaian ke kamar mandi. Beruntung dirinya belum melepas baju, Sekar berbalik untuk mengambil baju. Dilihat Dendy sudah tidak ada di kamarnya. Ia pun segera mandi.
Dendy bergegas ke dapur, ia biasa memasak sendiri. Meski masakannya sederhana tapi ia berusaha membuat seenak mungkin. Apalagi kali ini ia tidak sendiri, ada tamu (tidak diundang) di rumahnya. Dendy senang ada Sekar di rumahnya, sebab biasanya ia sendiri; sepi.
Puas menghabiskan waktu mengusir kantuk, Sekar langsung keluar. Ia sudah lapar. Langsung saja dia menuju ke dapur. Pemandangan yang ia lihat membuat hatinya merasa aneh. Dilihat Dendy sedang berperang dengan alat dapur. Merasa tidak enak, Sekar pun menghampiri.
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Sekar.
"Buat nasi goreng, kamau tunggu di sana aja," jawab Dendy.
Sekar hanya mengangguk, ia juga tak tahu harus membantu apa. Sama sekali di rumahnya ia tidak pernah masak. Sekarang ia benar-benar tak punya muka di hadapan seorang pria, dirinya tak bisa apa-apa.
'Mulai besok aku harus berubah,' batinnya.
Sekar menyadari apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia ternyata membuang waktunya yang begitu berharga untuk mengeksplor diri.
Lamunannya buyar saat nasi goreng terhidang wangi di depannya. Ia tersenyum, "Terimakasih, Kak."
Telinga Dendy terasa aneh mendengar panggilan Sekar. Baru kali ini Sekar sesopan itu. Tak ingin membuat ke-kiku-kan Dendy pun manggut lalu tersenyum.
Mereka menikmati makan malam dalam hening. Hanya paduan suara sendok dan piring yang terdengar. Tak jarang suara celegekan air memasuki kerongkongan. Tergambar jelas betapa nikmat nasi goreng yang dinikmati.
"Baru kali ini aku makan nasi goreng seenak ini," puji Sekar. Nasinya sudah tandas, begitu bersih tidak ada sisa sedikitpun meski hanya seiris bawang.
"Makasi, tapi ini seperti kebetulan saja." Dendy merendah. Ia sebenarnya sangat senang, baru kali ini ada perempuan yang memuji masakannya. Jelas saja, waktu pelatihan polisi ia hanya memasak untuk laki-laki.
__ADS_1