
Mobil mewah memasuki gang, waktu menunjukkan pukul delapan Waktu Indonesia Tengah. Para tetangga yang lewat tertegun, seakan berkata 'mobil siapa yang kali ini datang' karena sebelumnya mobil Sastra yang pernah datang.
Dyana tidak memberitahu orang rumah. Ia juga melarang Adit untuk mengabari, karena ia akan memberi kejutan. Dia juga akan meminta maaf pada ibu dan adiknya.
Mobil berhenti di ujung gang, tepatnya di depan rumah yang sederhana.
Dyana dan Adit keluar, ternyata orang di dalam rumah belum menyadari kedatangan mereka. Tidak lupa, barang yang dibeli ia bawa masuk ke rumah.
"Biar aku saja yang memanggil," pinta Dyana.
Adit nampak sangat antusias, ia sudah sangat lama tidak main ke sini. Matanya seakan meraba seluruh suasana saat ini, tapi yang ia rasakan suasana masih sama seperti saat dirinya meninggalkan rumah ini. Mulai dari halaman rumah hingga lantai rumah bahkan atapnya masih belum berubah dari dulu.
Ibu Dyana membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat Dyana sudah di depan rumah. Lebih tercengang lagi ia melihat pria yang sudah lama tidak dilihat.
"Dyana, Adit? Kalian kenapa tidak bilang kalau mau pulang sekarang?" Ibunya langaung memeluk Dyana lalu beralih memeluk Adit.
"Kejutan!" Dyana memeluk Ibunya. "Maafkan Dyana, Bu." Ia mempererat pelukan itu.
"Lia di mana?" Tanya Adit.
__ADS_1
"Dia sedang bermain," jawab Ibu. Mereka lalu disuruh masuk.
Sudah lama sekali Adit meninggalkan rumah yang telah menerimanya tiga tahun lalu. Ia tak henti-henti memandangi seisi rumah. Rindunya seakan membuncah bersaman dengan rasa kecewa yang kembali muncul pada orang tuanya. Namun, belum lama ia tenggelam dalam pikiran masa lalunya, Dyana datang membawa minum disusul ibunya yang nampak membawa senampan roti.
"Kak Dyana?" Seseorang tiba-tiba mengagetkan mereka. Ternyata Lia yang datang.
"Lia? Ternyata kamu sudah besar sekarang," ucap Adit. Ia nampak sangat tertegun, sepupu kecilnya sudah sebesar ini.
"Kak Adit? Kenapa kalian tidak bilang akan pulang sekarang?" Lia pura-pura kesal meski di hatinya sangat senang kakaknya sudah pulang.
"Kejutan!" Adit melebarkan tangannya mengisyaratkan Lia untuk memeluknya. Mereka berpelukan dengan erat.
Dyana tertegun, ia harus menjawab apa. Mungkin dia harus jujur.
"Sastra pulang duluan, Bu," Singkatnya.
"Tapi kenapa?" Ibunya tak berhenti bertanya seakan sangat khawatir dengan Sastra.
"Iya, aku bertengkar dengannya…." Kalimat Dyana terhenti, ia tak ingin menceritakan semuanya. Tapi, melihat ibu dan adiknya penuh tanda tanya ia akhirnya bercerita meski ada Adit. Karena memang ia menganggap Adit sepupunya, jadi Adit sudah seperti kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Aku bertengkar karena menolak Sastra, Bu." Cukup dengan mengatakan itu, ibu dan adiknya tentu mengerti apa penyebabnya. Namun, Adit yang penasaran tidak berani bertanya karena situasi yang tidak tepat.
"Ibu tahu, tapi tidak bisakah Dy bicara baik-baik padanya? Atau mungkin Dy sudah menjelaskan semuanya?"
Dyana menghela nafas panjang, "Mana mungkin Dy akan bilang pada Sas. Kalau dia tahu, maka dia akan sangat marah pada Sekar. Dan ujung-ujungnya kita bahkan Sastra akan menjadi korbannya." Dyana menjelaskan. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.
"Ayo silahkan minum tehnya," suruh Ibunya. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Dyana tidak emosi lagi, apalagi ada Adit di sini.
"Iya, Bu." Adit mencoba tetap tersenyum walau tidak tahu apa-apa. Penasarannya sudah semakin dalam terhadap hubungan Dyana dan Sastra.
"Oh ya, Dy kamu katanya mau ke sekolah. Biar Kakak antar," pinta Adit.
"Aduh! Aku sampai lupa. Memangnya tidak merepotkan?" Dyana merasa tidak enak.
"Tentu saja tidak. Lagi pula, Kakak 'kan alumni di sana juga. Walau cuma setahun," lanjutnya.
Dyana mengiyakan, di hatinya ada rasa gundah. Ia takut jika bertemu Sastra nantinya. Apa yang harus ia katakan. Ia ingin sekali meminta maaf.
'Semoga saja aku tidak bertemu Sastra.' Batinnya sambil mengganti baju.
__ADS_1