
Dyana merasa sudah seperti gembel sekarang ini. Dia menunggu orang yang benar akan datang atau tidak. Salahnya juga yang mengabari orang secara mendadak. Memangnya dia orang penting apa.
Hatinya semakin gusar, hari sudah makin gelap. Dan sudah satu jam dia menunggu sepupunya itu. Tapi belum juga menampakkan kehadirannya. Hingga lehernya benar-benar pegal menengok setiap mobil yang lewat.
Akhirnya Dyana memilih pasrah dan duduk di trotoar. Ponselnya menunjukkan pukul 19.00.
"Apa aku telpon lagi ? Ah, nanti dia bilang aku cerewet. Siapa tahu di jalan masih macet." Gumamnya sendiri.
Kriukk...
Betapa tak bersahabatnya, perutnya juga ikut meronta. Dy harus bagaimana ini.
Darr!
Lelaki bertubuh proposional dengan gaya mahasiswanya yang khas membuat jantung Dy serasa akan keluar dari dadanya saat ini juga.
Aditya Putra mengagetnya. Dan lebih mengagetkan lagi, wajahnya sangatlah berbeda daripada beberapa tahun lalu.
Kebiasaan Dy, dia melamun lagi.
"Hey! Aku udah sampai. Kamu kenapa, kok tercengang gitu?"
"I-iya." Dy masih saja tampak tak percaya.
"Kamu takut aku bukan Adit, ya?" Sambil merogoh saku celananya mengambil dompet, membukanya lalu memperlihatkan ktp-nya pada sepupunya.
"Eng-ngga aku percaya kok ini Kak Adit." Dy agak gugup.
"Lalu kenapa melongo seperti itu."
__ADS_1
Aduh! Jujur wajah Dyana tadi terlihat sangat dungu. Sedungu-dungunya.
"Tidak, hanya saja kakak sekarang sangat berbeda daripada waktu SMA dulu. Sekarang jauh lebih bersih dan dewasa." Kata Dy sambil tersenyum.
"Ahh, bilang saja sepupumu ini sangat ganteng. Gitu kan?" Goda Adit sambil tertawa.
Dy hanya membalas dengan tundukan sambil ikut tertawa.
Tapi tawanya tercekat sebab perutnya yang tadi merengek kini kembali meronta dengan lebih keras, hingga Dy spontan memegang perutnya.
Adit yang melihatnya langsung memegang bahu Dyana dan bertanya, "Kamu sakit perut?" Rautnya yang semula tertawa kini berubah cemas.
"Aku, A-ku lapar Kak." Kata Dyana sambil mengernyit seakan memamerkan giginya yang ginsul dan putih. Sebenarnya ia sangat malu mengatakan itu.
"Aduh... Kakak kira kenapa. Hampir saja jantungku melorot. Ya udah, kita makan dulu lalu pulang." Mereka pun bersiap ke tempat makan.
Sastra sudah setengah perjalanan menuju kota. Dia sangat hafal daerah yamg disebutkan oleh Ibu Dyana. Dulu dia TK sampai SMP tinggal di sana. Jadi, nol persen kemungkinan dia tidak menemukan Dyana.
Diiringi lagu Nike Mohede- Sahabat jadi Cinta. Sastra terus melajukan kecepatannya, namun tetap pada batas wajar.
Bulan terdampar di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata-mataku
*Saat pertama bertemu sewaktu kamu menabrakku dengan tidak sengaja di parkiran. Aku menolongmu tapi kau malah bengong. Saat itu aku merasa ada sesuatu aneh. Tapi harus ku singkirkan, sebab Sekar memanggilku. Aku langsung meninggalkanmu yang masih melongo. Ingatan Sastra sewaktu pertama bertemu Dyana.
Ada hasrat yang mungkin terlarang
__ADS_1
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
*Sebenarnya aku ragu pada perasaanku, aku ragu kalau kau malah tidak mencintaiku. Jadi, kutunggu waktu yang tepat itu. Pikir Sastra lagi.
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
*Meski tak aku katakan tapi aku memberikan perlakuan padamu Dy. Apakah kau tak menyadarinya. Pekik Sastra dalam hatinya.
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah napas yang tak bisa dusta Persahabatan berubah jadi cinta...
Begitu seterusnya hingga Sastra terus mengingat setiap momen-momen tak sengaja bertemu dengan Dyana. Sastra tersenyum sendiri, betapa konyol awal pertemuannya.
"Tunggu aku Dy. Aku akan mengungkapkan semuanya. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan terhadap Ayah dan Sekar. Tak akan ku maafkan mereka." Gumamnya dalam mobil.
__ADS_1