Hidden Love

Hidden Love
Pelukan


__ADS_3

Dyana masih mngerjap menyesuaikan cahaya cerah yang menusuk korneanya. Antara percaya dan tidak, dia melihat ada Sastra di sampingnya. Namun, rasa haus yang seperti mengikat kerongkongan membuatnya langsung meminta air. 


“Ini.” Sastra memberikan air dan meminumkan pada Dyana. 


Ibunya Dyana begitu senang dengan keadaan anaknya yang begitu sadar langsung aktif. Dia diam melihat membiarkan Sastra melepas rindunya pada Dyana. 


“Dyana, apa masih sakit?” Dyana yang masih belum percaya dengan adanya Sastra makin melototkan matanya. Membenarkan apa yang sebenarnya dilihat hari ini. Badannya serasa lelah. 


“Tidak, aku hanya merasa lelah. Kamu ... kenapa di sini?” Dyana memberanikan bertanya meski hatinya belum yakin kalau Sastra ada di Bali. Orang yang dicintainya itu ‘kan sedang di negara tetangga. 


“Sastra datang karena kamu Dy!” Kali ini ibunya menimpali menyentuh bahu Dyana dengan lembut. 


Dyana mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi terhadapnya. Dia bingung, bukan hanya ada ibunya tapi juga ada Dev, Merry, Sekar dan ...


“Kak Adit mana?” tanya Dyana. 

__ADS_1


Sastra merasa sedikit kecewa, tapi segera dihempas. Dokter dengan Adit mengekor di belakang mengalihkan perhatiannya. 


Dokter segera memeriksa kondisi Dyana yang ternyata mengalami perubahan begitu cepat. Padahal kondisinya kemarin-kemarin begitu mengkhawatirkan. Selepas itu dokter langsung undur diri. 


Adit hanya tersenyum menjaga jarak antara Dyana dan Sastra juga ibunya. 


“Maafin aku. Hm ... karena aku kalian jadi jaiuh-jauhan.” Sekar tiba-tiba langsung mendekati Dyana. Dia tersada kalau Dyana sedari tadi memandangnya bergantian dengan Sastra. Ia tidak ingin Dyana salah paham lagi. 


“Ancaman waktu itu hanya gertakan kok. Aku sudah mengikhlaskan Sastra, karena aku tahu Sastra hanya mencintai kamu Dy!” Sekar tidak malu-malu mengakui kenyataannya. Dia sekarang sudah lega mengatakan semuanya meski nanti akan dibenci. Yang jelas Sekar sangat merasa bersalah sudah berbuat seperti itu. 


Dyana melongo, tadinya dia pikir kalau Sastra datang bersama Sekar karena mereka kembali. Nyatanya dia salah, Sekar ternyata sudah berubah. Dyana perlahan memandang sendu ke arah ibunya, kemudian berganti melirik Sastra. 


Sastra tersenyum. Dia merasa bodoh karena tidak menyadari kalau penolakan Dyana kepadanya akibat dari ancaman Sekar. Dia ingin sekali membentak Sekar saat ini juga tapi dia tidak ingin merusak keadaan. Dyana begitu cepat memaafkan seseorang. 


Sekar memeluk Dyana pelan, dia takut mengenai perut Dyana. Dia begitu menyesal, kebaikan dan kesabaran Dendy membuatnya belajar dari sana. 

__ADS_1


“Apa kau memaafkan aku juga?” tanya Sastra memecah keheningan yang menyelinap di ruangan itu. 


Sekar melepaskan pelukan dan sedikit menoleh ke arah Sastra. Dia inginmyakinkan hatinya bahwa lelaki yang dicintainya tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya. Selama ini dia berjuang dengan cara salah. Bukan cinta yang ia dapat tetapi kebencian yang disusul kekecewaan. 


“Tentu!” Dyana membuka tangannya ingin melepas rindu dengan pelukan. Dia sadar ini salahnya yang tidak mau terus terang pada Sastra untuk berjuang bersama-sama. 


Sastra memeluk Dyana, rindunya yang menumpuk membuatnya tidak rela kalau pelukan berakhir. Adit tersenyum melihat mereka yang kembali bahagia. Berbeda dengan Merry juga Dev, mereka tidak sadar saling menggenggam tangan—menautakan menjadi satu. Harunya tidak tertahan, mereka seakan ikut bersaksi diantara kisah rumit Dyana dan Sastra. 


“Kau tidak ingin memeluk Kakakmu?” Adit sengaja membuat Dyana melepas pelukannya pada Sastra. 


Sastra memandang kesal ke arah lelaki yang pernah membuatnya cemburu. 


“Terimakasih, Kak Adit. Maaf kau merepotkan!” Dyana memeluk Adit dengan sayang. Dia tidak tahu nasibnya kalau buka Adit cepat-cepat membopongnya membawa ke rumah sakit. 


“Tidak. Ini semua bukan kemauan kita.” Adit melepas pelukan tersenyum pada Dyana. 

__ADS_1


“Kamu cepat sembuh makanya. Semuanya begitu setia menunggu kamu.” Ibu Dyana merasa cemburu tidak mendapat pelukan. 


“Peluk!” Dyana memeluk ibunya. 


__ADS_2