
Sastra tidak tahu apakah yang dilakukannya hari ini benar atau salah. Seharusnya dia tidak mengikuti permintaan Sekar. Kenapa dia bodoh sekali, kalau memang dia sebagai lelaki jantan harusnya dia bisa memberikan ancaman balik atau membuktikan bahwa ancaman itu tidak berlaku bagi dirinya.
"Apakah ini saatnya untuk mengakhiri semua permainan ini. Dan aku sudah tidak bisa berbohong lagi dengan perasaanku kali ini. Aku benar-benar mencintai Dyana." Sastra mengacak rambutnya frustasi. Lalu ia melajukan mobilnya menuju kota.
Ponsel orang yang bernama Adit berkali-kali dihubungi tapi tidak diangkat. Karena tak sabar akhirnya dia memilih langsung saja ke alamat yang dibilang Ibu Dyana.
Flashback on
Bip... bip
Ibu Dyana dengan segera keluar. Dia berharap anaknya ikut dengan mobil yang terpakir di depan. Selama ini Dyana tak pernah kabur dari rumah.
Ibu Dyana memiliki firasat kalau anaknya belum ditemukan. Sebab dari gelagat Sastra sudah dapat dilihat adanya tekanan.
Sastra berjalan dengan cemas, takut Ibu Dyana tidak terima dirinya belum menemukan putrinya. Belum sempat dia menyapa, perempuan di depannya bicara lebih dulu.
"Nak, lebih baik kamu istirahat saja di rumah. Lagian ini salah Ibu, kamu tak sepatutnya ikut bersusah seperti ini." Katanya tertunduk sedih dan kembali merasa bersalah.
"Saya tidak apa-apa Bu. Jujur saja, saya sangat menyayangi putri ibu. Jadi, sebaiknya Ibu istirahatlah."
"Terimakasih, Nak. Kamu memang anak yang sangat baik. Maafkan Ibu, semuanya jadi kacau."
"Kalau begitu saya pamit dulu." Lalu Sastra salim dengan begitu hormat dan sayangnya.
__ADS_1
Ibu Dyana langsung masuk tidak kuasa menahan air matanya. Ia malu menangis di depan orang sebaik dan sesabar Sastra.
Begitu Sastra akan masuk ke dalam mobil. Tetiba anak kecil memanggilnya.
"Kak Sastra, tunggu!" Anak kecil tersebut berlari menghampiri Sastra.
"Oh... Kakak pikir siapa. Kenapa, Dik?" Tanya Sastra pada Lia adiknya Dyana.
"Kak, aku mau cerita sesuatu tentang Kak Dyana."
"Ya udah, cerita saja. Semoga dengan ini kita bisa menemukan Kakak kamu."
"Sebenarnya Kak Dyana cinta dengan Kak Sastra. Sebab, sejak masuk ke SMA Kak Dy kadang bercerita dan bertanya soal cinta. Terus waktu Kakak ke sini pertama kali aku juga melihat kalau Kak Dyana sepertinya ada perasaan dengan Kak Sastra. Kak Dyana sudah lama suka dengan Kak Sastra. Bahkan mungkin sejak pertama sekolah di SMA." Begitu penjelasan Lia.
Deg!
"Lalu, apakah kamu tahu kemana Kakakmu pergi?"
"Tidak, kalau aku tahu mana mungkin aku tidak bilang." Jawab Lia.
"Kakak sudah mencari Kak Dyana ke semua teman kelasnya. Tapi tidak ada. Firasat kakak dia pergi ke kota. Apa ada keluarga Lia yang tinggal disana?"
"Aku tidak tahu jelas. Tapi, aku pernah dengar saat Ibu sedang berbincang dengan Kak Adit. Mungkin Kakak memang di sana."
__ADS_1
Sastra berpikir, berbincang? Itu artinya dia ke sini atau ditelpon? Dia bertanya kembali dengan Lia yang masih menatapnya seperti membantu berpikir.
"Ibumu berbincang di telepon?"
"Iya, dia ga pernah kesini sejak tamat."
"Lalu, kenapa kita tidak mencoba menelepon dia saja dan menanyakan Kakakmu?" Usul Sastra.
"Ayo Kak! Ibu punya nomer teleponnya."
Mereka akhirnya kembali masuk ke rumah itu.
~ Flashback off ~
***
Di pusat kota...
Sudah tiga puluh menit Dyana menunggu Kak Adit. Tapi orangnya belum muncul juga.
Dirinya sudah sangat lelah berdiri di samping jalan. Dia juga takut, sedari tadi seperti ada yang memerhatikan. Sungguh tak nyaman.
Disaat seperti ini dia jadi teringat Sastra. Biasanya dia yang membantu saat sulit seperti ini. Dyana memang harus menghilangkan perasaannya terhadap Sastra. Lagipula Sastra sudah kembali lagi bersama Sekar. Sudah tidak ada harapan lagi.
__ADS_1
"Haduh kakiku kesemutan. Aku sudah berdiri dua jam di sini." Dyana sudah tak bisa menahan tangisnya.
"Sepertinya aku sudah salah pergi ke sini." Imbuhnya lagi.