Hidden Love

Hidden Love
Meminta Pada Ayah


__ADS_3

Masih di kediaman Darma, terlihat dari luar penjagaan begitu ketat. Namun, sebuah mobil mewah dengan bebasnya masuk tanpa halauan. Sastra masuk tanpa memerhatikan para penjaga. Ia turun dari mobil dan langsung masuk dengan semburat amarah di wajahnya.


Dev dan Merry yang melihat kedatangan orang yang sekarang sudah jadi teman langsung menuju ke ruang kerja Ayahnya. Mereka tak berani menyapa.


Ceklek.


Bunyi seseorang membuka pintu, Darma pun menoleh melihat siapa gerangan yang menganggunya. Dilihat anak satu-satunya masuk. 


"Sas, kamu darimana saja." Tanya ayahnya.


Padahal sebenarnya Darma sangat mencintai anak semata wayangnya apalagi ibunya sudah meninggalkan mereka. Sastra pun sebenarnya sangat sayang pada Ayahnya tapi karena lelaki itu terlalu gila bekerja, Sastra jadi muak. 


"Kota." Sahutnya pendek.


"Kenapa kamu jutek seperti itu?" Tanya Ayahnya yang tumben halus dan perhatian selayaknya Sastra adalah putra kecilnya.


Sastra terpaksa mengutarakan isi hatinya juga maksudnya sampai ke ruangan ini.


"Yah…" Sastra kemudian seperti menimang lalu melajutkan perkataannya lagi.


"Apa Sastra boleh minta sesuatu?" Tanyanya pelan.


Kali ini Darma yang awalnya duduk di depan komputer beralih ke sofa tempat Sastra duduk.

__ADS_1


"Minta saja. Toh ayah selalu memberikan apa yang kamu mau." Terang ayahnya sambil tersenyum.


"Sastra mau sekolah di luar negeri, Yah." Sambil memandang ayahnya agar meyakinkan.


"Hah? Apa Ayah tidak salah dengar? Dulu kamu pengen sekolah di daerah sini saja. Tapi kenapa tiba-tiba minta yang jauh?" Kata Darma diselipi tawa heran. Ia tahu putranya pernah minta berkuliah di daerah tinggalnya karena perempuan di desa ini.


"Itu kan dulu. Sekarang Sastra maunya sekolah di universitas yang bagus agar pintar seperti Ayah." Jawab Sastra seakan merayu lelaki tua di depannya.


"Bukannya ayah tidak setuju. Tapi hanya heran saja, apa kamu benar-benar menginginkan bersekolah d isana?"


Sejak kapan Ayahnya sepeduli itu dan kenapa hati Sastra menjadi ragu saat ditanyai begitu.


Dia sebenarnya ingin melupakan semuanya yang ada di sini termasuk permasalahannya dengan Dyana. Dia ingin pergi sejauhnya. 


"Baiklah." Pak tua itu hanya manggut-manggut sambil tetap tersenyum.


"Oh ya, Sastra maunya pergi besok. Anggap saja untuk beradaptasi. Lagi pula Sastra sudah tahu mau bersekolah di universitas apa. Jadi boleh kan, Yah?" Tanyanya lagi.


Darma agak sedikit terkejut. Anaknya memang begitu, apa yang diinginkan langsung minta dikabulkan. 


"Oke, terserah kamu saja. Ayah tidak masalah untuk itu yang penting kamu, Sas." Kata Dharma setuju saja.


"Terimakasih, Ayah." Sastra pun memeluk Ayahnya. Baru kali ini ia seperti ini.

__ADS_1


Baru ingin melangkah pergi, Ayahnya kembali bertanya.


"Oh ya, bagaimana urusan tentang cewek kamu? Udah kelar?" 


Sastra sontak menghentikan langkahnya.


"Cewek?"


Sastra heran, apa ayahnya tahu ia mencari Dyana ke kota.


"Iya, Si Sekar itu. Ayah tak menyangka kelakuan anak itu. Dia sangat kurang ajar!" Kata Darma berdiri.


"Oh, ternyata Ayah baru menyadarinya. Kan aku sudah bilang, Sastra tidak suka kelakuan cewek itu. Tapi, Ayah malah menjodohkan Sas dengannya. Dia sudah Sas anggap tidak ada." Jelasnya kemudian berlalu seakan malas membahas tentang Sekar.


"Baguslah. Sekarang aku sadar. Beruntung Sastra tak sebodoh aku." Gumamnya sendiri menyesali kebodohannya.


Sastra sangat senang Ayahnya mengabulkan permintaannya. Dia akan meninggalkan hingar bingar kehidupannya di sini. Termasuk urusan cewek sekali pun. Sastra harus bisa melupakan Dyana. Mungkin bukan takdirnya untuk bersatu dengan Dyana.


Meski masih sakit untuk melupakan penolakan Dyana. Sastra tetap berpikir jernih, bahwa semua ini memang sudah takdir. Walaupun begitu ia sudah terlanjur sayang dengan keluarga Dyana kecuali sepupunya itu.


Sastra bisa menebak kalau sepupu Dyana yang di kota memiliki perasaan pada cewek incarannya. Dilihat dari caranya memandang dan perhatiannya. Semua bisa saja terjadi, sebab orang itu adalah garis keluarga dari Ibunya Dyana bukan Ayah Dyana. Mereka sepupu jauh. 


Mengingat semua itu Sastra jadi semakin sakit. Baru kali ini ia ditolak oleh seorang cewek. Sungguh dia sangat kecewa.

__ADS_1


Sastra pun memilih membaringkan tubuhnya pada kasur super besar itu. Dia sangat lelah mengejar apa yang tak pasti.


__ADS_2