Hidden Love

Hidden Love
12. Ngeliatin


__ADS_3

Yuli memandang intens dan matanya bergerak mengikuti Angga. Lelaki itu tampak masih lemas, membuat Yuli sedikit khawatir. Namun, dia menyangkalnya.


Angga berjalan ke arah bangkunya, dimana Jani sudah diam disana. Teman sebangkunya Angga itu tampak menyapa Angga dan dibalas hanya dengan anggukan oleh laki-laki itu. Tanpa melepas jaket atau tasnya, Angga langsung menelungkupkan kepalanya pada lipatan lengannya di meja. Sementara, Jani menatap laki-laki itu sekilas sebelum kemudian tidak melakukan apa-apa termasuk bertanya.


Yuli menggigit bibir bawahnya, merasa bingung. Haruskan ia menghampiri Angga? Kemarin sewaktu menjenguk, Yuli tidak punya kesempatan untuk mengobrol dengan laki-laki itu karena Angga sibuk meladeni Gamers Kelas.


Kemarin, Angga terlihat sehat lagi setelah Dzikya berceloteh dengan dramatis perihal sepinya dia karena Angga tidak sekolah, Angga yang tampak shock ketika Hada menjabarkan satu persatu jadwal endorse yang bakal dilakukan Gamers Kelas dalam waktu dekat dan tertawa karena Latif terus-menerus membuat Hada kesal.


Yuli tidak seberani itu untuk menyela dan ikut bergabung seperti Widia dan Hana. Dia hanya mengamati dari sofa, disebelah Dian yang masih tertidur.


Makanya sekarang dia bingung, dia ingin menghampiri Angga dan bertanya perihal keadaan laki-laki itu. Tapi, Angga kelihatannya tidak berminat apapun.


"YULI!" Jani teriak begitu saja, membuat Yuli tersentak dan mengalihkan pandangannya dari Angga ke teman sebangkunya. Angga juga tampak tersentak dan sempat melihat ke arah Jani kemudian ke arahnya sebelum kembali menenggelamkan wajahnya pada lipatan lengan.


Jani berdiri dari kursinya, memanfaatkan ruang kosong yang ada di belakang kursi Angga untuk keluar dari bangku mereka. Tidak jauh dari Angga, perempuan itu masih memakai jaket dan tasnya. Dia menghampiri Yuli yang memandangnya dengan raut bertanya.


"Mau nyamperin Angga kan? Sana gih, tukeran dulu duduknya sama gue. Lo khawatir kan sama dia?"

__ADS_1


Yuli langsung menggeleng panik, "A-ah nggak kok Jan, Lo duduk aja sana. Capek pasti," jawab Yuli langsung.


"Yakin? Kelihatan kali Lo khawatir, kenapa? Gengsi?" tanya Jani lagi, kali ini dengan datar, seperti Jani yang biasanya.


Yuli menggeleng keras, matanya bergerak menghindari bertemu tatap dengan teman sebangku Angga ini, "N-nggak kok! Kata siapa?"


Jani tersenyum miring, "Oh gitu? Yaudah. Lo gak usah salting kali, ini cuma temen sebangku Angga bukan Angganya," ucap perempuan itu kemudian berbalik dan kembali berjalan ke arah bangkunya. Masih dengan cara yang sama, lewat ruang kosong dibelakang Angga. Mungkin Jani memang tidak mau menganggu laki-laki itu.


Tetapi, Yuli sempat melihat kalau Jani tampak berbisik ke Angga dan itu membuat Angga langsung terduduk tegap dan menatapnya dengan raut yang tak bisa Yuli artikan, sementara Jani tersenyum kecil padanya.


"Ga, Yuli keknya mau ngomong sesuatu ke Lo, daritadi ngeliatin Lo mulu."


Angga memandang kosong ke arah depan, ini sudah jam pulang namun banyak yang masih di kelas lantaran di luar hujan.


Kebanyakan anak kelas memilih untuk menunggu hujan reda di kelas, meskipun beberapa juga ada yang memilih untuk menerobos hujan. Angga memilih menunggu di kelas, karena bagaimanapun dia baru saja sembuh dan tubuhnya masih lemah dan mungkin saja meskipun dia hanya menerobos hingga ke parkiran untuk mengambil mobil, dia tetap kehujanan dan berakhir sakit lagi. Jadi dia cari aman saja.


Matanya yang semula menatap papan tulis kini beralih menatap Yuli yang tampak seru mengobrol dengan teman sekelompoknya.

__ADS_1


Yuli menjadi yang paling sering tertawa, memang selucu itu cerita Kia dan Yuli tampak menghayati sekali.


Entah karena apa, tapi Yuli tiba-tiba menatap ke arahnya, membuat kedua pasang mata itu menjadi saling teradu.


"Dari mata, buat ku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hatimu~" Suara Latif yang menyanyi membuat Angga langsung menoleh sebal. Memang keempatnya sedang berkumpul untuk melaksanakan kegiatan rutin mereka, iya mereka main games. Angga diam karena dia kalah duluan, lihat layar ponsel lama-lama membuat dia menjadi pusing.


Meskipun Latif menyanyi dan tak melemparkan pandangannya ke arah lain termasuk pada Angga dan hanya fokus pada ponselnya, membuat Angga sedikit bergidik ngeri.


"Asek asek!" sahut Dzikya kemudian, entah untuk permainannya atau nyanyian Latif.


"Samperin dong jangan cuma dilihatin. Tuh kan Dzik, jadi kalah soalnya keburu direbut lawan!"


Angga tahu, kalimat yang Yuli barusan itu sindiran, intinya itu buat Dian bukan untuk gamenya.


Angga cuma berdecak malas, ketika Dzikya dan Hada melanjutkan nyanyian Latif.


Kapan mereka tidak bobrok sih?

__ADS_1


__ADS_2