
Dua sejoli tengah asik mengobrol di kerumunan sebuah restoran. Mereka tak menghiraukan kebisingan sekeliling, yang terpenting mereka bisa bersama hari ini. Mereka adalah Merry dan Dev. Wajah keduanya sangat bahagia. Merry yang pipinya sedari tadi memerah dan Dev memegang erat tangan Merry. Semburat bahagia tak bisa lagi disembunyikan. Keduanya seakan baru dilepas dari kandang yang membelengu.
"Apa?! Kau ternyata diam-diam mencuri pandang dari ku?" Merry tertawa lepas mendengar pengakuan Dev. "Kau kena pasal pencurian, Dev," katanya. Merry semakin tertawa saat Dev pura-pura kesal.
"Aku hanya bercanda, hanya saja aku tak percaya kalau kau memang benar-benar suka padaku," ucap Merry. Sedari tadi tertawa lepas membuatnya matanya sampai mengeluarkan air.
Dev kali ini memegang tangan Merry lebih meyakinkan. Sontak membuat Merry hilang kata untuk melanjutkan candaannya, sekarang ia tiba-tiba gugup setengah hidup karena mimik pandangan Dev sangatlah serius. Ia merasa ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan. Pantas saja Dev memaksa untuk ikut, beruntungnya dia tinggal di rumah Sastra untuk sementara menemani Sekar.
"Merry…."
Kedua bola mata Dev makin memandang lekat, seakan ia begitu mengagumi mahluk di depannya. Merry ikut memandang meski rasa malu bercampur gugup sudah membuncah pada wajahnya saat ini.
"Merry, mungkin kamu tahu kalau aku ini orang bejat yang pernah ada sepanjang hidup kamu. Bahkan aku sangat bersyukur kamu menerimaku apa adanya…."
__ADS_1
Dev diam, Merry tak menjawab.
Aku ini cuma manusia yang dipungut oleh Flore dan dijadikan bawahan sesukanya. Aku tidak punya keluarga apalagi orang yang benar-benar menyayangiku. Dan teganya aku menghancurkan banyak perempuan walau bukan mauku tapi aku tetaplah salah," lanjut Dev.
Merry hanya menegang, tiba-tiba ia ingin menangis mendengar pernyataan Dev. Ia tidak berani bertanya pada orang di depannya sejak dulu karena dikenal bengis bahkan ditakuti. Padahal wajahnya begitu tampan dan tidak cocok berlaku jahat. Merry masih tak tahu harus berkata apa.
Dulu, sewaktu pertama kali ia memijakkan kaki di rumah Flore, Dev adalah orang yang paling ia takuti. Bahkan, untuk menyapa atau sekedar melihat kelebat bajunya saja takut. Bagaimana tidak, Merry adalah perempuan yang hanya tamat SMA. Ia terpaksa bekerja di rumah Flore karena kelilit hutang. Dan di desa sangatlah sulit untuk menemukan pekerjaan. Jadi, Merry terpaksa harus bekerja di sana untuk menyambung hidup.
Jantung Dev menegang saat Merry mengeluarkan kata-katanya dengan tatapan kosong ke arahnya.
"Kamu tahu kenapa? Karena wajahmu sama sekali bukanlah orang jahat. Dan aku tahu itu. Aku mencoba percaya bahwa yang melakukan penghukuman itu bukan diri kamu, tapi semakin hari teman sepekerjaku semua lenyap dan itu karena kamu. Hingga logikaku mulai percaya kalau kamu adalah orangnya. Namun, hatiku tak pernah mau untuk membencimu. Malah aku jadi benci diriku sendiri yang tak patuh," lirih Merry.
"Sampai akhirnya aku jatuh dalam perangkap cintamu dan mengaku telah berubah. Dan aku menerimamu apa adanya." Merry sekarang malah tersenyum dan bangun lalu memeluk Dev. Ia tahu sekarang, kalau Dev juga mengalami hidup yang sulit. Seharusnya bisa mengubah Dev sejak dulu. Kenapa baru sekarang ia bisa.
__ADS_1
Dev makin terharu dengan penerimaan Merry. Ternyata ia memang bener menabur rasa pada wanita di depannya. Mereka pun berpelukan sangat erat, seakan badai pun tak bisa melepaskan.
Dev melepas pelukan dengan lembut, sangat lembut hingga Merry tak merasakan. Mereka duduk kembali.
Dev mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Ia tersenyum paling manis nan menggoda sepanjang perjalanan hidupnya.
"Maukah kamu menikah dengaku?"
Deg.
Merry percaya setengah tidak. Ia tak menyangka Dev akan melamarnya hari ini. Pantas saja hatinya bergejolak seakan memberi sinyal.
Merry menitikkan air mata karena Dev adalah yang pertama dan yang akan menjadi terakhir. Merry hanya mengangguk menangis senang terharu. Cincinn dipasangkan, mereka kembali berpelukan. Malam ini adalah malam yang paling indah baginya.
__ADS_1