
Dyana memulai harinya, dia sangat senang ternyata bisa bekerja di restoran milik sepupunya. Tidak terasa ternyata perjalanan hidupnya bisa sampai di sini. Sejak kecil, ia bercita-cita bisa bekerja di kota. Dan sekarang mimpinya terwujud. Dengan itu, Dyana tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya.
"Kak, aku berangkat sekarang." Dyana langsung salim dengan kakak sepupunya. Walau Adit yang punya restoran, tapi dengan persetujuan keduanya--Dyana diterima menjadi pengantar makanan, waitress. Mereka juga tidak berangkat bersama, Adit pun harus berkuliah. Dia baru menempuh semester enam. Jadi, Dyana berangkat menaiki ojek online.
Baru kali ini Dyana benar-benar memperhatikan jalanan kota, memakai motor ternyata lebih bagus. Dia bisa menikmati udara pagi secara langsung. Perjalanan hanya lima belas menit, Dyana pun sampai di tempat kerjanya. Masalah pendaftaran sekolah--semua diurus oleh Adit. Dia sangat senang dibantu oleh kakaknya.
"Ini, Pak." Dyana memberikan selembar uang lalu berlalu masuk ke bangunan yang minimalis itu.
Sambutan hangat menyapa Dyana yang baru masuk restoran. Ia seperti mendapat hidup baru saat ini, perjuangannya akan dimulai lagi.
"Semangat semua!" Walau belum akrab--Dyana menyemangati semua temannya.
"Kami senang bisa bekerja dengan sepupu bos." salah seorang wanita sebagai koki cekikikan mengetahui kebenaran tentang Dyana. Jam segini belum ada pelanggan yang datang. Mereka mengobrol sambil memantapkan persiapan untuk menempur pekerjaannya.
"Woe! Pagi-pagi udah ngerumpi aja." Seorang pria tiba-tiba datang ikut nimbrug tanpa permisi. "Ikutan dong!" katanya sambil nyengir.
"Alahh! Makanya jangan sok! Taunya ikutan juga. Satya si bencong!" Wanita bernama Mira langsung meledeki temannya itu.
"Tapi kamu ngga ngadu 'kan kalau kita pagi-pagi udah ngerumpi," tanya Mira pada Dyana yang sedari tadi hanya tersenyum melihat kelakuan teman barunya.
"Ngga kok, lagian emang belum ada pelanggan sepagi ini," sahut Dyana.
Mereka bertiga asik berbincang-bincang tentang pengalaman mereka selama bekerja dengan Adit. Menurut penuturan Mira dan Satya, bosnya itu begitu baik. Memang dia belum pernah marah meski ada karyawan yang berbuat salah, tapi meski begitu para karyawan tetap hormat pada atasannya.
"Aku mau nanya dong, gimana sih rasanya punya sepupu punya restoran terkenal kaya gini?" tanya Satya disela obrolan dua wanita disampingnya.
Tanpa aba-aba Mira menoel jidat Satya. Ia tahu betul temannya satu ini selalu bertanya hal bodoh. Tapi, Satya pintar memasak. Pekerjaan mereka sama sebagai koki di restoran itu.
__ADS_1
Dyana tersenyum, "Biasa kok, Kak Adit itu menyenangkan kalau diajak," sahutnya.
"Lagian nanyanya kaya gitu." Mira kembali menghakimi Satya.
"Udah ngga apa-apa," jawab Dyana.
Sedang asyik mereka mengobrol di bangku pelanggan. Tiba-tiba seseorang masuk ke restoran. Pakaiannya begitu asing, bak orang Jepang.
Langsung saja mereka bertiga berhamburan saat tahu ada seseorang masuk.
Dyana langsung saja menyambut karena teman mereka yang lain masih belum datang.
"Halo, selamat datang!" Dengan senyum paling manis Dyana menyambut pelanggan pertama.
"Hello!" jawab pelanggan itu dengan aksen bukan orang Indonesia.
"Ini menunya!" katanya dalam bahasa inggris.
Dyana masih berdiri dengan note kecil juga bolpoin di tangannya.
"Ini apa, ya?" tanya pelanggan berwajah khas Jepang itu.
Dyana langsung menjelaskannya, beruntung dia tahu apa yang ditanyakan orang tersebut. Karena memang yang ditunjuk adalah makanan khas bali yaitu lawar.
"Oke, saya ingin coba yang ini." Tunjuk pelanggan tersebut dan Dyana langsung mencatat. "Kalau yang ini biasa dinikmati dengan nasi, Tuan." Dyana menjelaskan--pelanggan itu mengangguk setuju.
"Apa yang Anda pesan untuk minum?" tanya Dyana tetap tersenyum.
__ADS_1
"Es kelapa muda," sahutnya.
"Harap bersabar menunggu!" Dyana langsung menuju ke dapur untuk memberikan pada Mira dan juga Satya yang sudah bersiap siaga.
"Cepetin ya! Biar dia merasa puas dengan pelayanan kita." Dyana khawatir takut pelanggan menunggu lama.
"Tenang Dy! Kita udah biasa kok." Mira mencoba menasehati karena memang dia sudah biasa melayani para tamu yang kadang membludak. Restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia sampai Asia hingga menu kebarat-baratan membuat restoran selalu ramai.
Setelah itu satu per satu teman sepekerja mereka datang langsung mengambil tugas. Sebab pelanggan mulai berdatangan.
Hidangan pun sudah siap beberapa menit kemudian. Dyana langsung mengantarkan. Selepasnya mengantar makanan pada pengunjung lainnya juga, ternyata benar restoran mulai ramai pengunjung. Terbukti meja-meja sudah terisi setengahnya.
Belum sempat duduk, Dyana kembali dipanggil pelanggan yang pertama datang. Ternyata dia sudah selesai makan dan meminta bill.
Diberikan total pesanan dan segera diberikan beberapa lembar uang kertas.
"Ini tip untuk kamu." Pelanggan tersebut menyerahkan pisah uang bill dengan tip. Meski ia terlihat seperti orang Jepang yang dikenal tidak memberikan tip pada waitress, tapi orang itu nyatanya memberikan tip pada Dyana. Karena pengalaman pertama--Dyana hanya menerima saja pemberian pelanggannya.
"Mohon maaf, apa saya boleh minta tolong?" tanya pelanggan itu lagi.
"Tentu," sahut Dyana.
"Perkenalkan, saya Yamada Tayashaki dari Jepang. Panggil saja Yamadha, saya baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Tujuan ke Bali selain berlibur juga mencari pengetahuan baru. Jadi, saya boleh minta kontak Anda apabila saya ingin bertanya tentang kebiasaan dan budaya orang Bali?" perkenalan panjang lebar Yamada memakai bahasa inggris. Dan mengutarakan maksudnya minta tolong. Beruntung Dyana tamat jurusan bahasa.
"Tentu saja boleh." Sejenak Dyana ber-oh dalam dirinya membenatkan pikirannya bahwa pelanggan pertamanya adalah orang Jepang.
Dyana memberikan nama instagramnya pada Yamada. Mereka pun bertukar nama instagram agar saling percaya. Setelah itu, Yamada memohon permisi. Kehadiran orang Jepang itu membuat Dyana kembali ingat Sastra yang sekarang di Jepang.
__ADS_1
'Apa Sastra masih punya perasaan sama aku?' lagi-lagi batin Dyana bertanya.