
Sastra kembali ke rumah dengan berkas-berkas di tangannya. Baru saja ia akan memijaki tangga, Ayahnya sudah di depannya.
"Ayah?" Sastra refleks memanggil karena ia fokus berjalan melihat langkahnya.
"Kamu sudah siap?"
Lagi-lagi Sastra hanya menjawab dengan diam.
'Kenapa kamu ragu Sas!' Hati Sastra memekik.
"Apa kamu sudah siap benar-benar pergi dari desa ini?" Darma memperjelas pertanyaannya lagi. Dia ingin memastikan anaknya. Dia tersenyum miring melihat anaknya.
"Kalau kamu memang benar-benar siap, ayo Ayah antar sekarang," ucapnya lagi.
Saatra memegang tangan Ayahnya yang hendak berjalan ke depan. Sastra memang tidak berbicara, tapi gelagatnya menyuruh tunggu!
__ADS_1
Darma berbalik, "Ayah tahu kamu masih belum rela." Sambil menepuk bahu anaknya, "Coba kamu pikirkan lagi, Ayah tahu hatimu belum rela," lanjutnya. Lalu, Darma malah masuk kembali ke dalam rumahnya. Gertaknya tadi seakan agar Sastra memantapkan pikirannya untuk benar-benar pergi atau menyelesaikan semuanya di sini.
'Bagaimana Ayah bisa tahu apa yang terjadi padaku. Apa dia diam-diam memata-mataiku.'
Sastra masih diam di tempat, ia berpikir keras sejalan dengan hatinya yang sedang bimbang.
Flashback
*Saat Sastra diam-diam melihat Dyana duduk di belakang di dalam mobilnya lewat kaca spion.
*Lalu saat Dyana dipojokkan oleh teman sekelasnya, Sastra merasa sangat marah.
*Bukan saat menangis, Sastra juga melihat Dyana sangat bahagia. Itu ketika mereka naik angkutan umum bareng. Apalagi ketika naik ojek, dia dan Dyana tetap berbincang meski terpisah tempat duduk.
Tanpa ia mau, bibirnya tersenyum. Ingatannya bersama Dyana tidak mudah dilupakan dan mungkin tak terlupakan.
__ADS_1
"Aku harus ke sana sekarang, ini akan menjadi terakhir kalinya aku menyatakan cinta." Sastra langsung menuju ke mobilnya lagi dengan masih membawa berkas. Ditaruhnya barang itu di dashbord mobil.
Mobilnya pun melaju ke rumah Dyana. Ia tidak ingin menyesal sebelum benar-benar yakin kalau Dyana memang tidak mencintainya.
Dalam perjalanan Dyana menceritakan semua kisahnya bersama Sastra. Mulai daribawal pertemuan mereka hingga sampai ia bertengkar di kota saat itu. Adit tentu bukan krang yang bodoh, ia mengajak Dyana makan dulu ke salah satu lesehan di desa itu. Adit tidak ingin kalau Dyana pulang dengan wajah sembab.
Sastra sudah sampai di rumah Dyana. Ia sangat senang,entah kenapa hatinya seperti sangat merindukan tempat ini. Tenpat dimana dirinya diterima secara suka cita pada malam itu. Sastra menghela nafasnya lalu masuk ke halaman.
Diketuknya pintu tersebut dengan pelan. Ibu Dyana membuka pintu, ia sangat terkejut kedatangan anak yang telah menolongnya waktu itu. Anak yang mengatakan cinta pada anaknya. Ya, dia sudah tahu kalau Sastra menyukai Dyana. Karena Sastra sendiri yang bilang begitu.
"Sastra?" Miya mempersilahkan anak muda di depannya duduk dengan wajah tak henti tersenyum. Dia sangat senang Sastra kemari lagi.
"Ibu mau buatkan minum dulu," ucapnya. Sastra hanya bisa mengangguk, ia tidak ingin mengganggu kesenangan Ibu dari orang yang ia cintai. Bagaimana tidak, dilihat dari sambutannya sudah sangat terlihat kalau wanita di depannya sangatlah senang. Sastra mulai merasa kalau Dyana bum pulang sebab tak ada orang yang bergeming sedikit pun.
'Dyana, apa kamu sudah pulang dari kota? Kalau sudah, Dyana pulang dengan siapa? Apa dengan lelaki itu.' Perasaan Sastra berperang sendiri.
__ADS_1
Di dalam sana, Ibu Dyana sangat sibuk menyiapkan hidangan. Hatinya berdebar-debar. Entah karena senang atau bagaimana. Yang jelas hatinya antara khawatir dan gugup kalau saja Dyana nanti bertemu dengan Sastra.