
Disisi lain mobil hitam yang begitu mewah sedang memasuki perumahan Djati Dharma. Disana adalah tempat kediaman Adit selama ini.
Adit bekerja sambil kuliah, beruntung dia mendapat beasiswa penuh dari salah satu yayasan. Walau begitu dia harus bekerja untuk makan sehari-hari dan memenuhi kebutuhannya.
Adit pintar memodif motor balap ataupun aksesoris mobil. Karena itu, diusianya yang baru dua puluh tahun dia sudah bisa menyicil rumah dan membuka satu restaurant.
"Dyana...Dyana, kamu lucu sekali kalau tidur. Kamu ini wanita kuat dan mandiri. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan sukses." Kata Adit sambil melirik Dyana bergantian dengan melirik jalan.
"Rumah kamu bagus juga, tinggal sama orang tua apa gimana?" Sastra bertanya-tanya.
"Dulu orang tua tinggal disini. Tapi, karena ada tugas di Jawa jadinya aku tinggal sendiri di sini."
"Oh..." Suara kecil namun masih bisa didengar Dita.
"Aku ganti baju dulu. Kamu tunggu aja di sini."
"Okey." Sambil melihat-lihat design rumah Dita.
__ADS_1
Sastra merasa bosan, dia lalu keluar. Dilihatnya mobil mewah lewat di depannya menuju rumah disana. Entah kenapa, Sastra terus memperhatikan mobil itu hingga menuju ke rumah nomor 18.
Bukankah itu rumah nomor 18. Berarti penghuninya adalah salah satu nama Aditya Putra. Sastra terus memerhatikan mobil tersebut.
"Akhirnya sampai juga. Eh, dia masih tidur juga. Pasti Dyana sangat lelah. Maaf ya terlalu lama menjemput." Adit seakan berbicara dengan orang terjaga.
Karena tidak tega membangunkan, akhirnya dia memilih untuk menggendong Dyana. Dilepasnya sabuk pengaman Dyana. Lalu dia keluar untuk membuka pintu mobil disebelah sepupunya.
Sastra sangat bisa melihat mobil yang tadi lewat, bagaimana tidak rumah itu menghadap arah jalan. Bahkan semua bagian depan rumah dapat dilihat Sastra. Dilihatnya mobil itu masih diam di tempat setelah sampai. Lalu, pemiliknya turun membuka pintu di sampingnya. Nampak sekali dia sedang membawa orang di dalam sana.
"Ternyata dia cantik dan imut. Ini karena aku tidak pernah ke kampung." Adit tersenyum sendiri.
Diangkat perlahan badan Dyana yang tidak terlalu besar. Dan akhirnya bisa karena ukuran mobil yang besar dan nyaman.
Sastra makin lekat memperhatikan, dia tergelak saat pria yang membuka pintu lalu mengangkat seorang perempuan. Tunggu, Sastra seperti mengenali perempuan itu. Dia mengerjap lalu memperhatikan lagi dengan lebih seksama. Tidak salah tapi bukan. Itu pasti bukan Dyana.
"Kalau itu sepupunya, kenapa justru terlihat cocok menjadi sepasang kekasih." Sastra menggelengkan kepalanya melihat kejadian di depannya.
__ADS_1
Percaya tidak percaya, ada rasa cemburu menghampiri hatinya. Meskipun ia tahu itu sepupunya Dyana. Namun hanya sepupu jauh dari kerabat ibunya. Bisa saja mereka saling suka lalu berjodoh.
Sastra mencoba menahan rasa aneh yang menjalar di hatinya. Tujuannya ke sini adalah untuk menjemput Dyana demi Ibunya bukan untuk hal lain. Dia harus tetap pada tujuan itu.
"Besok aku pastikan kau akan ikut denganku." Sastra bergumam sendiri meyakinkan dirinya.
"Badannya kecil tapi berat juga. Dyana benar-benar seperti anak kecil." Katanya sambil terus berjalan ke dalam rumah menggendong sepupunya.
Sastra tetap menyaksikan pemandangan itu, dia ingin tahu seberapa jauh perlakuan sepupu Dyana.
Sedang asik dia menyaksikan adegan romantis tiba-tiba Dita mengejutkannya.
"Hey, jadi ngga kita ke rumah Aditya?" Dita rupanya sudah selesai mengganti pakaian.
"Ngga deh, aku pulang dulu ya. Rumahku dekat sini juga kok."
Sastra memutuskan ke rumah lamanya. Di sana memang rumah kosong dan hanya dibersihkan oleh salah satu pesuruh. Dia lebih baik segera pergi dan kembali lagi besok. Yang terpenting dia tahu dimana Dyana sekarang sudah sangat melegakan, apalagi keadaannya baik-baik saja.
__ADS_1