
Semuanya sudah siap untuk berangkat, sudah berkumpul tinggal menunggu wali kelas dan bis saja. Anak-anak kelas 11-C dan kelas 11-H juga sudah kumpul semua. Kenapa ada kelas 11-H?
Itu usul dari Kia, karena rasanya bis akan terasa kosong kalau hanya mereka bertiga belas yang mengisinya. Itu karena Dian dan Dzikya hanya ikut saat pulangnya, mungkin kalau ada mereka berdua bis akan terisi lima belas orang.
Alasan kenapa kelas 11-H yang dipilih, itu karena jadwal olahraga mereka bersamaan, membuat dua kelas ini cukup akur dan terbiasa bersama. Jadi, rasa canggung antara dua kelas ini tidak begitu terasa. Nilai tambahnya, banyak diantara kelas 11-C dan 11-H yang saat tahun pertamanya satu kelas.
Hanya saja, kelas 11-H tidak bisa ikut menginap di rumah Bu Rere, karena tidak cukup. Untungnya, Bu Rere punya kenalan yang bersedia menampung mereka selama liburan. Jadi penginapan kelas 11-H tidak terlalu jauh dari mereka.
"Perjalanannya jauh, yang suka mual bawa kresek. Terus, kalian bawa obat-obatan pribadi kan?" Tanya Pitri dengan tangan sibuk memberi tanda 'ceklis' pada nama temannya, dia sedang mengabsen. Dan dijawab dengan sorakan 'iya'.
"Jani, bensinnya full kan?" Tanya dia lagi kemudian diangguki oleh Jani.
"Udah kok, sans."
"Bentar lagi bisnya nyampe Pit," ucap Dhimas sedikit keras.
Pitri mengangguk paham, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menghubungi Bu Rere yang tampaknya masih dijalan. "Bu Rere juga udah mau nyampe, dia bawa kendaraan sendiri juga," ucapnya setelah mendapat kabar dari sang wali kelas.
Gak lama setelah itu bis mereka datang, dan dilanjut oleh mobil Bu Rere. Bu Rere sempat turun dan mewanti-wanti muridnya supaya lebih banyak doa dan tidak banyak tingkah saat perjalanan.
Setelah diskusi sebentar, mereka semua memutuskan untuk langsung berangkat.
Okay, hati-hati dijalan!
Hidden Love
__ADS_1
Angga menyamankan dirinya, dia duduk di kursi sebelah kursi kemudi yang diduduki oleh Jani yang kebagian menyetir pertama. Setelahnya bagian dia lalu Dian dan Dzikya tidak bisa diharapkan karena laki-laki itu memang tidak bisa mengendarai mobil. Sementara Dian dan Dzikya duduk di kursi belakang.
Mobil mereka tidak langsung maju, menunggu mobil Bu Rere dan bis untuk berangkat lebih dulu. Meski ponsel Angga sudah menunjukan peta online untuk jalan yang diambil mereka itu hanya untuk berjaga-jaga kalau mereka ketinggalan oleh mobil Bu Rere maupun bis.
"Cemilan mana?" Dzikya yang pertama kali buka suara di mobil itu. Karena Jani memang bukan tipe orang yang menyalakan musik saat perjalanan. Tidak fokus katanya.
Angga melirik sebentar, merasa pertanyaan itu bukan untuknya. Sementara Jani tampak tidak berminat untuk ikut terlibat. Dian yang merasa ditanya langsung membalikkan badannya, mengambil kantung cemilan yang tadi dia dan Dzikya sengaja beli di bagasi mobil.
"Punya permen gak?" Tanya Jani kemudian saat Dzikya mulai mengobrak-abrik isi kantung plastik itu.
Dian mengangguk-anggukan kepalanya, "Ada nih Jan, mau?" Kemudian perempuan itu menyodorkan permen loli yang tadinya berniat ia makan.
"Gak apa?"
"Maaf pake kiri," ucapnya dan kemudian diangguki paham oleh Dian.
Mobil mereka kemudian jalan pelan, mengikuti dua kendaraan di depan mereka yang memang lambat, mungkin sengaja. Mau tidak mau, mobil mereka yang ada di paling akhir harus mengikuti.
"Lo, udah bikin janji belum Ga?" Tanya Jani saat lampu merah. Perempuan itu kemudian membuka bungkus permen dari Dian dan memasukan benda manis itu ke mulutnya.
"Gue kira sekalian sama Lo Jan," balas Angga dengan raut bingung.
Dzikya menyimak dengan tampang pura-pura tidak peduli, sementara Dian tampak memang tidak tertarik karena perempuan itu dengan santai mengunyah keras keripik miliknya.
"Oh itu sebabnya Lo ngikut gue di grup kemarin?"
__ADS_1
Mobil mereka kemudian jalan bersamaan dengan anggukan Angga yang Jani lihat lewat ekor matanya.
"Lo gak konfir ke gue, elah. Jadi gue buatnya janji sendiri," ucap Jani kemudian.
"Yah kok gitu?? Ntar gue gak tiga hari dong?" Angga berbicara dengan nada lumayan keras dan tidak terima, membuat dua orang yang duduk di kursi belakang menjadi fokus sepenuhnya pada sepasang teman sebangku itu. Bahkan Dian menghentikan kunyahannya.
Jani melirik sekilas, ingin tahu bagaimana ekspresi wajah Angga, "Oke ntar gue bikin janjinya sama dokter. Paling cuma beda jam atau beda hari. Lo kayaknya sehari sesudah gue, baru bisa konsultasi."
Angga mengangguk paham dan kemudian hanya terdengar suara kendaraan dan itu diabaikan membuat mobil mereka terasa hening.
"Konsultasi? Dokter? Apaan?" Kemudian suara Dzikya kembali memecahkan keheningan disana.
Angga dan Jani refleks melotot, mereka lupa kalau di mobil ini bukan hanya ada mereka berdua. Dan sialnya lagi, Dzikya dan Dian termasuk pada jajaran anak kelas dengan rasa penasaran yang tinggi alias kepo dan bertanya dengan ngotot.
"Dzik, lagu soundtrack shigatsu wa judulnya apa? Gue lupa?" Balas Jani, ngawur. Berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah yang sedih itu? Orange itu judulnya." Dzikya memang mudah dialihkan, tanpa ragu dia membalas pertanyaan Jani seadanya dan raut antusias. Karena anime yang dimaksud Jani baru saja selesai ia tonton.
"Lo punya gak? Nyalain dong! Ayo nyanyi-nyanyian," sahut Angga.
Dzikya mengangguk-anggukkan kepalanya antusias kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari lagu yang mereka bicarakan.
Angga menghela napasnya lega, sementara Jani mulai memainkan permen dalam mulutnya dengan lidahnya, merasa tidak yakin dengan Dian.
"Kalian berdua jangan alihin pembicaraan yah!" ucap Dian kemudian yang berhasil membuat Jani menggigit permennya keras dan Angga yang tersedak tanpa sebab.
__ADS_1