Hidden Love

Hidden Love
Mencari


__ADS_3

Dyana mengambil semua pakaiannya, ditaruhnya ke dalam plastik merah besar. Sial! Dia tidak punya tas apalagi koper.


Jiwa kerasnya seakan meronta-ronta untuk segera mengakhiri drama di bawah langit desa kelahirannya. Sisi Dyana yang brutal sedang keluar.


"Apapun yang terjadi aku tak peduli. Lagi pula hidupku sudah tak berarti. Untung saja ujian telah usai." Katanya sambil terus membereskan semua barangnya.


Dyana juga mengabaikan perutnya yang lapar. Tak peduli jika takdir memintanya untuk mati karena kelaparan. Dia sudah tidak peduli sama sekali.


Dyana lalu pergi lewat jendela di belakang rumah. Tanpa seorang pun yang tahu.


Baju sekolah sudah ia lepaskan demi keamanan almamater dan dirinya. Dyana segera menaiki angkutan umum. Ia melihat kebelakang, menatap suram pada jalan yang semakin jauh. Semoga tekadnya ini menjadi jalan yang baik meski awalnya tidak baik.


***


"Pokoknya kali ini aku harus ke rumah Dyana untuk minta maaf soal tadi pagi. Kalau bukan karena permintaan cewek gila itu, Dyana ngga bakal benci sama aku." Sastra segera meninggalkan rumah mewahnya dan menuju rumah Dyana.


Sesampai disana ia langsung bergegas mengetuk pintu. Dari luar memang kosong. Tapi sudah biasa, mahluk di dalamnya mungkin sedang bekerja.


"Bu... Bu!" Teriak Sastra tergesa dan langsung disambut pintu terbuka oleh Ibu Dyana.


"Ada apa, Nak? Kamu gapapa?" Tanya wanita di depannya mengingat waktu itu ia meninggalkan tanpa permisi.


"Saya tidak papa. Saya mau nyari Dyana, ada Bu?"


"Sebentar coba ibu panggil."


Sastra menunggu tidak sabaran sebab perasaanya bergejolak sedari tadi. Seperti ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


"Sastra... Nak... Dyana tidak ada di kamarnya." Miya sangat panik mengetahui anaknya yang sedang marah sedari tadi berada di dalam kamar namun sekarang tidak ada.

__ADS_1


Begitu mendengar suara itu, isi dada Sastra seperti mencelos.


Ia langsung menuju ke dalam ingin memastikan apa yang didengar barusan.


"Maafin Ibu... Ibu tadi langsung marah-marah pada Dyana. Dia langsung marah dan sekarang tidak ada. Aduh... bagaimana ini." Katanya panik dan menyesal.


"Kenapa sampai begitu, Bu? Apa Dyana berbuat salah?" Tanya Sastra.


"Tidak... Ibu hanya sedang emosi saja. Kemana Dyana." Pekiknya khawatir lagi.


"Sabar Bu. Akan coba saya cari keberadaannya." Sastra segera mengutak atik teleponnya. Setelah itu ia berpamitan.


"Kemana kamu Dy. Apakah kamu tidak sayang padaku?" Batin Sastra menuju mobil.


Sastra segera menanyai semua teman-teman dekat Dyana bahkan mendatangi rumahnya.


Pertama rumah Rony. Dari penampakan rumahnya saja sudah tidak ada tanda-tanda ada Dyana disana. Dan benar saja, setelah lama berbincang dengan Ony ternyata Dyana tak pernah ke sana.


Namanya Mey, tapi dia bilang tidak begitu akrab dengan Dyana bahkan mungkin Dyana tak pernah tahu rumah Mey.


Rumah ketiga, rumah ketua kelas Dyana. Katanya Dyana tidak pernah ke sini dan mereka jarang berbincang. Apalagi sampai kemari, itu sangat tidak mungkin.


Begitu seterusnya hingga pada rumah terakhir.


"Tinggal satu lagi, rumah Dewi. Mungkin dia tahu dimana Dyana."


Sampailah Sastra pada rumah mewah di depan jalan raya.


"Semoga Dyana di sini. Pasti di sini." Sastra sangat yakin, ini adalah tempat yang bisa Dyana tuju jika sedang ada masalah.

__ADS_1


Dengan hati tak sabaran, Sastra segera memencet bel yang terdapat di depan gerbang.


Tiga kali pencet akhirnya sang penghuni keluar. Dewi keluar masih tampak kusut seperti baru bangun, sore hari.


Hatinya ragu jikalau Dyana di sini. Tapi ia memberanikan untuk bertanya.


"Wi, Dyana ke sini ga?"


"Dyana? Kok kamu nanya sama aku. Mana aku tahu, lagian sedari pagi di sekolah tuh anak kayak ga mood gitu. Kalau diajak ngomong jawabnya jutek." Jelas Dewi.


"Apa Dyana ga ngomong apa-apa, ngechat atau gimana kek yang bisa dijadiin tumpuan buat nyari Dyana." Sastra mulai bingung, setelah ini dia harus nyari kemana.


"Dyana tadi sekitar dua puluh menit setelah pulang sekolah dia cuma minta kalau ada pengumuman di sekolah suruh kasih tahu. Itu aja sih."


"Terus kamu jawabnya apa?" Sastra kembali bertanya.


"OKE." Gitu aja.


"Kamu ga nanya dia kemana?" Tanya Sastra lagi.


"Ya ampun! Kalau aku tahu dia mau pergi pasti aku tanyain. Orang aku ngga ngeh dia dimana. Pikiran aku sih dia dirumahnya. Emangnya Dyana kemana?" 


"Kalo aku tahu mana mungkin nanya sama kamu. Dyana ga ada di kamarnya pas aku kesana. Ceritanya panjang deh." Ucap Sastra memikirkan banyak hal. Lalu setelah itu ia pamit.


***


Disisi lain, Dyana terbawa semakin jauh dari desa. Hatinya makin bergejolak, apa dia harus kembali atau tidak. Walaupun begitu semuanya akan terulang lagi. Dia ingin melupakan kenangan buruk, mencari suasana baru.


Dyana ingat siapa yang harus dia cari. Dengan bermodalkan nama, ia mencari nama sepupunya yang mungkin masih tinggal di kota. Walaupun kerabat jauh tapi hanya dia yang Dyana ingat.

__ADS_1


Dyana mencari-cari kemungkinan akun sosial medianya. Siapa tahu ia bisa menemukan alamatnya atau setidaknya bisa berbincang lalu meminta tolong.


__ADS_2