
Sekar memasuki rumah sakit tempat ayahnya dirawat, ia ingin melihat dan meminta maaf pada pria yang telah menjaganya itu. Dendy pun ikut mengantar. Sekar tersadar setelah melihat bagaimana seorang lelaki yang begitu sayang dengan orang tuanya.
Pagi tadi, Sekar bercerita tentang ayahnya. Sekarang dia tidak sungkan-sungkan untuk bercerita dengan Dendy.
Oleh karena itu, Dendy bersedia mengantar Sekar. Segera dia membuntuti gadis yang lebih muda empat tahun darinya. Sekar segera melesat ke ruangan ayahnya. Tapi, ternyata sudah kosong--tidak ada siapa-siapa di ruang VIP tersebut.
"Dimana Ayah kamu?" tanya Dendy saat melihat ruangan kosong.
"Aku juga tidak tahu, Kak." Sekar sudah mulai membiasakan diri memanggil Dendy dengan sebutan "Kakak".
Sekar langsung mengambil handphone pada tasnya. Dia segera menghubungi Dev, orang kepercayaan papanya yang sudah seperti kakaknya.
Dev yang sedang menyusun rencana membuka bisnis baru, dipanggil Merry karena hpnya ada di kamarnya.
"Ini Sekar yang menelepon!" Merry memberikan hp itu pada Dev yang sibuk dengan laptopnya. Harta Dev yang masih tersisa.
"Dia ingat juga dengan Papanya." Dev langsung menggeser tombol hijau. Matanya memperhatikan Merry yang masih setia berdiri disampingnya. Ia kadang-kadang kaku karena sudah biasa menunggu atasannya sejak bekerja dengan Flore.
"Hallo!" sahut Dev pertama.
__ADS_1
"Dev! Apa Papa ada sama kamu?" tanyanya sedikit panik.
"Iya, kamu dimana?" tanya Dev bersabar. Ia juga heran dimana anak bosnya.
Sekar tidak menyahuti pertanyaan Dev, "Tolong kirimkan alamatnya Dev!" titah Sekar yang baru kali ini didengar sopan.
"Oke!" Dev tidak memperpanjang pertanyaannya yang tidak dijawab.
Merry langsung kembali setelah Dev menelepon, tetapi keburu dicegat. Merry tidak pernah ingin lama-lama dekat dengan Dev hanya berdua. Dia masih sedikit malu dan tidak enak. Beruntung ia memiliki kamar berbeda dengan Dev.
"Kamu mau ke mana?" Dev meminta Merry menemaninya, kekasihnya itu paati tidak akan duduk bersamanya kalau tidak diminta.
"Baiklah, aku akan menemanimu di sini."
Kak, tidak apa-apa jika mengantarkanku ke alamat ini?" pinta Sekar sambil memperlihatkan hpnya.
"Tentu!" Dendy tersenyum, dia senang bisa membantu gadis yang baru ditemuinya. Dendy merasa ada perubahan dengan sikap Sekar daripada kemarin-kemarin saat ia temui.
Mereka keluar lagi dari rumah sakit itu.
__ADS_1
Sampailah mereka pada rumah sederhana. Tidak terlalu jelek atau pun bagus.
Setekah yakin, Sekar mengetuk pintu itu dengan sopan.
"Permisi!" Dendy pun ikut menimpali.
Keluarlah Merry dengan pakaian rumahan. Disusul dengan Dev yang membuka kaca mata.
"Dimana Papa?" tanya Sekar.
"Masih di kamar," sahut Merry kemudian mengantar Sekar untuj masuk. Dev mengajak Dendy duduk di ruang tamu.
Sekar segera menuju ke kamar papanya untuk melihat. Merry tetap memperlakukan Sekar layaknya majikannya. Dia bukannya tidak berani, tapi Merry hanya menghargai Sekar sebagai mantan majikan. Bagaimana pun Sekar dan keluarganya membuat kehidupan Merry dan keluarganya bisa bertahan.
"Pa!" Sekar memanggil papanya dengan lembut, terlihat lelaki itu masih memejamkan mata. Kini ia menoleh mendengar suara yang ia rindukan.
Flore nampak bersemangat saat melihat wajah anak semata wayangnya. Dia langsung bersemangat bengun, rasanya tubuhnya kembali pulih.
"Maafkan Papa, Nak!" Flore memeluk anaknya seakan tidak bertemu bertahun-tahun.
__ADS_1
Sekar membalas pelukan itu, "Aku yang seharusnya meminta maaf. Papa jangan sakit, aku udah tidak marah lagi."
Merry senang melihat keduanya kembali berkumpul.