
"Dimana Papa?" tanya Sekar.
"Masih di kamar," sahut Merry kemudian mengantar Sekar untuj masuk. Dev mengajak Dendy duduk di ruang tamu.
Sekar segera menuju ke kamar papanya untuk melihat. Merry tetap memperlakukan Sekar layaknya majikannya. Dia bukannya tidak berani, tapi Merry hanya menghargai Sekar sebagai mantan majikan. Bagaimana pun Sekar dan keluarganya membuat kehidupan Merry dan keluarganya bisa bertahan.
"Pa!" Sekar memanggil papanya dengan lembut, terlihat lelaki itu masih memejamkan mata. Kini ia menoleh mendengar suara yang ia rindukan.
Flore nampak bersemangat saat melihat wajah anak semata wayangnya. Dia langsung bersemangat bengun, rasanya tubuhnya kembali pulih.
"Maafkan Papa, Nak!" Flore memeluk anaknya seakan tidak bertemu bertahun-tahun.
Sekar membalas pelukan itu, "Aku yang seharusnya meminta maaf. Papa jangan sakit, aku udah tidak marah lagi."
Merry senang melihat keduanya kembali berkumpul.
Pria bertubuh kekar mencoba masuk ke dalam restoran dengan membawa senjata tajam disembunyikan di balik punggungnya. Dia tanoa ragu membuka pintu restoran yang di dalamnya begitu ramai orang makan.
__ADS_1
Siang ini restoran begitu ramai, pengunjung berbondong-bondong keluar masuk. Membuat lelaki paru baya mudah masuk ke dalam ana tanpa ada yang curiga.
Dyana sedang asik melayani pelanggan dengan senyum ramah, tuganya sebaga runner sendirian. Temannya yang satu sebagai penyambut dan yang satunya sebagai pemberi menu. Kini Dyana lah yang paling aktif mondar mandir.
"Dy! Aku tinggal ke kamar mandi sebentar!" Waitress yang bernama Chika tidak bisa menahan kebeletnya. Dia terpaksa meninggalkan tugas, mumpung pelanggan sedang menyurut. Tapi meja di dalam restoran sudah hampir penuh semua.
Dyana hanya mengiyakan temannya itu, dirinya sedang sibuk melayani para tamu.
Pria parubaya itu makin dekat dengan kerumunan, waitress penyambut sedang meninggalkan posisinya.
Dyana yang sedang melenggang tidak peduli dengan pria yang mendekatinya.
Satu tusukan pisau berhasil menembus kemeja putih Dyana. Tangannya yang membawa makanan terkesiap hingga menjatuhkannya tanpa sengaja.
Pyang!
Semua orang yang sedang menikmati makanan langsung mengalihkan pandangan ke arah keributan.
__ADS_1
Dyana memegang perutnya yang mengeluarkan darah, rasa sakit belum terasa. Tapi, lagi-lagi pria itu menusukkan pisau itu untuk kedua kalinya di sisi yang sama. Sontak Dyana tak lagi dapat menahan keseimbangan. Dyana langsung ambruk memekik kesakitan. Semua insan tercengang melihat kejadia yang tak tertuga itu, sebagiannya berteriak memanaskan suasana. Pria itu langsung berlari keluar tanpa ada yang rungu.
Koki yang berada di dapur terganggu, mereka ikut keluar melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Mira yang melihat Dyana memsgang perutnya dengan darah yang mengalir. Dia memanggil teman yang lainnya lalu dirinya berlari menuju ke ruangan Adit.
Tanpa permisi ia membuka kasar pintu ruangan Adit.
"Pak! Cepat! Itu Dyana ditusuk orang." Mira berkata gemetaran.
Adit begitu terkesiap, baru saja dirinya mendapat pesan dari orang tidak dikenal dengan bunyi peringatan pertama. Adit mengabaikan begitu saja. Dan ternyata begini bentuk peringatan tersebut.
Adit tak percaya, Dyana masih sadar tapi sudah melemas. Darah mengucur dari tangannya yang memegang perut.
Adit langsung membopong Dyana keluar melewati kerumunan yang menonton Dyana.
"Mira ikut saya!" teriak Adit panik. Darah mengotori kemeja putihnya. Kaki Adit seakan lemas. Dia sama sekali tidak bisa memba yangkan kalau terjadi apa-apa terhadap sepupu kesayangannya itu.
"Bertahanlah!" Mira segera membuka pintu mobil lalu mengemudikannya. Meski dirinya baru belajar mengemudi terpaksa harus mengiyakan dalam situasi begini.
__ADS_1
Adit tetap mengabih Dyana yang kesakitan, matanya masih terbuka tapi lemah.
*maaf sedikit