
Dyana sudah benar-benar kenyang. Dia sangat puas dengan makanan malam ini. Sungguh, dia tak pernah merasakan makanan selezat ini. Dyana jadi teringat dengan ibu dan adiknya, apakah dia sudah makan atau belum. Dia merasa sangat egois meninggalkan rumah sejauh ini tanpa memikirkan perasaan orang terdekatnya. Nasi sudah menjadi bubur, amarahnya sudah tak bisa dibendung hingga berlari ke sini.
“Dyana, kamu kenapa bengong?” tanya Adit membuyarkan lamunannya.
“Ah i-iya, aku hanya terlalu tercengang makan segini banyak, Kak. Eheheh.” Dyana menyahut sambil nyengir menyembunyikan perasaan khawatirnya saat ini.
“Kamu mau langsung ke rumah aku atau kita keliling-keliling dulu?” ucap Adit memberi tawaran.
“Terserah Kak Adit aja, aku ngga tahu harus kemana. Lagian kan Kakak yang bawa mobilnya. Aku ikut aja.”
Terbesit niat Aditya untuk membawa Dyana meperbaiki penampilannya agar lebih bagus. Dia akan mentraktir sepupu yang setahun pun tak karuan akan ditemuinya saking sibuknya.
__ADS_1
“Oh ya, bagaimana keadaan Bibi?” Adit bertanya sambil tetap mengarahkan pendangannya ke depan.
“Sepertinya baik, aku tidak tahu bagaimana keadaannya.” Jawab Dyana singkat.
Adit merasa bersalah menanyakan itu, nampaknya Dyana bersedih.
“Aku pergi dari rumah karena sudah tidak bisa menahan emosiku. Aku marah sama Ibu, makanya aku pergi saja. Lagian semua ujian sudah kelar, kalau aku tetap di desa rasanya amarahku tak kunjung hilang. Sebenarnya, bukan Cuma masalah ibu yang membuatku begini. Ada seseorang yang membuatku kesal. Dy ngga bisa mengontrol diri, hingga sampai di kota aku ingat Kakak. Itupun aku harus nyari-nyari di facebook dan untungnya ketemu. Aku nyesel.” Omong Dyana mengutarakan yang sebenarnya walaupun belum ditanyakan oleh sepupunya. Dyana sudah tidak tahan memendam sendirian.
“Maksudnya gimana kak?”
Aditya diam, dia juga ingat kalau dulu dia sangat nakal, brandal. Bahkan, tatto yang menjadi saksi kenakalannya dulu masih jelas menempel di lengan dan punggungnya. Adit juga ikut kecewa dengan dirinya dulu yang salah pergaulan.
__ADS_1
“Kakak dulu sangat brandal, tidak seperti sekarang ini yang sudah mau berubah banyak. Kakak bukan pergi dari rumah, tapi malah diusir.” Adit tertawa, tapi bukan karena bahagia tapi mengingat masa lalunya membuat dia ingin tertawa. kemudian dia lanjut berbicara, “Ibu sama Bapak sampai tidak menganggapku lagi. Padahal aku begitu karena tidak ada yang peduli padaku. Bapak sibuk pergi ke luar kota, sedangkan Ibu sibuk mengajar di kampus. Aku selalu main di luar sama teman. Hingga perilakunya aku contoh. Karena ulah kakak sendiri, kepala sekolah sampai memanggil orang tua Kakak lalu dikeluarkan dari sekolah. Sampai di rumah Kakak juga diusir karena berulang kali membuat masalah.” Aditya kembali terdiam mengingat nasibnya dulu, ibunya meminta cerai dan ayahnya tak peduli.
“Sampai kakak benar-benar sangat marah. Mereka sama sekali tidak peduli pada Kakak. Padahal hanya Kakak anak satu-satunya. Tapi mereka tetap tega mengusirku. Mereka saling menyalahkan atas semua ini. Huh! Tapi untungnnya kakak ingat pada Bibi di kampung. Aku akhirnya memberanikan diri untuk pergi kesana membawa motor walau belum punya SIM. Sebenarnya Kakak tetap ingin bersekolah tapi terlalu nakal. Padahal ya, kakak itu berprestasi selalu ikut lomba. Walau tak tahu jalan, Kakak jalan-jalan saja berbekal nama Ibu kamu. Akirnya sampai dan Kak Adit tinggal di sana sampai tamat.” Tutur Adit panjang lebar agar Dyana juga tahu kalau dirinya pun pernah mengalami masa sulit.
“Hems, aku seharusnya tidak kabur. Sebab apa yang kakak alami justru lebih berat daripada Dyana.”
“Yah, tapi kan ini salah kakak juga.” Sahutnya lesu.
“Oh ya, kakak berbuat apa sampai dikeluarkan?” sebenarnya Dyana takut bertanya tapi dia juga penasaran.
“Ng... Kakak pakai tatto padahal jelas dilarang, terus kakak pernah bawa miras ke sekolah dan yang paling tidak ditolerir adalah karena Kakak hampir membunuh anak orang. Dia aku pukul habis-habisan karena menampar teman kakak.” Cerita Adit sambil memperagakan betapa greget hidupnya ketika bersekolah di kota.
__ADS_1