Hidden Love

Hidden Love
09. Cubit


__ADS_3

Yuli sudah duduk santai di kursinya, kepalanya sudah agak mendingan. Tidak sepusing kemarin, meskipun badannya masih terasa pegal. Dia menatap kosong pada bor di depan, yang sedang di coret-coret oleh Dian dan Jani. Pikirannya malah terfokus pada kejadian kemarin.


Terasa beda saja, karena itu pertama kalinya dia dan Angga berinteraksi tanpa debat. Sedikit tidak menyangka kalau ia dan Angga bisa seakur kemarin.


Bahkan Yuli melupakan fakta kalau ia datang lebih pagi dari biasanya, bahkan dikelas saja baru ada makhluk pagi. Maksudnya, murid-murid yang langganan datang pagi.


"Gak percayaan sih Lo! Gue udah jujur juga." Suara Dzikya yang agak keras itu membuat beberapa orang yang sudah ada dikelas menoleh ke arahnya. Termasuk Yuli yang sebenarnya menoleh karena terkejut.


Disana Dzikya dan Angga berjalan berdampingan dengan roti dan susu kotak di tangan mereka masing-masing.


"Yah mana gue tahu, kan gue kiranya selama ini Lo yang ngasih gue sarapan kayak gini," jawab Angga sambil nunjukin dua makanan yang ia pegang. Keduanya masih mengobrol dengan keras seraya berjalan ke arah bangku Angga, dan Yuli baru sadar kalau hari ini Angga duduk di depannya setelah sekian lama.


Jantungnya mulai tidak tenang.


Angga mungkin tidak sadar kalau Yuli ada di belakangnya, buktinya lelaki itu langsung duduk di kursi yang tidak sejajar dengan Yuli. Yuli sedikit lega, karena tidak sejajar dengan lelaki itu.


Dzikya dengan santainya duduk di kursi Jani, tanpa memperdulikan pemilik kursi itu, toh Janinya saja masih asik sama Dian hingga lupa dipunggungnya masih menggendong tas, jaketnya masih dipakai, kunci mobil yang menggantung di tangan kirinya. Jani kelihatannya saat baru datang langsung diajak Dian untuk mencorat-coret papan tulis.


"Sekitaran empat bulan log gue dititipin ini. Dan Lo nganggap itu gue yang kasih?" Suara Dzikya kembali menyapa telinganya, membuat Yuli pura-pura asik memainkan ponselnya dengan telinga yang ditanamkan, berusaha menguping.

__ADS_1


Sekilas, Yuli melihat kalau Angga mengangguk.


"Najis dih. Mending gue makan sendiri aja," balas Dzikya kemudian tanpa peduli pada reaksi Angga yang sudah menatap tajam dan tidak terima ke arahnya.


"Iya Ga, gue tahu Lo suka gue. Tapi, maaf gue gak mau ngasih harapan ke Lo," ucap Dzikya lagi membuat Angga menghela nafas lelah. Sahabatnya ini mulai mendrama.


Sementara Yuli, yang sedari tadi menyimak langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Dzikya. Jadi, benar kata Dian dan Jani kalau dua orang ini saling suka? Tapi, mereka kan sesama lelaki?


Yuli menggeleng, tidak mau semakin berpikiran aneh.


"Jijik," balas Angga singkat dan ditekankan.


Angga membuka roti yang sedari tadi ia pegang terus mulai memakan benda itu, seperti hari-hari yang lalu.


"Kira-kira apa tujuan Kirana ngasih gue ginian Dzik? Ngomong gak dia?" Tanya Angga lagi, membuat Yuli mengernyit, merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh Angga.


"Gak tuh. Dia cuman bilang 'Kak Dzik, Kira titip ini buat Kak Ga yah.' terus dia langsung pergi bareng temennya yang ngasih gue ini," jelas Dzikya seraya menggoyangkan kotak susunya yang hendak ia minum.


Yuli semakin menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"Si Wendy bukan?" tanya Angga.


"Iya. Yang ngasih ini Wendy," jawab Dzikya terus kembali meminum susunya.


"Lo udah kenal lama sama Kirana yah, Ga?" Tanya Dzikya setelah hening diantara keduanya beberapa saat.


"Mungkin. Lugu anaknya, gue suka pengen lindungin yang polos-polos gitu. Mana feminim banget, segede gitu udah ada jiwa keibu-annya. Gemes juga," jelas Angga yang membuat Yuli menunduk tanpa sadar.


Perempuan itu mengigit bibir bawahnya, 'Gue gak feminim kali ya, tiap hari war mulu sama laki. Boro-boro keibu-an, kecewek-an aja nggak gue mah,' ucap Yuli dalam hati.


Yuli menggeleng keras, kenapa coba dia harus membandingkan dirinya dan Kirana-Kirana itu?


"Adik kelas sekarang gemes gemes sih. Gengnya Kirana unyel-able semua kalo menurut gue, hampir mirip waifu gue tuh," sahut Dzikya lagi.


"Halah Lo mah yang umurnya dibawah Lo selalu dibilang gemes," balas Angga ketus yang membuat Dzikya langsung menoleh dan menatapnya horror.


"Utututu~ Cemburu bilang. Iya-iya Gaga gemesin juga kok, sini Kya uyel-in." Dzikya berucap seolah gemas, tangannya bergerak untuk mencubit kedua pipi Angga dengan ekspresi yang gemas.


"BERHASIL JAN! GUE UDAH REKAM DARI AWAL SAMPE ADEGAN CUBIT-CUBITAN." Teriakan Dian tiba-tiba, membuat Dzikya buru-buru melepaskan cubitannya di pipi Angga terus berdiri dan mengejar Dian yang mulai jauh karena menyusul Jani yang entah sejak kapan ada di luar kelas.

__ADS_1


Hei, Yuli yakin tadi dua orang ini asik corat-coret.


__ADS_2