Hidden Love

Hidden Love
04. Panggilan buat Yuli


__ADS_3

Seumur dia hidup, Angga tidak pernah terpikir sekali pun tentang hal yang Dzikya sebut sebagai masalah ini. Di umurnya yang sudah menginjak usia tujuh belas, Angga tidak pernah sekalipun terpikir untuk membuat panggilan khusus untuk seseorang.


Terimakasih kepada Dzikya Permana yang sudah membuat Angga menjadi kepikiran. Padahal hal itu tidak terlalu dipusingkan oleh setiap orang, dasar Angga.


"Ga, Yuli punya panggilan sayang buat Lo. Masa Lo gak bales sih? Itu bisa jadi masalah loh!" ucap Dzikya tiga hari yang lalu sembari mengunyah pangsit yang ia beli.


"Ah masa sih?"


"Iyalah. Lo harus bales panggilan orang. Kalau gak bales itu masalah!"


Angga percaya begitu saja, padahal Dzikya cuma berbicara asal gara-gara kehabisan obrolan.


"Tumben Lo gak ikut main game sama Gamers Kelas yang lain," ucap Kia menghampiri Angga yang memisahkan diri dari ketiga temannya yang rusuh sendiri.


Cowok itu tampak melamun, sesekali tangannya bergerak untuk menyuapkan kentang goreng yang ia beli dari kantin.


Gamers Kelas itu julukan untuk Angga, Dzikya, Latif dan Hada. Keempat orang itu sering menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bermain game online, kemudian ricuh sendiri sambil memakan makanan yang sudah lebih dulu mereka beli.

__ADS_1


"Pusing gue, gak mood juga main game," balas Angga kemudian setelah mengacuhkan Kia cukup lama.


"Pusing kenapa? Sakit? Ke UKS aja sana," sahut Kia dengan agak rusuh.


"Gak usah. Gue bukan pusing sakit, tapi pusing karena mikirin sesuatu!" jawabnya sembari memfokuskan diri pada Kia dengan raut frustasi.


Hal itu cukup membuat Kia yakin kalau apa yang dipikirkan Angga serius sampai cowok ini frustasi.


"Kenapa? Coba cerita ke gue."


"Bukan! Gue kepikiran panggilan apa buat Yuli. Secara dia kan udah manggil gue setan, yakali gak dibales."


Hidden Love


"Jadi, Lo bener-bener kepikiran ucapan gue waktu itu?" Dzikya bertanya setelah meminum es teh miliknya. Wajah laki-laki itu memerah akibat kepedesan, salahnya sendiri karena kebanyakan memasukan sambal.


"Kok Lo niat banget sih Ga? Naksir Lo sama Yuli?" sahut Latif kemudian. Latif ini paling pasif diantara mereka, namun sekalinya berbicara panjang cukup menohok.

__ADS_1


"Gara-gara si Dzikya sih. Jadi, gue kan kepikiran," balas Angga dengan mulut yang penuh. Heran, saat mengunyah saja dia masih berbicara dengan jelas.


"Lah kok gue sih?! Astaga, pedes amat nih bakso," seru Dzikya seraya misuh-misuh lantaran kepedesan.


Hada yang biasanya rusuh kali ini lebih tenang, dia menatap mangkuk berisi mie ayam miliknya yang baru diantar dengan berbinar. Kemudian menyuapkan satu potongan ayam cukup besar dan langsung berseru keras, "Surga dunia!"


Ketiga temannya terkesiap, kemudian berperilaku seakan tidak mengenal Hada padahal mereka semeja.


Mereka sekarang sedang berada di Mie Ayam Pengkolan, langganan mereka semenjak sering bareng-bareng. Mereka pasti meluangkan waktu untuk kesana bersama dalam satu minggunya.


"Jadi, gue harus manggil Yuli apaan?" tanya Angga entah untuk ke berapa kalinya.


"Ribet amat sih. Iblis aja kali," celetuk Latif dengan nada ketus seraya memindahkan sayuran di mangkuk baksonya pada mangkuk Hada yang langsung ditanggapi dengan delikan oleh empunya.


"COCOK MAKASIH LATIFKU SAYANG!"


Latif, Dzikya dan Hada mau pindah meja aja.

__ADS_1


tbc–25.8.19


__ADS_2