
Setelah makan saatnya Dyana pulang. Baru kali ini dia makan di lesehan itu. Walau ada di desanya ia sama sekali tak pernah makan itu semua. Walau cuma tahu dan tempe tapi dia sangat bersyukur.
"Makasih, Kak Adit," ucap Dyana tersenyum.
Adit mencubit gemas pipi Dyana, "Iya, kamu ngga usah sungkan gitu. Kakak malah senang kamu mau makan."
Mereka pun kembali pulang dengan perut kenyang. Tak habis-habis perbincangan mereka di dalam mobil, terkadang diselingi tawa lucu.
Dyana tertegun saat matanya melihat ada mobil di ujung gang tepat di depan rumahnya. Hatinya mulai merasa tidak enak, tapi seperti bergejolak senang, intinya campur aduk antara terkaan dan kenyataan.
'Apa itu mobil Sastra?' Dyana bertanya pada hatinya yang jelas-jelas matanya sudah mengenali betul mobil tersebut.
'Tidak mungkin, waktu itu dia sangat marah. Apa aku bisa dimaafkan.'
Dirinya dan Adit semakin mendekat ke arah rumah. Dyana makin merasa tidak enak. Kalau saja memang Sastra apa yang akan Dyana bicarakan. Tapi, jelas-jelas itu memang Sastra. Siapa lagi yang ke sini membawa mobil kalau bukan dia. Dyana berjalan gusar, Adit tetap mengekor tanpa rasa gundah seperti apa yang Dyana rasakan.
Benar saja, seorang lelaki sedang duduk bersimpuh di karpet. Hal itu membuat kegugupan Dyana memuncak.
"Sastra?" Dyana memberanikan diri memanggil nama itu. Pemilik nama langsung menoleh ke belakang saat mendengar ada yang memanggil.
Sastra malah diam, suasana juga ikut hening seakan tak ada udara. Sastra malah diam membisu tak menggerakan matanya sedikit pun. Memandang ke arah Dyana yang juga ikut diam tak berani memulai pembicaraan. Adit dan Ibu Dyana hanya saling pandang.
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua, di luar," lanjutnya. Tanpa menjawab Dyana mendahului ke luar. Entah apa yang mendorongnya, air matanya sudah menggenang di pelupuk. Sastra juga mengikuti setelah memberi kode pada dua orang di sampingnya.
Dyana duduk pada kursi yang dulu sempat memebuatnya terjungkal. Beberapa detik Sastra ikut duduk. Dyana tak berani mendahului, Sastra ikut diam.
Hening.
"Aku akan ke Jepang," singkat Sastra tanpa menoleh.
Dyana sejenak mencerna perkataan lawan bicaranya, ia sama sekali tak menyangka kalau Sastra akan ke Jepang. Tapi, Dyana makin tak menyangka kalau Sastra pamit padanya.
"Kenapa sejauh itu?" Dyana memberanikan diri memandang wajah cowok yang ia cintai. Meski ia masih tetap memandang ke depan.
"Untuk apa aku di sini." Pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan bibir merah milik Sastra sudah jelas membuat Dyana linglung tak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa? Apa kamu sudah berubah pikiran dan mencintai aku?" kata Sastra dingin. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk gadis di depannya, tapi raganya menolak. Seperti ada api yang menyuruhnya memanas.
"Aku …" air mata Dyana sudah lolos, "Aku tidak bisa, maafkan aku." Dyana memalingkan wajahnya mengusap kasar buliran bening yang mulai berjatuhan deras.
"Tapi kenapa?" Sastra memutar bahu gadis yang duduk di sampingnya. "Tatap aku!" Sastra sedikit geram karena Dyana tetap bersikukuh menolaknya.
Dyana tak berani menatap mata Sastra, wajahnya yang kini masih berlinangan air mata ditangkup Sastra. Dyana malah menatap hidung Sastra yang mancung agar Sastra tidak tahu kalau ia sedang berbohong tentang perasaannya.
__ADS_1
Sastra mengusap air mata Dyana, "Apa kamu memang benar-benar tidak punya perasaan apa pun padaku?" Sastra kembali memperjelas pertanyaannya dengan halus.
Dyana menurunkan tangan Sastra pelan, "Sungguh! Aku memang tidak punya rasa apa pun pada kamu." Dyana kali ini memberanikan menatap mata Sastra untuk meyakinkan.
Sastra yang mendengar jawaban itu langsung pias, ia tak menyangka ditolak oleh Dyana untuk kedua kalinya. Hatinya seakan retak tak berkeping.
"Terimakasih untuk apa yang sudah kamu berikan kepadaku selama ini."
Perlahan Sastra langsung melangkah pasti menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Dyana. Ia sekarang sudah benar-benar kecewa. Dan hikmahnya ia tahu hatinya sudah terluka dan harus merelakan.
Sampai di rumah, Sastra langsung menuju ke ruangan tempat Ayahnya bekerja.
"Yah! Mari berangkat sekarang," ujarnya.
"Kamu sudah siap?" Darma bertanya lagi meyakinkan.
"Tentu," jawab Sastra.
Darma hanya menghela nafas, ia tahu apa yang sudah terjadi dengan putranya.
"Baiklah." Darma bangun dari duduknya dan berjalan keluar.
__ADS_1
'Selamat tinggal Dyana, meski hatiku masih mencintaimu tapi aku akan mencoba untuk lupa.' Sastra membatin.