
Adit baru sampai kamarnya, kenapa dia jadi lupa bertanya kenala Dyana. Saking ngantuk dirinya, ia akan menanyai Dyana besok saja. Lelahnya serasa sudah di puncak, Adit merebahkan tubuhnya.
"Oke, besok saya tetap shift pagi." Begitu jawaban terkahir Dyana pada pesan yang dikirim Yamada.
Dyana menaruh honya di meja sejenak dia lupa akan hal yang ditangisnya tadi. Kantuknya lebih besar dari itu. Segera saja dia mencuci piringnya lalu mematikan handphone.
Tubuhnya dihempas begitu saja ke ranjang. Rasanya seperti di surga.
Otak Sastra seakan berhenti sejenak teralihkan oleh suara musik. Tapi, rindunya kembali membuncah. Kenapa gantungan kunci itu ada di mejanya. Indranya malah fokus pada benda itu, menghiraukan musik saat ini yang bak song track film dirinya.
Sastra menggenggam erat benda kecil itu, diremasnya gantungan kunci tersebut seakan melambangkan betapa tertekan dirinya saat ini menahan sakit, rindu dan kecewa secara bersamaan. Kini logikanya tak peduli dengan urat malu yang mengencang. Ia berhenti untuj membohongi diri dan menyiksa batinnya.
Diambilnya benda pipih dari atas nakas. Segera ia menekan kontak lalu mengetik nama "Dyana". Tombol berlambang telepon segera dipencet. Celingukannya audah tidak peduli apa kata Dyana. Ia tak peduli sama sekali kalau kata kasar yang akan diterima.
Tut ….
Hati Sastra tak sabar mendengar suara orang yang dikasihinya. Bahkan di mana dia sekarang Sastra tidak tahu. Kalau bukan karena raganya yang meronta dan jiwanya yang sakit, Sastra mungkin akan mengubur dalam-dalam niatnya untuk menelepon.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif." Ternyata operatir yang menyahuti teleponnya. Rasa kecewa langsung memukul dadanya.
__ADS_1
Benar.
***
Dendy sedang asik membaca buku, Sekar makin heran melihat orang yang ditumpanginya. Kenapa dia begitu rajin.
Matanya yang tadi memerhatikan betapa sosok itu dikaguminya. Tapi, dering hp mengalihkannya. Bukan miliknya, tapi milik Dendy. Segera sang pemilik mengangkat, Sekar hanya melihat dalam diam. Dia tak punya kegiatan saat ini.
"Halo, Ibu!" kata Dendy begitu riang nan sopan. Senyumnya menandakan kerinduan yang mendalam.
"Ayah mana?" tanyanya lagi.
"Ayah, aku sangat rindu." Nada suaranya bak anak kecil. Terlihat begitu akrab.
Sekar seakan rindu keluarganya. Seorng lelaki seperti Dendy saja begitu hormat. Lalu kenapa dia tidak hormat dengan papanya sebagai seorang anak perempuan.
Percakapan masih panjang, kerinduan mereka begitu terlihat satu sama lain meski hanya lewat suara.
Sekar yang mengantuk akhirnya memilih ke kamar. Dendy masih fokus dengan teleponnya hingga tak sadar Sekar sudah lebih dulu tidur.
__ADS_1
"Apa sih, aku baru saja tamat Bu! Kenapa sudah ditanya calon menantu?" Dendy tak kalah basa-basi dengan ibunya itu. Ayahnya namoak hening tak ada pembicaraan. Saangat berbeda dengan ibunya yang banyak bertanya kesehariannya.
"Oh ya, Bu. Di sini ada seorang temanku yang meminta menginap beberapa hari." Dendy tidak ingin menyembunyikan apa pun dari ibunya.
"Apa dia seorang lelaki?" ibunya terdengar cekikikan.
"I-iya, Bu. Tapi dia cuma temanku kok. Dan kami tidur di kamar berbeda." Dendy takut ibunya berpikir negatif terhadap dirinya.
"Intinya Ibu cuma mengingatkan, jangan pernah sakiti wanita mana pun ya?" Peremouan di balik telepon melirik suaminya yang duduk di sofa yang sama.
"Tentu, Bu."
Telepon berakhir saat mereka sudah kehabisan topik pembicaraan. Saat itu juga Adit melihat Sekar sudah tidak ada yang di sampingnya.
Segera ia menghampiri ke kamar. Dilihatnya Sekar meringkuk seperti bayi tak memakai selimut. Adit pun menyelimuti Sekar. Dia tersenyum melihat Sekar yang lelap dalam mimpi.
"Dia lucu juga," gumamnya.
Note : akhir-akhir ini saya up selalu malam, sekitar jam tujuh WITA ke atas. Maaf ya!
__ADS_1
Salam Numby's