Hidden Love

Hidden Love
Cukup Bagus


__ADS_3

"Hati-hati, Pak." Merry memegang bosnya dengan perhatian. Dev membawakan barang-barang milik Flore. 


Kalau saja dia tidak punya rasa gengsi, Flore mungkin akan menangis-- tetap diperlakukan baik oleh Merry dan Dev. 


"Terimakasih." Hanya kata itu yang mampu ia gumamkan. Hatinya kecewa mengetahui anak satu-satunya yang ia sayangi sama sekali tak peduli. Justru bawahan yang selama ini ia perlakukan semena-mena malah menolongnya dalam keadaan jatuh. 


Dev melajukan mobilnya pelan. Mereka sama sekali tidak berbincang seakan menyimpan perasaannya masing-masing. Merry hanya berbicara lewat pandangan pada Dev saat melihat orang yang masih dianggapnya bos terdiam mematung di sit belakang. 


Dev yang tahu maksud Merry hanya menggeleng mengangkat bahu tanda tidak tahu. Tetap saja ia melajukan mobilnya tenang. Bukannya mereka tidak khawatir akan kelanjutan hidupnya tapi mereka juga punya hati yang harus menolong bosnya. 


Sekarang Merry dan Dev sudah tidak punya pekerjaan. Mobil yang dibawa sekarang ini adalah satu-satunya harta yang dipunyai Dev selama bekerja dengan Flore. 

__ADS_1


Ditengah perjalanan Merry baru ingat, kemana mereka harus pulang?


"Dev! Kita mau pulang ke mana?" 


Deg. Dev baru ingat kalau mereka tidak punya tempat tinggal sekarang. Terpaksa mobil diberhentikan di tepi jalan. Merry dan Dev memikirkan jalan keluarnya. Bukan berarti Flore tidak gusar, dia juga sedang berpikir. 


Merry punya ide. Dia manggut-manggut seakan menimang keputusannya. 


"Gimana kalau kita jual saja mobil ini, lagian harganya lumayan. Kita bisa ngontrak rumah dan buat usaha kecil-kecilan," jelas Merry pada pemilik mobil, Dev. 


"Tidak apa, Pak. Saran Merry benar, saya harap Bapak bisa hidup sederhana mulai sekarang," jelas Dev ikut saran Merry. Ia tak keberatan dengan saran calon istrinya itu. 

__ADS_1


Flore pasrah, bukan ia tak mau hidup sederhana. Tapi yang dipikirkan sekarang adalah betapa dia begitu tak berguna sekarang. Flore juga memikirkan nasib anaknya yang harus melanjutkan sekolah. 


Dirasa tidak ada jawaban, Dev melajukan mobilnya. Dia akan menuju dealer mobil untuk menjual mobil kesayangannya. Uang hasil penjualn pajero sportnya akan digunakan untuk memulai hidup baru. 


Sampainya di dealer, semua pegawai tetap menyapa hormat Flore dan Dev--meski berita kebangkrutan orang ternama itu sudah santer di berbagai media. Flore tak mau kalah, ia hanya menebalkan mukanya saja. Dia merasa kembali lagi ke nol saat masih muda, tidak punya apa-apa seperti sekarang ini. 


Setelah acara tawar menawar selesai mereka pun naik taksi mencari kontrakan. Flore bagai ekor kuda, membuntut. Beruntung Dev pandai hal tawar-menawar. Mobilnya turun harga hanya sepuluh persen. Itu juga berkat ia yang sangat menyayangi mobilnya. 


"Nah! Ini dia rumahnya, cukup bagus…." Merry bersemangat menghibur semua orang. Dev merasa bangga punya calon istri yang bisa diajak hidup sederhana.


"Iya juga ya," sahut Flore manggut. Sontak membuat Dev dan Merry terheran senang. Mereka akan membangun usaha dari nol lagi. 

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa 'kan menjual mobil kesayangan kamu?" Merry bertanya setelah Flore masuk ke kamar ya g telah ditunjukkan Merry.


"Sama sekali tidak apa-apa demi kebaikan kita semua. Lagi pula kebaikan Pak Flore memungutku lebih dari ini. Dan kekuatan positif dari diri kamu membuat aku seperti sekarang ini." Dev tersenyum, Merry begitu haru. Mereka berpelukan. Sekarang ini mereka bahagia bisa memberikan kebahagian pada bosnya.


__ADS_2