Hidden Love

Hidden Love
22. Mampus!


__ADS_3

"Wah Jani bawa degem gais." Suara Hada adalah suara pertama yang menyambut mereka bertiga begitu memasuki rumah dan itu berhasil mengundang sorakan dari teman-temannya yang lain. Heran, sudah mau tengah malam tapi mereka masih seperti biasa. Seakan energinya tidak habis-habis.


Jani memutark bola matanya, malas menanggapi. Sementara Haris hanya terkekeh canggung, ia tidak tahu kalau dirinya dan Jani akan memberikan pengaruh seperti ini pada kelas kakaknya itu.


"Guys bukan gais, anjir," protes Jeni kemudian seraya memukul kepala belakang laki-laki itu dengan santai, mengabaikan tatapan tidak terima dari Hada. Hada mengusap-usap kepala belakangnya dengan mata yang memicing kesal ke arah perempuan yang duduk disebelahnya, "Lo ada dendam apa sama gue sih Jen?! Sensi mulu heran!"


Jeni balas mendelik kemudian mengendikkan bahunya acuh, "Jangan ditanya dong, sudah jelas banyak!"


"Nasib cogan, astaga," ucap Hada sembari mengelus dadanya sendiri, merasa miris dengan dirinya sendiri.


"Makanya jangan banyak omong!" sahut Jani ketika melewati Hada dan Jeni yang kemudian diikuti dengan adik kelas yang tangannya penuh dengan kantung belanjaan.


"Tumben Lo gak bareng geng Lo," ucap Yuli seraya menyerahkan sebotol minuman dingin pada laki-laki tadi. Kasihan juga Hada dinistakan terus.


"Nangkring di belakang mereka, gue mau ikutan disuruh nungguin pizza," balas Hada setelahnya dia bergumam 'terimakasih' pada Yuli setelah menerima botol minuman itu.


Yuli mengangguk paham, kemudian tangannya bergerak mengambil tiga botol lagi dari kantung yang ia bawa, "Buat yang lain, ntar kasihin."


Hada mengangguk, memilih untuk menurut, "Siap ibu negaranya Angga!" Balas Hada lagi sembari memasang pose hormat.


Dan Hada langsung dihadiahi pukulan lagi di belakang kepalanya, kali ini dari Yuli. Jeni disebelahnya sudah tergelak dengan puas.


Hidden Love


"Makan! Makan! Makan! MAKAN!!!" Dzikya berteriak heboh di akhir seraya menyerbu salah satu box pizza yang berada tepat dihadapannya. Laki-laki bermata sipit itu mengunyah pelan seraya menutup mata, ceritanya sedang menghayati acara makannya. Supaya seperti pembawa acara di acara makan-makan yang ada di televisi.


"Ternyata pizza yang ini sama yang di Bandung sama aja rasanya," komentarnya kemudian, setelah berhasil menelan.


"Tokonya emang sama anjir," balas Hada dengan mulut penuh dan kembali mengunyah.


"Bacot," sahut Latif singkat dan penuh penekanan, meski faktanya dia masih fokus sama ponselnya.


Anak-anak perempuan sudah ada yang mengungsi di kamar dengan alasan mengantuk, tidak suka makan malam karena takut gendut dan sebagainya. Yang makan saja hanya Jeni dan Kia, yang memang sedang lapar. Juga beberapa anak laki-laki lainnya.


Angga yang sedaritadi hanya menyimak teman kelompoknya tiba-tiba menoleh ke arah Kia yang kebetulan duduk di sebelahnya. Kia-nya tidak sadar kalau Angga ada disebelahnya, lantaran fokus mengobrol dengan Malik.


"Ki, temen Lo mana?" Tanya Angga pelan, takut kedengaran teman-temannya, malas dia kalau ditanya-tanya atau parahnya digodain lagi sama mereka.


"Tidur, masih pusing kan tuh anak," balas Kia tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

__ADS_1


"Kalo Jani?"


Kia mengernyit kemudian memfokuskan dirinya pada Angga, "Dia kan ditarik-tarik adik kelas buat nemenin ngobrol sama Bu Rere di depan," balas Kia memilih mengabaikan rasa penasarannya yang tiba-tiba meninggi.


"Adik kelas? Bu Rere? Ah Haris?" tanya Angga dengan kepala yang dimiringkan dan raut yang bingung.


"Lo sama Jani ada apa sih, Ga?" Kia tidak membalas, dia malah balik bertanya. Mengundang ngernyitan aneh dari Angga.


Hidden Love


Jam 6 pagi, sudah ada beberapa orang yang bangun. Yuli heran kenapa dia bisa bangun sepagi ini tanpa alarm, terlebih semalam dia begadang, meski itu memang jam tidurnya seperti biasa. Namun tetap saja Yuli masuk ke jajaran anak yang susah untuk bangun tanpa dibangunkan.


Setelah mandi dan melakukan ritual pagi yang biasa ia lakukan, Yuli mengambil sebungkus coklat bubuk dari tasnya. Perempuan itu menoleh ke arah tempat tidur, Kia masih nyenyak, mungkin karena perempuan itu tidur lebih telat dari biasanya. Setahu Yuli, Kia bukan tipe orang yang suka bergadang.


"Yaudah biarin aja," gumam Yuli seraya berjalan keluar kamar. Membatalkan niatnya untuk membangun sahabatnya, dia ikut menoleh ke tempat tidur satunya lagi, Jani sudah tidak ada disana dan Jeni masih tertidur. Mungkin Jani keluar kamar saat Yuli mandi tadi. Dia kemudian berjalan keluar kamar, berniat pergi ke Dapur untuk menyeduh coklatnya.


Di Dapur sudah ada tiga orang. Angga yang sedang duduk santai di salah satu kursi meja makan sembari menyesap minuman yang Yuli yakini adalah kopi. Jani yang berdiri sambil mengaduk minuman yang Yuli yakini juga adalah kopi dan disebelahnya Jani ada adik kelas semalam yang sedang merengek pada perempuan itu. Angga menyimak interaksi dua orang itu dan sesekali dia ikut masuk ke dalam obrolan mereka.


"Ayo dong Kak Nay!"


"Nggak."


"Tapi, Mama dan Papanya Yasa tidak tinggal disini!"


"Calon Kak Naya nya aja disebelah, kenapa harus bawa Kak Yasa sih?"


"Memangnya kamu siapa?"


"MAMPUS DITANYAIN, MAKANYA PASTIIN HAHAHAHA," sahut Angga dengan tergelak puas di akhirnya. Tapi, setelahnya dia mendapat lemparan sendok bekas mengaduk kopi dari Jani dan Haris merenggut kesal.


"Gimana mau pastiin, Kak Nayanya juga masih fokus sama Kak Yasa."


"Kasihan!" Angga tertawa lagi setelahnya, melupakan fakta kalau dia dilempari sendok oleh Jani.


Yuli yang merasa sudah waktunya dia boleh bergabung akhirnya berjalan santai dengan niat mengambil gelas.


"Kak Yulii, Kak Angganya tuh," rengek Haris kemudian sesaat setelah Yuli berdiri di samping Jani.


"Bacot kamu!" Sahut Jani kemudian ketus.

__ADS_1


Angga tertawa lagi melihat ekspresi memelas yang dikeluarkan Haris. Bahagia sekali dia sepertinya kalau melihat orang lain tersiksa.


"Kak Yuli, Kak Angga kasih kaca coba!"


Yuli mengernyit dan memasang raut bingungnya, sebenarnya dia paham maksud Haris tapi lebih milih seakan tidak tahu apa-apa.


"Ngaco! Gue udah ngaca dan masih ganteng," balas Angga cuek lalu kembali menyesap kopinya lagi.


"Kak Yul, suruh Kak Angga ngaca kalau dia juga belum ngasih kepastian ke gebetannya!"


"Uhuk... uhuk." Angga langsung tersedak mendengar ucapan Haris. Setelahnya laki-laki itu menatap tajam ke Haris yang balas menatap dia dengan alis yang dinaik-turunkan seakan menggodanya. Setelahnya, dua orang itu kembali berdebat lagi.


Yuli melirik aneh namun masih menyimak apa yang didebatkan oleh dua orang itu. Tidak begitu paham karena dia baru tahu Haris.


"Gue duluan Yul," gumam Jani pelan tapi masih bisa terdengar oleh perempuan itu. Yuli hanya mengangguk sebagai jawaban. Perempuan berambut pendek itu kemudian melangkahkan kakinya pelan dan tak butuh waktu lama Jani sudah hilang dari pandangan Yuli.


"Iya kan Kak Nay? Loh Kak Naya mana??"


"Mampus ditinggalin!" Balas Angga penuh dendam dan laki-laki itu kembali mentertawakan Haris lagi.


"Bacot Kak!" Ucap Haris sebelum lari kecil ke arah yang tadi Jani lewati juga.


"Puas banget anjir ketawanya!" Komentar Yuli seraya mencuci sendok bekas mengaduk coklat punyanya.


"Kapan coba si Jani kayak gitu ke Haris, anjir ngakak," balas Angga disela tawanya.


"Kayak gitu gimana?"


Pertanyaan Yuli tidak langsung ditanggapi karena laki-laki itu masih sibuk tertawa, "Biasanya kan si Jani gak judes ke Haris, baru sekarang doang. Astaga puas banget gue," balas Angga seraya memegang perutnya. Sakit dia kebanyakan tertawa.


"Lo cemburu Ga?"


Angga menatap Yuli aneh, "Sama siapa?"


"Sama Jani," balas Yuli terdengar jelas kalau perempuan ini ragu dan tiba-tiba merasa canggung.


"Yakali?! Kalau Lo punya degem kayak Jani, baru gue cemburu."


Yuli tersedak, dengan galak kemudian dia berbicara "Emang hak Lo apa?"

__ADS_1


Kalau ada Haris pasti Angga sudah di mampusin lagi.


__ADS_2