
Di ruang tengah sekelompok insan sedang asik minum kopi dan aneka temannya. Nampak sangat bahagia sekali. Tapi, sama sekali tidak ada yang tahu kalau Dyana masih luka dalam hatinya. Dia mencoba untuk tetap tertawa.
"Trus Dy mau lanjut sekolah apa gimana?" tanya Adit.
"Kalau aku ikut Kak Adit ke kota gimana?"
"Tentu boleh dong," jawab Adit.
Sejujurnya Dyana masih ingin lanjut bersekolah. Namun, Ibunya tentu tidak bisa membiayai kuliahnya.
"Kak, aku sih inginnya kuliah sambil kerja."
Adit sedikit tercengang mendengar kemauan Dyana. Dia salut dengan keinginan sepupunya, tapi dia tidak rela kalau Dyana merasakan apa yang ia rasakan dulu.
"Kamu ngga usah kerja, Kakak bisa biayain kamu Dy," jelas Adit.
"Dy udah biasa kok," jawab Dy.
Adit tidak bisa menolak keinginan Dyana.
Ibunya pun hanya menurut. Ia tak berani berkomentar karena tidak bisa membantu lebih untuk membiayai anaknya.
"Oke, kita akan ke kota besok dan mengurus semua keperluan sekolahmu," terang Adit.
__ADS_1
Keesokannya mereka pun berangkat. Ibu dan adiknya agak sedih karena Dyana akan tinggal di kota. Tapi, Dyana berjanji kalau libur akan pulang.
"Dy, apa kamu yakin? Lebih baik jangan kuliah sambil kerja," saran Adit.
"Tapi Kak aku udah besar dan Dy bisa mandiri," jawab Dyana tetap pendirianz.
Adit diam saja, perjalanan hanya ditemani lagu-lagu mengasyikan.
Seorang pria bersama lelaki tua baru saja turun dari pesawat. Mereka sudah tiba di Jepang. Sastra sedikit takjub, tapi segera enyah karena hatinya merasa setengah untuk tinggal di sini.
Mereka segera menuju ke rumah yang dimiliki Ayahnya.
Sampai di sana Sastra langsung beristirahat. Ia membayangkan bagaimana hari-hari barunya di negara orang. Apalagi tidak bersama orang yang ia sayangi.
Sastra membongkar barang-barangnya. Lagi-lagi ia menemukan gantungan milik Dyana. Rasanya rindu yang ia rasakan makin memuncak.
"Aku harus bisa melupakanmu," kata Sastra.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu. Sastra sama sekalin tidak percaya siapa yang ada di depannya.
"Yuki?" Seorang perempuan berwajah imut dan cantik serta badan yang mungil bekulit putih masuk ke kamar Sastra. Matanya yang sipit khas orang jepang membuat makin lucu.
"Halo, Sastra!" omongnya dalam Bahasa Jepang.
__ADS_1
"Kamu kok tahu aku di sini?" Sastra menjawab dengan bahasa yang sama.
"Iya, aku tahu dari Om Darma." Yuki kemudian duduk di sofa tanpa malu-malu.
Yuki adalah teman Sastra. Sewaktu ia kecil pernah beberapa kali mengunjungi Jepang dan Yuki lah yang selalu ia ajak bermain.
"Apa kabar lama tidak bertemu?" Sastra memeluk Yuki. Pelukan itu pun dibalas.
"Baik. Sastra gimana?"
"Baik juga." Sastra mengajak Yuki untuk keluar untuk merayakan pertemuan mereka.
Ke restoran tujuan mereka. Yuki sangat senang bisa bertemu kembali dengan teman kecilnya. Meski jarang bertemu, mereka masih akrab sama seperti dulu.
Sastra juga tak menyangka kalau ia bisa bertemu dengan teman kecilnya lagi. Entah kenapa ia serasa menemukan senyumnya yang hilang sejak kemarin.
Yuki dan Sastra berjalan tak henti-hentinya mengobrol tentang keseharian mereka.
"Oh, ternyata kamu mau lanjut di Nagoya University juga?" Sastra merasa senang. Mereka memang seumuran.
"Iya, aku ingin jadi dokter." Senyum Yuki mengembang, sangat menggemaskan.
Tak henti-henti mereka tertawa di jalan. Suasana kota sangat ramai namun tetap tenang. Sejenak Sastra melupakan masalahnya, tapi itu yang ia inginkan.
__ADS_1