Hidden Love

Hidden Love
14. Hehehe


__ADS_3

"Gaaa kok lamaaa???"


Ke sembilan kalinya Yuli merengek.


"Anggaaa mie ayam guee manaaa???"


Cukup, sampai di sepuluh saja.


"Anggaaa mi—"


"Stop, Blis." Yuli mencebik begitu ucapannya dipotong oleh Angga juga menyadari kalau Angga kembali memanggilnya seperti biasa.


Hening terjadi lagi, Angga juga merasa tumben, biasanya penjualnya mendahulukan Gamers Kelas. Apa mungkin karena kali ini dia datang dengan Yuli?


"Anggaa kok lama banget?" Yuli merengek lagi.


Angga ketawa kecil, entah kenapa tapi dia suka melihat Yuli yang merengek seperti ini, biasanya Yuli kan sangar kepadanya. Bahkan perempuan itu merengek dengan kepala yang disandarkan ke meja, bibirnya berulang kali berdecak kemudian manyun dan kembali merengek. Ini Yuli sadar tidak sih?


Angga gemas sendiri jadinya. Gemas antara memang lucu karena Yuli merengek padanya dengan manja seperti seorang anak pada ibunya atau gemas karena menahan diri agar tidak memukul kepala anak ini karena suaranya keras dan berhasil membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, Angga malu.


Yuli akhirnya diam setelah mendapat pelototan dari Angga, meski bibirnya masih maju ke depan dan menghindari kontak mata dengan laki-laki dihadapannya. Merajuk ceritanya.


"Sabar Yul, disini yang mesen bukan Lo doang," ucap Angga lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya karena ponselnya bergetar.


Yuli menatap Angga, ketika tahu lelaki itu ditelepon. Biasanya orang-orang akan menjauh ketika sedang terlibat dalam obrolan telepon, tapi Angga tidak. Dia masih duduk dihadapan Yuli dengan mata yang menatap ke arah meja.


"Halo?"


"..."


"Ngga Kir, lagi ngadem aja," ucap Angga kemudian,Yuli mengangguk, tahu siapa yang telah menelepon Angga.


"..."


"Tenang, ada temen kok. Gak mungkin kakak bawa kaca," ucap Angga lagi. Yuli mengernyit, kaca untuk apa coba? Angga tidak senarsis itu kan sampai bawa kaca kemana-mana?


"..."

__ADS_1


"Bilang aja Kakak nginep di rumah Dzikya," jawab Angga lalu tidak berselang lama laki-laki itu menutup sambungan teleponnya secara sepihak, malas dengan apa yang ditanyakan Kirana sebelumnya.


Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. Dan itu cukup sukses menghilangkan rasa canggung diantara mereka setelah telepon dari Kirana.


Canggung karena Angga merasa tidak enak sudah mendiami perempuan itu untuk mengangkat telepon dan Yuli yang bingung sama apa yang dia rasakan sekarang.


Hidden Love


"Makasih yah Yul dah mau nemenin gue." Angga berbicara seperti itu seraya melepaskan pengait helm Yuli dan melepaskan benda itu dari kepala perempuan itu.


Yuli mengangguk lalu tersenyum, "Sans Ga, thanks ya udah traktir hehe."


Angga balas tersenyum, "Kalo gitu gak keberatan dong kalo nanti-nanti gue ajak kulineran? Ditraktir kok asal jangan berlebihan."


"Tergantung waktu dan suasana aja ya Gan," jawab Yuli, Angga tertawa tanpa sebab setelah mendengar jawaban dari perempuan itu.


"Gih masuk, udah malem."


Yuli mengangguk, "Lo nginep di si Dzikya?"


"Nguping pas Lo teleponan."


"Oh iya ya pasti kedengeran, hehe."


"Hehe-hehe pulang sana dah malem!"


Angga tersenyum lagi, kali ini terlihat tulus. Dia mengusak rambut Yuli lalu menaiki motornya.


"Malam Yuli, gue balik ya."


Setelah Angga menjauh barulah Yuli balik badannya dan jalan pelan ke arah rumah.


"Angga mau traktir lagi hehe."


Dan akhirnya dia ikutan hehe juga.


Nyaris tengah malam Yuli masih santai menonton drama. Belum satu jam dia pulang ke rumah, namun bukannya tidur dia malah lanjut menonton drama.

__ADS_1


Ponselnya kembali bersuara, Yuli menghentikan sementara layar ponselnya. Kemudian mengernyit karena mendapati telepon dari Angga lagi.


Tanpa pikir panjang lagi, Angga langsung mengangkat teleponnya.


"Kirain dah tidur." Itu yang pertama kali menyapa pendengarannya, ini memang mirip suara Angga hanya saja Yuli merasa sedikit aneh.


"Belum ngantuk!"


"Paksain kek."


Yuli menggigit pipi bagian dalamnya, ini kenapa Angga tiba-tiba jadi perhatian seperti ini? Yuli mulai merasa tidak tenang.


"Iya iya, Lo juga kenapa belum tidur? Biasanya Lo ada jadwal endorse kan kalau weekend?"**


Terdengar kekehan dari sana, jujur saja Yuli merasa aneh karena meski suaranya memang suara Angga suara kekehannya ini berbeda. Tapi Yuli memilih untuk tidak ambil pusing.


"Perhatian banget sih, cocok jadi teman hidupku loh. Hehehe canda."


Yuli membulatkan matanya, ini benar-benar Angga kan?


"Najis!"


"Yul, gue itu ternyata pendiam ya?"


Yuli mengernyit, ini kenapa Angga jadi random begini?


"Lo pendiam darimananya sih, Tan?" Tapi tetap aja sama dia ditanggapi.


"Iya, gue pendiam. Diam-diam suka Lo, hehehe."


Yuli membulatkan matanya lagi, matanya semakin melotot begitu mendengar suara orang seperti dibanting disana terlebih ada pekikan kesakitan juga.


"LO NGAPAIN NGOMONG GITU KE YULI SIH, KYA?! MENTANG-MENTANG GUE LAGI DI WC!"


Yuli mengernyit, jadi tadi itu Dzikya? Kenapa suara dua orang ini bisa mirip? Yuli meringis, lupa mengenai fakta kalau Dzikya bisa meniru suara ketiga sahabatnya, Angga, Latif dan Hada.


Pantas saja ini seperti bukan Angga tadi, tapi kok Yuli merasa sakit ya begitu tahu kalau itu bukan Angga?

__ADS_1


__ADS_2