
Hari pertama liburan tidak semuanya pergi keluar dan langsung jalan-jalan. Bu Rere juga menyarankan kalau hari pertama ini dipakai untuk istirahat saja, mengingat murid-muridnya banyak yang bergadang semalam. Tapi, tetap saja ada yang keluar.
Contohnya, Dzikya dan Widia yang baru saja pergi ke dengan alasan hunting food padahal mereka baru saja selesai makan berat, sarapan menjelang makan siang. Kemudian, Jani yang ditarik-tarik Haris untuk ikut ke rumah adik kelasnya, dia bisa menolak namun jika Bu Rere yang sudah meminta dia bisa apa? Hana sedari tadi terus-menerus menggodanya dengan kalimat 'Gue aduin Yasa ya.'
Padahal punya kontaknya saja tidak. Tapi, Jani hanya iya-iya saja karena hal itu berhasil membuat mood Hana yang hancur karena dipaksa Haris untuk pulang sejenak kembali membaik. Bu Rere dan keluarganya tentu ikut bersama mereka.
Terus, Dhimas, Malik, Kia dan Pitri keluar dengan alasan hanya berkeliling saja. Sisanya hanya santai di rumah.
"Bosaaan, nyesel gue gak ikut si Jani tadi," rengek Jeni sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dia duduk di sebelah Hada yang sedang memainkan ponselnya. Hada kaget, dia langsung mendelik ke arah Jeni yang sudah berhasil membuatnya terkejut.
"Diem Jen," celetuk Hada kemudian.
Latif tidur di kamarnya, Hada main game sekaligus jadi penunggu sofa depan TV, Dzikya pergi keluar dan Angga yang bermalas-malasan dengan merebahkan dirinya diatas karpet, kepalanya sedikit lagi menyentuh kaki Hada yang duduk di sofa. Namun keduanya sepertinya tidak sadar.
Dari situ saja bisa disimpulkan kalau Gamers Kelas sibuk masing-masing.
"Ini emang gerah atau gue aja?" Gumam Angga kemudian bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Had, gue ijin keluar yah," ucap Yuli tiba-tiba.
Hada memang ditunjuk jadi pengganti Bu Rere sementara. Harusnya Pitri atau Yuli karena dua orang itu ketua dan wakil kelas, tapi dua-duanya malah mau keluar. Jadilah Hada Pratama yang terpilih.
"Eh ikut dong!" celetuk Angga dan menatap Yuli dengan penuh harap. Yuli balas menatap Angga, Jeni sama Hada sempat heran tapi memilih untuk abai. Meski pada faktanya, jiwa kompor mereka tidak bisa hilang membuat keduanya pura-pura terbaru untuk menggoda adegan tatap-tatapan itu.
"Ayo aja," balas dengan mata yang masih menatap Angga.
"Oke! Bentar gue ambil dompet dulu!" Sahut Angga dengan senyuman antusias terukir di wajahnya kemudian berlari kecil ke arah kamarnya yang ada di lantai dua. Kamarnya bareng Gamers Kelas sebenarnya.
"Kok Lo mau ajak dia, Yul?" Tanya Hada tanpa menoleh. Sibuk sama game nya. Hada memang mudah fokus dan sulit teralihkan, dia bahkan mengabaikan keberadaan kepala Jeni yang menyandar pada bahunya. Sefokus itu Hada.
Yuli yang melihat pemandangan itu langsung pura-pura batuk, hitung-hitung balas dendam atas apa yang dilakukan dua orang itu tadi. Tapi, dua orang itu masih bersikap biasa saja, membuat Yuli mengusap-usap dada sendiri. Orang lain menggodanya dia langsung tersinggung, giliran dia mau menggoda orang lain pada biasa aja.
Yuli hanya bisa bersabar.
"Biar gue gak canggung aja sama Anto," balas Yuli kemudian.
__ADS_1
"Anto?"
Yuli baru saja mau buka mulut untuk menjawab pertanyaan Hada tapi pertanyaan berikutnya sudah keluar dari mulut Jeni.
"Anak sebelah?"
"I—"
"Mau ngedate kalian?" Potong Hada lagi.
"Eng–"
"Angga nyamuk dong?"
Yuli mengelus dada lagi, angkat tangan dia jika berhadapan dengan Hada dan Jeni.
"Yok Yul!"
Yuli menghela napas lega, beruntung Angga cepat datang. Jadi Yuli punya alasan untuk menghindari dua orang ini.
"Ngapain bawa jaket? Panas gini," ucap Yuli.
Angga mengernyit, "Yah kan cuma bawa? Bukan pake?"
Yuli mengelus dada lagi.
Hidden love
Angga memasang earphone-nya, hampir 10 menit dia sama Yuli berdiam diri di depan pagar rumah. Yuli yang minta, Angga tak berniat untuk bertanya lebih lanjut karena di pemikirannya perempuan ini sudah memesan kendaraan online dan sekarang mereka sedang menunggu itu.
"Maaf Yul, gue lama."
Angga tersentak mendengar suara itu, meskipun pake earphone telinga dia masih bisa mendengar dengan jelas.
"Santai aja To," balas Yuli kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Lah? Kok ada dia?! Jangan bilang dari tadi diem nungguin anak ini? Bukan nungguin gocar?" Seru Angga kemudian sambil menunjuk-nunjuk ke arah Anto, matanya menatap Yuli lurus.
Yuli mengernyit, "Emang nunggu Anto kok, gue baru aja mau pesen kendaraannya. Kenapa?"
Angga mengerjap-ngerjapkan matanya, mau bertanya lagi mengapa Anto bisa ada disini dan sekalian melarang atau protes supaya dia bisa pergi berdua saja denfan Yuli, tapi sepertinya kalau ia berlaku seperti itu akan buruk resikonya. Karena di kepalanya kembali mengingat perkataan Yuli tadi pagi.
"Emang hak Lo apa?"
Angga mengusap tengkuknya, "Pake mobil Jani aja gimana? Sayang ongkos," tawarnya kemudian. Asal berkata karena tidak tahu harus menanggapi pertanyaan Yuli seperti apa.
Yuli mengernyit lagi, "Bukannya dipake yah? Kan Jani ke rumah Haris?"
Angga menggeleng-gelengkan kepalanya, "Nggak kok, kuncinya aja dititipin di gue. Mereka pake mobil Bu Rere," balasnya.
"Emang boleh?" ranya Yuli lagi memastikan.
Angga menganggukkan kepalanya, "Asal isi bensinnya lagi aja."
"Oh yaudah, kalo Lo tahu jalannya," ucap Yuli.
Angga membasahi bibir bawahnya, dia baru saja pertama kali kesini bagaimana mungkin dia bisa tahu jalanan daerah sini?
"Santai Yul, kan ada gue," sahut Anto kemudian.
"Lo bisa nyetir?" Tanya Angga kemudian.
Anto mengangkat kedua alisnya, "Mobil sih nggak. Tapi, gue bisa nunjukin arah kan?"
"Nah gitu aja, nanti gue sendirian duduk di belakang," putus Yuli kemudian membuat bahu kedua laki-laki itu menurun seketika.
"Gue ambil kuncinya kalau gitu, bukain dong gerbangnya." Angga tanpa menunggu jawaban dari dua orang itu langsung berjalan cepat memasukki daerah rumah lagi. Berniat mengambil kunci mobil Jani yang ada di kamarnya.
"Lo janjiannya sama gue aja kan, Yul?" Tanya Anto sesaat setelah Angga menghilang dari pandangan mereka berdua
Yuli tersenyum dan mengangguk, "Kalo berdua doang, gue takut dia marah sama gue nanti."
__ADS_1