
Sebenarnya ada satu hal yang baru-baru ini berkeliaran di pikiran Yuli. Sesuatu itu berhubungan dengan Angga. Yuli juga tidak ragu untuk bertanya langsung pada laki-laki itu, hanya saja Angga sudah tuga hari ini tidak masuk. Yuli tidak tahu apa alasannya sampai Angga tidak sekolah selama tiga hari berturut-turut. Dia tadinya mau tanya bagian absensi hanya saja gengsi, belum nantinya dia pasti mendapat ledekan dari teman-teman sekelasnya itu.
Jam terakhir ini kosong, gurunya tidak hadir. Dan beruntungnya mereka karena guru mata pelajaran prakarya itu tidak menitipkan tugas sama sekali. Yuli sebenarnya suka jam kosong, tapi hari ini terasa beda. Dia tadinya mau gabung sama Kia tapi perempuan itu tampak nyaman mengobrol dengan Malik, Yuli tidak ingin jadi nyamuk. Alhasil, Yuli bengong sendirian di bangkunya, karena teman sebangkunya pun tidak hadir hari ini.
"Hei hei kenapa kamu kok bengong sendiri?" tanya Dzikya tiba-tiba sambil bernyanyi ala-ala. Yuli yang memang tengah tenggelam dalam lamunannya langsung terkesiap kaget.
"Kangen Angga ya, Yul?" tanya laki-laki bermata sipit itu kemudian setelah mendudukan dirinya di bangku yang ada di depan Yuli. Dzikya duduk dengan posisi membelakangi papan tulis.
"Dih, nggak," jawab Yuli langsung, lengkap dengan nada ketus andalannya.
"Halah tsundere!" Yuli tidak membalas, lebih tepatnya tidak tahu harus membalas apa. Karena kata yang keluar dari mulut Dzikya barusan asing untuknya.
Dzikya mengeluarkan senyuman andalannya membuat Yuli mengernyit lagi, merasa curiga.
"Angga sakit loh, dia dirawat di rumah sakit," celetuknya jenudiab.
"Masa?" tanya Yuli datar, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya yang tiba-tiba datang.
"Buat apalah gue bohong. Kalo bohong sama aja gue nyumpahin Angga," balas Dzikya dengan ketus, merasa diremehkan.
Yuli mengangguk dengan masih mempertahankan raut tenangnya. Meski tidak dapat ia sangkal kalau sekarang dirinya cemas setengah mati. Jadi itu alasannya Angga tidak sekolah.
"Mau ikut jenguk gak? Rencananya hari ini Gamers Kelas sama WDH bakalan bareng-bareng buat jenguk Angga pulang sekolah nanti, jadi langsung," jelas Dzikya seraya berdiri, menatap Yuli lurus.
__ADS_1
"Oh boleh," jawab Yuli
masih datar, seakan tidak peduli.
"Nanti jangan pulang duluan Lo!"
"Iya-iya." Yuli kemudian kembali tenggelam dalam lamunannya, memikirkan kalimat apa yang akan dia ucapkan saat bertemu Angga nanti.
Mungkin Yuli tidak akan menanyakan hal itu dulu, perihal siapa Kirana untuk Angga. Karena keduanya tampak dekat.
Hidden Love
"Angga Earthan~ " Dzikya tanpa tau malu langsung masuk ke ruang rawat Angga dan memanggil sahabatnya itu dengan mendayu.
Karena ketika yang lain tadi menikmati jamkos, Dian harus latihan nari karena dia dipercaya untuk ikut lomba.
"Sorry Di," ucap Dzikya lalu mengelus pelan dahi Dian yang mengenai punggungnya sebentar sebelum kembali berbalik lagi dan memasang senyuman yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Halo Kirana~" sapa Dzikya kemudian seraya melambaikan tangannya ke arah sosok lain yang ada di kamar rawat Angga itu, alasan kenapa dia berhenti secara tiba-tiba.
"Halo Kakak-kakak!" balas Kirana kemudian, membalas lambaian tangan Dzikya seraya tersenyum lebar dengan mata yang menyipit. Dia antusias, karena kata Angga teman-temannya itu menyenangkan. Dan Kirana hanya kenal dengan Dzikya, Hada dan Latif saja yang lainnya dia hanya sekedar tahu.
Satu persatu dari mereka masuk ke kamar Angga, Hada yang terakhir masuk langsung menutup pintunya.
__ADS_1
"Itu si Angga tidur?" tanya Widia setelah berhasil menerobos Dzikya dan Dian, membuat dirinya ada ditengah keduanya. Bertanya karena Angga tampak tidak terganggu dengan kehadiran mereka.
Kirana mengangguk, "Efek obat, ini juga tumben. Biasanya Kak Angga gak mempan tidur karena obat," jelasnya kemudian seraya merapihkan alat bekas makan Angga. Menumpuknya agar mudah untuk dibawa.
Yang lainnya mengangguk paham kemudian secara berurutan duduk di sofa, meskipun sofa itu hanya mampu menampung empat orang. Jadilah hanya diisi oleh para perempuan, Widia, Dian, Hana dan Yuli. Sedangkan Dzikya, Latif dan Hada lesehan dilantai.
"Kakak-kakak istirahat aja. Biasanya Kak Angga gak bakalan lama kalau tidur jam segini." Kirana berucap sembari membuka pintu, dan keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban dari kakak kelasnya. Mungkin Kirana berniat untuk mengembalikan alat-alat itu.
Dian memejamkan matanya sembari mengubah posisi tas punggungnya menjadi di pangkuannya, ia menyandarkan dirinya pada kepala sofa kemudian menyamankan diri," Han, bangunin gue kalau kalian mau pulang yah," gumam Dian pada Hana, Hana balas mengangguk. Dian memang terlihat capek.
"Tidur aja Di," ucap Widia seraya menepuk singkat kepala temannya itu.
Yuli kemudian turun, memutuskan untuk duduk lesehan di sebelah Angga. Dia memberi isyarat pada Hana untuk bergeser, memberi ruang pada Dian. Kasihan juga, kalau keempatnya duduk di sofa, Dian agak terhimpit.
"Yang tadi itu Kirana," ucap Hada tiba-tiba tapi pelan ke arah Yulu. Takut membangunkan dua orang yang tertidur di ruangan itu, suaranya kan lumayan keras.
"Dia yang suka nitipin sarapan ke Dzikya buat Angga. Dia orang yang selalu rawat Angga pas sakit, begitupun sebaliknya," sambungnya lagi, berbisik diakhir. Mungkin merasa ragu untuk menyampaikan itu pada Yuli.
"Intinya, sejauh ini Kirana selalu nemenin Angga pas sakit."
Yuli mengangguk, mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit kamar dengan menerawang.
Jadi, sepenting itu peran Kirana untuk Angga.
__ADS_1