Hidden Love

Hidden Love
Kecewa


__ADS_3

Dyana duduk dengan kasar, ia menyesali dengan keputusannya tersebut. Di dalam hatinya ia sangat senang ternyata Sastra menjemputnya kembali bahkan menyadari perasaan Dyana kepada Sastra. Tapi, pikirannya berubah saat ingat ancaman Sekar. Bukan hanya keluarganya yang jadi taruhan tapi juga dirinya dan Sastra.


Kemarin saat ia menghidupkan hp-nya tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. 


"Aku tahu kamu sama Sastra. Ingat! Kalau sampai kalau kamu jadian, ingat perjanjian kita waktu itu!"


~ Sekar~ 


Begitu pesan yang terkirim. Mendadak Dyana membeku, bahkan dirinya tak bersama Sastra sekarang ini. Dari itu ia punya firasat kalau Sastra mengikutinya ke kota.


Ingatan itu terus berputar-putar di otaknya. Adit yang masih tak mengerti dengan keadaan ia lalu menghampiri Dyana. Wanita yang bernama Dita ikut keluar setelah tahu Sastra pergi.


"Sebenarnya dia siapa, Dy?" Tanya Adit heran, dia belum sempat menanyakan itu sedari tadi.


Dyana menghapus air matanya cepat, "Dia teman aku di desa, Kak." Jawabnya sambil tersenyum terpaksa.

__ADS_1


"Udah, kamu cerita aja. Tidak mungkin kalian tidak ada apa-apa. Kamu jelaskan saja, Dy. Mungkin dengan bercerita beban kamu sedikit hilang." Adit berbicara dengan lembut agar sepupunya mau berbagi kesedihan. Sebab, Adit paham betul kalau orang di depannya baru saja mengalami masalah.


"Jadi, jadi dia itu orang yang pernah aku tolong. Dia pernah tinggal di rumah, maka dari itu kita sudah saling kenal. Tapi, dia juga orang yang aku suka sejak tiga tahun lalu. Dan tadi aku sangat senang dia menyatakan perasaan padaku. Cuma aku menolak dia, hingga dia marah. Padahal aku terpaksa mengatakan itu." 


Jelas panjang lebar Dyana karena dia sudah percaya menjelaskan masalahnya pada Adit. Dia sudah tidak tahan memendamnya sendiri dan saat ini hanya dia yang ada sekarang ini.


"Kenapa kamu menolak dia? Padahal jelas-jelas kalian saling suka? Apa ada sesuatu terjadi?" Adit kembali bertanya penasaran. Mereka menghiraukan orang-orang yang mulai berdatangan di restaurant itu.


Dyana menghela nafas, menahan air matanya saat mengingat kejadian tadi. Ia memilih tetap menjelaskan agar tenang.


Merasa terlalu mengekang untuk bertanya, Adit kemudian menawarkan untuk jalan-jalan ke tempat indah di kota itu.


"Ya udah, mungkin dia masih emosi. Dan kalau kamu memang mencintainya, pasti ada jalan untuk kalian bersatu. Nanti coba kamu bicara baik-baik agar dia mengerti. Sekarang, lebih baik kamu tenangkan diri dulu." 


"Bagaimana kalau kita ke pantai?" Bujuk Adit agar Dyana senang.

__ADS_1


Dyana tersenyum kemudian mengangguk, mungkin  dengan ini ia bisa mencari jalan keluarnya.


Lagi pula, ia akan ke kampung dua hari lagi. Sudah ada pemberitahuan untuk hadir agar bisa melihat pengumuman kelulusan dan akan diadakan perpisahan juga.


Dyana akan memberitahu Adit nanti. Jadi, untuk sekarang ini ia akan menuruti ajakan sepupunya itu. 


Adit tersenyum lega untuk saat ini karena Dyana kembali tersenyum. Meski mata dan hidungnya merah. Tapi, wajahnya terlihat lucu dan menggoda. Adit yang melihatnya pun gemas.


Di kediaman Darmana.


"Fyuh, akhirnya sebentar lagi semua perusahaan milik Flore jadi milik saya. Dengan itu, dia dan anaknya itu tidak akan lagi bisa merendahkan saya." Darma, Ayahnya Sastra sangat senang. Rekannya yang selama ini hampir menusuknya kini akan segera ia akan gulingkan.


Sekar pun sama sekali tidak menyadari bahwa Papanya akan segera bangkrut. Ia terlalu sibuk dengan urusan cintanya yang tak kelar-kelar. 


Di jalanan kota, mobil mewah melaju dengan kecepatan kencang. Sastra tidak bisa mengendalikan emosi. Ia heran dengan Dyana yang terus menutupi perasaannya dan tidak mau diajak balik ke kampung. Di pikiran Sastra mungkin Dyana sudah jatuh cinta dengan orang lain. Atau jangan-jangan dengan sepupunya sendiri. Apalagi, dia sangat tampan dan begitu lembut. Jelas sekali dia sangat memerhatikan Dyana begitu sayang.

__ADS_1


Setelah ini, Sastra tak punya harapan lagi untuk tetap di sini atau di desa. Semua orang sudah tak peduli padanya. Mungkin setelah kelulusan ia akan segera membuat keputusan untuk fokus pada masa depannya. 


__ADS_2