
"Dy! Dyana?" Adit masuk ke kamar Dyana tanpa mengetuk pintu. Beruntung Dyana sudah memakai pakaian kerjanya.
"Ada apa, Kak?" Dyana masih memegang bedak di tangannya.
Adit melihat ke hpnya kembali.
"Ini!" Adit menyodorkan hpnya kepada Dyana. Dia begitu senang hingga tak sabar Dyana melihatnya.
"Wah! Benar aku diterima di jurusan Bahasa Inggris?" Dyana begitu gembira melihat pengumuman yang dia lihat.
Refleks Dyana memeluk Adit. Mereka berpelukan seakan menyambut mentari yang masuk lewat jendela.
"Itu artinya, bulan Juli aku sudah bisa sekolah. Yeay!" teriaknya tak percaya diterima di kampus terkenal di kota itu.
"Selamat ya, Adek!" Adit mengelus pucuk kepala Dyana.
Mereka sekarang berangkat bersama menuju restoran.
Sekitar tiga puluh menit mereka sampai di restoran.
Canda tawa temannya menyambut mereka. Tapi, ada yang berbeda. Seseorang yang kemarin datang sudah ada di sana.
"Halo, Dyana." senyumnya ramah. Yamada tersenyum juga pada Adit.
Mereka akhirnya masuk dan memilih berbicara di dalam.
__ADS_1
Ketiganya disuguhkan kopi dan roti oleh Mira.
"Oh? Anda dari Jepang, kenapa memilih Bali sebagai tempat liburan?" tanya Adit setelah basa-basi.
"Bukankah semua orang tertarik ke sini. Saya juga tertarik untuk mengetahui budaya dan saya senang photography," jawabnya memakai Bahasa Inggris.
Pagi itu mereka membincangkan setiap pertanyaan Yamada. Mulai dari kuliner hingga kebiasaan masyarakat selain itu dia juga menanyakan tradisi.
Adit merasa tidak terganggu meluangkan waktunya untuk tamu pertamanya pagi ini.
"Apa Anda sudah bekerja atau masih sekolah," tanya Dyana karena pria di depannya mencatat semua jawaban mereka.
"Saya baru tamat SMA, ke sini untuk liburan sebenarnya." Senyumnya tidak berhenti mengembang.
Benda pipih yang dibawa Yamada bergetar menyala di atas meja. Pembicaraan sejenak dihentikan. Ia berdiri tapi masih di tempatnya.
"Hallo, Yuki!" katanya dalam Bahasa Jepang.
"...."
"Besok aku balik, ini masih bertanya di salah satu restoran." Yamada selalu tersenyum ramah saat berbicara.
Dyana dan Adit hanya diam, hening. Tak kalah dengan Mira dan kawan-kawannya yang melongo, bahasa mereka tidak dimengerti.
Yamada ( やまだ ) duduk kembali.
__ADS_1
"Saya rasa pertanyaan saya sudah habis." Yamada merapikan buku, kamera dan penanya dimasukkan ke dalam tas. Ia kemudian mengambil sebuah amplop.
"ありがとう ございます"
Arigatou gozaimasu.
Yamada menyerahkan amplop pada Adit, tadinya ia akan berikan amplop itu pada Dyana. Tapi, setelah ia tahu Adit adalah bos sdkaligus sepupu waitress yang diajaknya berbincang maka Adit memberikan itu untuk keduanya.
Adit menerima amplop tersebut. Biasanya kalau orang asing memberikan sesuatu pasti harus diterima. Karena kalau dia memberi pasti atas kemauannya.
"Sayounara," kata Dyana. Dia dan Adit mengantar ke depan.
Mereka masuk lagi ke dalam.
Adit mengumpulkan teman sekaligus karyawannya. Ada lima orang yang bekerja hari ini.
"Ini untuk kalian semua!" Senyum para karyawan mengembang.
"Terimakasih atas kerja samanya," lanjut Adit.
Dyana pun ikut membagikan. Teman-temannya begitu senang mendapat rejeki sepagi ini. Maka dari itu diantara mereka tidak pernah ada yang iri atau saling menjatuhkan. Sebab, Adit bossnya selalu menyamakan mereka. Adit tidak pernah memperlakukan mereka begitu rendah. Diantara mereka semua layaknya bos dan teman.
Dyana ikut senang, dilihat dari amplopnya lumayan juga. Dia pasti akan dikasih di rumah, walaupun tidak dikasih dia ikhlas, biaya hidupnya dengan Adit begitu mewah. Melebihi dari bagian yang akan ia terima.
Sepupunya sudah banyak membantu.
__ADS_1