Hidden Love

Hidden Love
The Accident


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.35, maka tiga puluh menit lagi Sastra akan sampai di tempat tujuan. Sekarang ini sudah memasuki pusat kota. Alamat yang dituju berjarak bebera kilometer dari tempatnya saat ini.


Kecepatan mobilnya ditambah, Sastra mulai lelah karena sudah tiga jam dia mengemudi. Dia kepikiran lagi, apakah Dyana sudah benar-benar pasti bersama sepupunya atau jangan-jangan.


“Tidak-tidak, mungkin saja Dyana sudah tertawa ria bersama sepupunya.” Ia segera mengalihkan pikirannya agar berpikir positif. Tapi tidak bisa. Ada rasa aneh menjalar saat membayangkan Dyana bercakap-cakap akrab dan tertawa lepas bersama lelaki lain. Walaupun itu sepupunya.


Di seberang sana ada seorang wanita yang menangis begitu terpukul entah apa yang ditangisi. Kemudian, ia menyebrang begitu saja tanpa melihat kiri-kanan, bukan juga di zebra cross. Wanita itu terus menghapus air mata yang terus berlinang terlihat frustasi dan tak fokus kalau ia sedang menyebrang di jalan raya.


CITTT...


Sastra berusaha mengerem mobilnya dengan kekuatan penuh. Tapi, orang di depan sana sudah terlanjur dekat. Sastra hanya bisa pasrah memejamkan matanya mengingat Tuhan. 


“Aa...” teriak wanita itu dan langsung tak tak terdengar lagi.

__ADS_1


Mendengar teriakan itu Sastra semakin memejamkan matanya. Setelah dirinya dirasa sanggup melihat yang terjadi, lalu dibuka perlahan kedua indra pengelihatannya. 


Dengan sekejap, orang-orang mendekat ke arah mobil Sastra. Sastra pun ikut turun tergesa menuju korban yang ditabraknya. 


Dilihat seorang wanita meringkuk tak membuka mata. Namun, nampaknya dia tidak terkena mobil. Tapi orangnya tak sadarkan diri. Karena orang-orang sudah banyak yang berdatangan akhirnya spontan Sastra meminta warga untuk membawa masuk ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.


“Tolong! Tolong dibawa masuk ke dalam mobil. Saya akan membawanya ke rumah sakit.” Katanya pada orang sekitar.


Kaki Sastra kegemetaran takut orang ini mati atau luka berat. Walupun tidak ada darah yang mengucur tetapi biasanya begitu tanda ada luka dalam yang berat.


Beruntung rumah sakit berada dekat sini. Sastra langsung memberhentikan mobilnya di depan ruang gawat darurat di RSUD DPS. Dipanggilnya perawat yang bersiaga disana, dengan cepat ia langsung mengikuti wanita yang dibawa dengan brankar. 


“Semoga saja wanita ini tidak kenapa-napa.” Sastra berdoa dalam hatinya.

__ADS_1


Wanita yang tak tahu siapa namanya itu dilihatnya berparas cantik dengan tubuh langsing. Tapi, matanya sembab dan rambutnya acak-acakan. 


Setelah sampai di depan ruangan, Sastra tidak diperbolehkan masuk. Sastra terus merutuki dirinya, belum satu masalah kelar dia harus tertimpa musibah lagi. Menyangkut nyawa orang lagi. 


Sastra ingin menghubungi Dyana, tapi dia sudah diblokir dimana-mana. Semoga di hati Dyana belum. Bahkan, Ibunya pun tidak bisa menghubungi nomornya. Mungkin kartu yang satunya dimatikan.


Selang beberapa menit akhirnya ruangan terbuka, dokter yang pertama kali menampakkan wajahnya. Dengan sergap Sastra bertanya, “Dok, bagaimana keadaan pasien? Apakah ada luka dalam?” Sastra malah bertanya seakan mendoakan pasien mengalami luka dalam.


“Pasien tidak mengalami luka dalam atau luka berat lainnya. Hanya saja, dia sangat shock tiba-tiba ada sesuatu akan menghantamnya. Dan pasien nampak sedang mengalami suatu masalah. Anda tidak perlu khawatir, dia bisa pulang setelah sadar nanti.” Kata dokter itu panjang lebar.


“Baik, Dok. Terimakasih.” Akhirnya Sastra bisa bernafas lega mendengar apa yang dokter itu katakan.


Sastra kemudian masuk untuk melihat korbannya. Wanita itu seperti sedang tidur dengan pulas. Dia kemudian memilih untuk duduk di sampingnya saja. Lebih baik dia menungggu wanita ini sampai sadar kemudian mencari Dyana lagi. 

__ADS_1


“Siapa nama wanita ini? Sepertinya dia sudah cukup dewasa. Kalau memang, kenapa dengan bodohnya ia menyebrang sambil menangis dan aku kena yang batunya.” Gerutu Sastra malas mengingat nasibnya hari ini. 


"Pagi tadi dengan terpaksa Sastra harus menuruti Sekar beromantis-romantisan di depan murid. Hingga dilihat Dyana dan dia kesal. Saat  mau ke sana meminta maaf dan mengatakan yang sebenarnya dia menghilang tak tau kemana, lalu saat sudah tahu kemana, aku malah menabrak orang. APES!” Sastra terus berbicara pelan seakan curhat dengan raganya sendiri.


__ADS_2