Hidden Love

Hidden Love
Bersama Adit


__ADS_3

Meski Dyana masih terluka dan sering murung mengingat Sastra sekarang sudah jauh di negara lain. Dia mungkin tak berkesempatan lagi bertemu dengannya. Dyana tetap membantu ibu dan adiknya berjualan. Tapi, hari ini berbeda karena ada Adit yang juga ikut membantu. 


"Kalau habis ini, kita tuang apa lagi Dy?" Adit tengah asik mengaduk adonan kue lapis. Dyana sedang menggoreng kue kering. Sedangkan ibu dan adiknya sibuk mengemas jajanan yang sudah dingin. 


"Habis itu, Kakak tuang santannya trus nanti biar Dy aja yang melanjutkan. Kakak istirahat saja, sedari pagi kan Kak Adit belum istirahat."


Adit menurut, setelah menuangkan santan ia langsung duduk di kursi di dapur. Kakinya memang sudah pegal, dia salut dengan Dyana yang dari pagi masih saja berdiri membuat berbagai kue.


"Kamu habis ini ngapain lagi Dy?" tanya Adit.


Dyana masih asik menggoreng lalu sambil mengukus adonan lapis, "Habis ini aku bawa pesanan ke rumah-rumah juga warung." 


"Ya sudah, aku ikut. Soalnya aku juga sudah lama tidak melihat situasi di desa ini," sahut Adit.


Dyana mengiyakan. Ia sangat senang ada yang menemani, karena biasanya dia pergi sendiri.


Sudah pukul 07.00 WITA semua dagangan siap. Dyana dan Adit pun bersiap-siap.


"Kita jalan apa bawa mobil?" tanya Adit.


Dyana malah tertawa mendengar pilihan Adit, "Kakak ini apaan sih, ya jalan lah! Masa kita bawa kue doang pakai mobil," ucap Dyana.

__ADS_1


"Kakak 'kan tanya Dy." Adit pura-pura kesal karena ditertawakan.


"Sini biar Kakak yang bawain satunya," tawar Adit.


Dyana memberikan satu tas penuh kue yang begitu berat. Dia sebenarnya sudah biasa membawa sendiri. Tapi, kasian juga kalau Adit tidak membawa apa-apa. 


"Berat juga ya." Adit terpogoh membawa tas itu. 


Mereka berjalan menyusuri setiap rumah. Hampir dua jam, akhirnya semua kue sudah habis. Dyana hanya sedikit lelah karena ia sudah biasa tapi Adit keringatnya mengucur dan nampak sangat kelelahan.


"Nih Kak." Dyana menyodorkan minuman pada Adit. Mereka duduk di bangku samping jalan. 


"Kamu ngga capek?" Adit terengah setelah menenggak minuman dengan ganas saking hausnya. 


***


Sampai di rumah Adit dan Dyana mandi giliran. Dyana membiarkan Adit duluan karena ia nampak begitu lelah. 


Setelah keduanya selesai mandi, mereka kemudian makan siang. 


"Dy, bagaimana kalau kita beli sepeda saja." Tiba-tiba Adit mengajukan saran di sela makannya.

__ADS_1


"Gimana ya, aku sebenernya pernah pusa sepeda tapi udah rusak. Mungkin nunggu nanti uang terkumpul saja," jelas Dyana.


"Bukan itu maksudnya. Kakak cuma minta persetujuan kamu, nanti Kak beliin kok."


"Tidak usah. Kakak 'kan masih banyak keperluan kuliah," ucap Dyana.


Adit merasa tersentuh, Dyana sangat pengertian. Tapi, dia sudah punya uang untuk itu. Sekarang Adit bisa membeli apa pun yang ia mau. Bisnisnya sedang di puncak sekarang.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu."


Dyana tidak tahu harus menjawab apa, ia memilih menghabiskan nasinya. 


Adit memesan sepeda melalui handphonenya. Bukan di suatu aplikasi tapi melalui WA ia memesan sepeda dari kota dan akan tiba besok pagi. 


Sehabis itu mereka istirahat. Dyana masuk ke kamarnya sedangkan Adit mengerjakan tugasnya di ruang tv sambil mengontrol karyawannya. Bengkel sedang banyak pelanggan. 


Sudah hampir sore, Dyana masih terlelap di kamarnya. Adit pun ketiduran di kursi panjang dari rotan di ruang tv. 


Mereka berdua tertidur di ruang terpisah, rumah pun sangat sepi. Lia dan ibunya masih belum kembali dari ladang. Mereka berburu bahan untuk kue seperti ketela, ubi, daun suji, kelapa dan daun. Mereka sengaja membeli langsung dari ladang agar lebih murah dan segar.


"Ngomong-ngomong di rumahmu ada siapa, Miya?" tanya pemilik ladang. Mereka memang tetanggan di rumah.

__ADS_1


"Itu sepupu jauh, dia baru datang." Miya mengembangkan senyumnya. 


Setelah itu pembayaran pun dilakukan. Mereka langsung pulang membawa sekeranjang bahan, Ibu Dyana yang membawanya sedangkan Lia membawa yang ringan-ringan.


__ADS_2