Hidden Love

Hidden Love
Danau Batur


__ADS_3

Sebulan kemudian, Dyana sudah pulih. Ibunya dan Lia pun sudah kembali ke kampung halaman.


 


 


Mereka senang semuanya sudah kembali semula. Sastra memilih tinggal di kota di rumahnya. Dia memilih kampus yang sama dengan Dyana. Lagi pula kampus itu sudah impiannya sejak SMA dan dia merasa nyaman di sana. Sedangkan Dyana tetap tinggal bersama Adit.


 


 


"Ibu aku ke kota dulu ya? Daa …." Dyana menaiki mobil bersama Sastra. Mereka mengantar ibunya dan Lia pulang kemarin.


 


 


Mia merasa senang, Lia juga ikut senang.


 


 


Kebahagiaan Dyana bak tidak dapat diukur dengan apa pun lagi. Orang yang dia sayangi kini sudah bersamanya.


 


 


Dyana tidak menyangka kalau terdiamnya srlama ini mengahasilkan buah manis. Dalam hati--Dyana masih tidak menyangka kalau bintang di sekolah menjadi kekasihnya saat ini. Dia pikir semua itu akan tetap menjadi mimpi. Namun nyatanya mimpi tersebut menjadi kenyataan.


 


 


"Aku tidak … menyangka kalau kita bisa bersama lagi," ucap Dyana masih malu-malu. Ia merasa canggung bersama Sastra di mobil berdua.


 


 


Sastra memegang tangan Dyana dengan tangan kirinya. Tangan yang satunya tetap setia memegang kemudi.


 


 


"Aku … sangat menyayangimu." Sastra masih saja merasakan gugup saat berdua bersama Dyana.


 


 


Dalam hati Sastra pun tidak kalah riang. Dia begitu bahagia bisa menjadi kekasih seorang gadis yang begitu mandiri dan kuat. Tidak terpikirkan selama ini ia bisa berubah menjadi lebih baik karena Dyana.


 


 


"Apa Ayahmu tidak marah?"


 


 


"Kenapa?" tanya Sastra bingung.


 


 


"Umm, kamu tidak jadi kuliah di Jepang. Bukannya cita-cita kamu menjadi dokter ya?" Dyana merasa tidak enak kalau sampai Ayah Sastra marah pada anaknya karena Dyana.


 


 


"Sama sekali tidak. Dia sekarang selalu mendukungku," timpal Sastra.

__ADS_1


 


 


Dyana merasa lega. Artinya dia tidak perlu khawatir.


 


 


"Apa kamu mau singgah ke tempat yang indah? Lagi pula kita mulai sekolah besok. Jadi, mungkin kita akan jarang dapat waktu jalan-jalan," tawar Sastra di tengah perjalanan menuju ke kota.


 


 


"Boleh saja," sahut Dyana. Dia tidak keberatan untuk singgah sebentar. Hari juga masih sore.


 


 


Tiga puluh menit kemudian--Sastra berhasil menggapai tempat tujuan. Danau Batur.


 


 


"Wah! Indah sekali …" Baru turun dari mobil Dyana sudah disuguhi pemandangan yang begitu indah. Gunung yang terpampang jelas dan danau yang membentang luas. Membuat mata Dyana serasa teduh. Bahkan semua mata yang memendang akan merasakannya.


 


 


"Indah ya?" Sastra memegang tangan Dyana erat. Seakan tidak mampu ada yang memisahkan.


 


 


Dyana malah berhenti menatap paparan indahnya pemandangan. Ia beralih melihat Sastra yang nampak sangat bahagia. Dyana merasakan genggaman hangat tangan Sastra. Begitu nyaman. Menambah point plus dari hijaunya alam.


 


 


 


 


"Apa kamu pernah ke sini sebelumnya?" Kini mereka duduk dipinggir danau.


 


 


"Belum, baru kali ini." Dyana merasa sedikit sedih, dia belum pernah membawa ibu dan adiknya ke tempat indah seperti ini.


 


 


"Ohh," ucap Sastra lalu menatap Dyana sebab sahutannya sendu, "kamu kenapa?"


 


 


"Ah? Ti-tidak. Aku … aku hanya sedih saja. Karena rasanya aku belum pernah membuat ibu dan adikku bahagia. Apalagi ke tempat seperti ini." Dyana berpura-pura riang kembali memandangi air danau yang tenang.


 


 


Sastra mengambil tangan Dyana, menggenggam dengan kedua tangannya.


 


 

__ADS_1


"Kamu tahu aku 'kan. Baru kali ini aku sebahagia ini. Bukannya sombong, kemana pun dan apa pun Ayahku bisa membelikan. Tapi, aku belum pernah sebahagia sekarang ini. Bahagia itu tidak selalu tentang pergi ke tempat indah Dy. Dan tidak selalu tentang uang." Sastra mencoba menghibur Dyana. Sebab ia yang lumayan punya saja belum pernah bahagia. Ayahnya dulu malah gila bekerja.


 


 


Dyana tidak menjawab. Ia menatap dalam mata Sastra.


 


 


"Terimakasih," gumamnya.


 


 


Sastra memeluk erat Dyana.


 


 


***


 


 


"Huah!" Dyana masih malas bangun. Pulang kemalaman membuatnya sedikit lesu.


 


 


"Dy! Ayo bangun dong! Kamu ini sudah punya pacar masih saja malesnya tidak ketulungan. Nanti kalau dijemput Sastra, kamu masih molor begini apa tidak malu?" Adit terus menarik tangan Dyana. Tapi Dyana sengaja memberat-beratkan tubuhnya agar tidak bisa dibangunkan. Matanya masih engggan untuk dibuka.


 


 


"Lima menit lagi …." Dyana malah makin menyelimuti dirinya.


 


 


Ting tong!


 


 


"Tuh kan …." Adit bergegas keluar membuka pintu.


 


 


Dyana langsung bangun. Takut disangka malas. Padahal sebenarnya ia masih malas bangun.


 


 


Benar saja--yang datang adalah Sastra.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2