Hidden Love

Hidden Love
Perhatian


__ADS_3

Pagi ini burung seakan berteriak memaksa Dyana untuk bangun. Padahal badannya masih nyaman bergelut dengan selimut tebal. Badannya juga masih sangat nyaman berada di kasur empuk nan besar.


"Huah…." Dyana sejenak duduk, rambutnya masih acak-acakan. Ia lalu terjingkat saat sesuatu lewat di pikirannya hingga sontak mulutnya berhenti menguap.


"Oh tidak! Hari ini aku akan pulang." Dyana segera lari ke kamar mandi. Ia tak peduli lagi pada nyanyian burung yang meneriaki seakan menyuruh cepat. Beruntung semalam habis jalan-jalan ia mengemasi barangnya yang tak seberapa. Hanya beberapa potong setelan baju dan hp saja. 


Segera ia mengguyurkan bergayung-gayung air pada tubuhnya. Meski air pancur modern tersedia di dalamnya, tapi untuk mempersingkat waktu dan kebiasaannya yang memang begitu, Dyana langsung saja menyabuni badannya gelagapan. Bahkan cahaya matahari sudah masuk ke celah jendela kamar mandi membuat dirinya makin tergesa. Tak menghabiskan waktu lima menit, Dyana sudah selesai mandi. Dia melilitkan handuk, tapi gerakannya berhenti saat merasa ada sesuatu yang aneh. 


"Oh tidak! Aku belum sikat gigi," pekiknya. Dyana dengan ganas meraup sikat gigi dan pastanya. Tanpa basa-basi ia langsung menyikat giginya yang rapi itu dengan kasar dan cepat. 


"Akk!" Dyana memekik, sikat giginya kelewatan hingga mengenai gusinya yang di ujung. Tapi, Dyana tak peduli akan sakitnya, ia langsung berkumur dan merapikan kembali peralatan di tempat kecil itu. 


Dyana berlari tergesa-gesa ke luar kamar mandi. Betapa terkesiapnya Dyana, bahkan hampir saja ia terjatuh kaget. Adit tiba-tiba sudah duduk di atas sofa dengan pakaian rapi. Mendengar suara kaki, Adit menoleh. Dyana langsung panik ia segera masuk ke kamar mandi lagi. Adit juga terkesiap namun tidak sekeras Dyana. 


"Aduh! Apa Kak Adit sudah melihat aku?" Dyana menepuk jidatnya, sampai-sampai keringat mengucur karena sedari tadi ia tergesa-gesa. 

__ADS_1


"Kak Adit!" Panggil Dyana keras.


Adit yang masih tercengang tak sengaja melihat bodi mulu Dyana, tiba-tiba harus buyar karena dipanggil. "Iya…." Sahutnya lantang pura-pura tidak merasakan apa pun yang terjadi tadi.


"Kak Adit, tolong keluar dulu. Aku mau ganti baju," teriaknya. Dyana harap-harap cemas semoga sepupunya yang ganteng itu tidak melihat dirinya yang hanya memakai handuk.


Adit yang menyadari itu, langsung saja ia melenggang cepat. Ditutupnya pintu kamar mewah tersebut, kemudian baru ia berteriak, "Kakak sudah di luar, cepat ya!" Mukanya yang memerah salah tingkah langsung menuju ke dapur. 


"Duh! Adit, kenapa kamu harus masuk ke sana sih?" Ia menepuk jidatnya sendiri. Betapa malunya ia kalau Dyana beranggapan buruk tentangnya. Niatnya tadi ingin membangunkan Dyana, tapi ternyata orang yang akan dibangunkan nampak terdengar sudah di kamar mandi. Tidak sadar, Adit langsung duduk di sofa berniat untuk menunggu lalu menyuruh sarapan.


Dengan cepat ia merogoh tasnya mengambil baju yang dibelikan Adit. Ia dibelikan kemarin sewaktu ke pantai. Tanpa memakai make up ia langsung menyisir rambut lalu keluar menyusul Adit. 


"Kak!" Panggil Dyana melihat Adit asik memainkan hpnya. Makanan di meja masih didiamkan. Saat mendengar Dyana memanggil, Adit langsung menaruh hpnya. 


"Kenapa belum sarapan?" Tanya Dyana lagi. Ia mendudukkan dirinya di kursi samping Adit. 

__ADS_1


"Kakak nunggu kamu. Yuk makan!" 


Mereka sarapan dalam keheningan. Dyana tidak tahu harus membahas apa. Tapi saat ia sedang menikmati hidangan, gusinya kembali sakit. Spontan Dyana memegang pipi kirinya.


Adit yang melihatnya langsung menegur, "Kamu kenapa?" Tanyanya heran.


"Engga, Kak. Ini tadi kena sikat gigi," jawab Dyana. Ia mengelus pipinya agar sakitnya berkurang. 


"Coba Kakak lihat." Adit mendekati wajah Dyana. Ia langsung membuka mulut Dyana. Sedangkan pemiliknya hanya tertegun. Disisi lain sepupunya sangat perhatian, di lain sisi ia merasa malu. 


'Beruntung aku udah sikat gigi.' Pipi Dyana memerah.


"Sepertinya luka, nanti habis makan kumur pakai betadin ya?" Adit mengacak rambut Dyana sayang. 


Dyana hanya membisu malu.

__ADS_1


__ADS_2