Hunter : The Darkness Fate

Hunter : The Darkness Fate
Chapter 174 : Berakhir Tanpa Pemenang


__ADS_3

Setelah membaca jangan lupa untuk Like, Komen, Rating 5 ☆ dan juga tombol hati/favorit biar jika sudah update dapat notifikasi : )


.


Selamat membaca ~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kau pikir aku akan terkena serangan yang sama lagi ?" Dai memukul Daiki sekuat tenaga dengan tinjunya.


Karena tinjuan itu, Daiki pun terlempar cukup jauh kedalam hutan sambil terus menabrak batu dan pepohonan.


"Mau bagaimana pun caranya, yang satu itu pasti mengenainya" pikir Dai merasa puas sambil tersenyum jahat.


Walaupun begitu, Dai pun segera pergi ke lokasi dimana Daiki berada untuk menghabisinya.


Dan setelah Dai sampai dilokasi Daiki berada, dia melihat Daiki berdiri dengan posisi bertahan.


di lengan kiri Daiki, Dai melihat adanya luka memar yang cukup parah.


"Sial, ini sangat sakit. Aku tidak menyangka dia bisa menebak kalau aku akan menyerangnya lagi dari belakang.


Sepertinya dia memiliki kecerdasaan yang cukup tinggi. Dan karena itu pola serangan berulang-ulang akan menjadi sangat tidak efektif untuk melawannya" Pikir Daiki sambil melihat luka memar dilengannya.


"Ini tidak terduga. Aku pikir kau akan setidaknya tidak bisa bergerak setelah terkena seranganku" Dai mendekat dengan santai.


"Dengan serangan yang seperti ini kau berharap aku tidak dapat bergerak. Jangan mimpi" Daiki mengambil posisi bertarungnya lalu menghilang dari hadapan Dai.


Melihat Daiki mehilang lagi tepat didepan matanya. Kali ini Dai tidak lagi panik, melainkan menaikan penjagaannya sambil mengambil posisi bertarungnya.


Dan setelah beberapa saat diam dengan posisi bertarung, Dai merasakan sesuatu akan datang dari belakangnya.


"Kena kau" Dai menyerang kebelakangnya dengan pedang darah.


Akan tetapi, serangannya itu dapat dengan mudah ditahan oleh Daiki dengan menggunakan tonfanya.


"Tidak kali ini" Daiki menyerang dagu Dai sangat kuat dengan menggunakan Tonfanya.


"Uaaagh"


"Aku belum selesai" Daiki melancarkan serangan beruntuh ke seluruh bagian tubuh Dai.


"Berhenti Breng**k" Dai mencoba untuk menyerang Daiku menggunakan pedang darah yang dia pegang.


Akan tetapi serangannya itu tidak dapat menyentuh Daiki, karena dia berhasil menghidarinya lalu menjauh dengan sempurna.

__ADS_1


"Sial. Serangan beruntunnya tadi itu, sudah memberikanku luka diseluruh tubuhku.


Walaupun aku tidak akan mati karena itu, teyap saja serangannya itu sangat sakit" Pikir Dai memulihkan dirinya.


"Seperti yang kuduga, Walaupun aku sudah memberikan banyak luka yang cukup parah, semua lukanya itu langsung pulih kurang dari satu menit. Kalau begini" Pikir Daiki sambil terus menaikan penjagaannya


"Aku harus mengalahkan dia secepatnya" Pikir Daiki dan Dai lalu maju secara bersamaan.


Dengan kecepatan yang sangat tinggi, mereka pun terus saling bertukar serangan mematikan kesatu sama lain.


Akan tetapi, tidak salah satu dari mereka yang berhasil memberikan serangan telak ke satu sama lain.


"Kau bajin**n keras kepala" Dai mencoba untuk mengikat Daiki dengan menggunakan rantai darah.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan apapun sesukamu ?!" Daiki menghancurkan rantai-rantai yang mencoba mengikatnya itu lalu menyerang Dai dengan lebih agresif.


Akan tetapi, tepat saat dia ingin melanjutkan serangannya. Ada rantai darah yang keluar dari tanah dan mencoba untuk mengikatnya.


Daiki pun langsung mencoba untuk segera menghindari rantai-rantai darah itu.


Disaat Daiki sedang mencoba untuk menghindari rantai-rantai darah itu. Dengan cepat Dai bergerak mendekat dan megerahkan tebasan pedang darahnya.


"Matilah !!!"


Akan tetapi ada hal yang mengejutkan terjadi. Daripada menghidari serangan tebasan pedang yang dikerahkan Dai.


Tepat saat mereka akan saling menyerang satu sama lain. Tiba-tiba saja ada sebuah bola api biru hitam besar yang menyerang mereka.


Bola api hitam biru itu menyebabkan ledakan yang cukup besar dan mereka berdua masuk didalamnya.


"Uaaaaghhh"


"Arrrrgh"


*


Sudah 20 menit berlalu semenjak aku dan Ryu pergi berkeliling Crying Forest.


Aku pun memutuskan untuk kembali, karena merasa kalau si Vampire sialan itu sudah selesai berburu monster untuk diberikan kepada Ryu.


Akan tetapi, diperjalananku kembali aku tiba-tiba saja merasakan gelombang energi Mana yang besar sedang meluap-luap bahkan sampai menyebar diudara.


Dan jika itu terjadi. Saat ini di Crying Forest ada mahkluk yang sangat kuat sedang bertarung satu sama lain.


"Hmmm, Oi Zoro !. Bukannya ini adalag energi Mana dari rekanmu yang bernama Daiki ?" kata Azel didalam pikiranku.

__ADS_1


Setelah kau mengatakannya. Ini memang terasa seperti energi Mana milik Daiki.


"Terlebih lagi, pemilik energi Mana yang sedang meluap satu lagi adalah milik si vampire sialan itu" kata Azel dalam pikiranku menambahkan.


Tunggu dulu. Jangan-jangan mereka sedang bertarung satu sama lain ?!.


"Kemungkinan besar itulah yang sedang terjadi. Lagipula kau tidak mengatakan apapun kepada vampire sialan itu saat kau pergi" kata Azel didalam pikiranku.


Kalau sudah begini tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka untuk bertarung selain aku.


"Ryu segera pergi ke lokasi kita sebelumnya dengan kecepatan penuh"


"Zaaaaah" Ryu langsung terbang dengan kecepatan penuh menuju lokasi kami berada sebelumnya.


Setelah beberapa menit terbang dengan kecepatan penuh, kami akhirnya sudah dekat dengan lokasi kami sebelumnya.


Di dalam hutan-hutan dekat lokasi itu, aku merasakan energi Mana milik Daiki dan Dai sedang meluap-luap disana.


"Ryu serang si vampire sialan dan orang yang satu lagi"


Mendengar perintahku, Ryu pun langsung menembakan bola api hitam biru kearah dimana Daiki dan Dai sedang bertarung.


Serangan itu telah menyebabkan ledakan besar dengan diameter 75 m.


Setelah ledakan api hitam biru itu meredah, Aku pun meminta Ryu untuk turun kedaratan.


Saat sampai didaratan aku melihat Daiki dan Dai sedang berbaring ditanah dengan luka bakar yang cukup parah ditubuh mereka.


"Yooo. Apa kalian tidak apa-apa ?"


"Kau bang**t. Bisa-bisanya kau menyerang rekanmu sendiri, terlebih lagi kau menggunakan sihir yang mematikan seperti itu" kata Daiki marah sambil bangun berdiri walaupun penuh dengan luka.


"Maaf tentang itu. Lagipula kau dapat menahannya, jadi tidak apa bukan ?"


"Tidak apa kepalamu" kara Daiki marah dan kesal.


"Oi vampire sialan apa kau masih hidup ?"


Merespon suaraku, Dai bangun berdiri sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.


"Untuk sekarang iya. Daripada itu, kenapa kau menyerangku juga ?!" Daik marah dan kesal.


"Sudahlah, kau kan masih bertahan hidup memang apa masalahnya ?"


"Oi Zoro. Apa kau mengenal si vampire itu ?" tanya Daiki.

__ADS_1


"Ahh benar juga, biar aku memperkenalkan kalian. Daiki dia adalah Dai bawahan baruku,dan Dai ini adalah salah satu rekanku"


Mendengar apa yang kukatakan, Dai dan Daiki pun terkejut dengab wajah kesal.


__ADS_2