I LOVE YOU SAHABAT KU

I LOVE YOU SAHABAT KU
Bonchap 6


__ADS_3

Sesampainya Ruli dan sekeluarga di depan rumah keluarga Rafael, mereka disambut dengan hangat dan sangat baik.


"Selamat malam Pak Ruli, selamat datang di kediaman keluarga kami." sapa Rafael menyambut kedatangan calon besan beserta keluarganya, Rafael yang saat itu masih duduk di kursi roda di dampingi oleh istri tercinta.


"Selamat malam Pak Rafael, Saya sangat senang sekali bisa bertemu dengan Anda sekalian." balas Ruli sembari menyambut uluran tangan Rafael.


Willy dan Eve berdiri di samping Ellen dan Rafael, Ruli pun juga berjabat tangan dengan mantan calon besannya itu.


"Pak Willy! Senang sekali bisa bertemu dengan Anda di sini."


"Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda, Pak Ruli." balas Willy sembari merangkul pundak Ruli.


Setelah itu Bryan pun memberanikan diri untuk menyapa calon mertuanya, Ia menyalami Rafael serta Ellen.


"Selamat malam Om dan Tante! Apa kabar?"


"Selamat malam juga Bryan!"


Setelah Bryan menyalami kedua orang tua Zyva, kemudian Ia pun memberanikan diri menghadap kepada Willy yang saat itu berdiri tepat di samping Rafael.


"Selamat malam Om Willy!" sapanya dengan tangan yang gemetaran saat menjabat tangan Willy. Willy pun membalasnya dengan mengeratkan genggaman tangannya kepada Bryan, membuat Bryan sedikit kesakitan.


"Selamat malam juga, Bryan!" balasnya dengan ekspresi tersenyum tapi tangan mencengkram kuat tangan Bryan, membuat pemuda itu menahan sakit pada telapak tangan.


"Awwww gila! Kuat banget nih Om Willy! Aduh tanganku!" batin Bryan sembari meringis kesakitan. Setelah cukup membuat Bryan kesakitan, Willy pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Bryan. Melihat ekspresi pemuda itu sekilas Willy tersenyum smirk.


"Kenapa? Kamu kesakitan?" tanya Willy saat melepaskan tangan Bryan, pemuda itu pun tampak cengar-cengir sembari tersenyum malu kepada Willy.


Kemudian Willy mendekati Bryan dan menepuk pundak pemuda sembari mengatakan, "Itu tidaklah seberapa, rasa sakit itu lebih besar disaat keponakan ku pulang ke Indonesia dengan perasaan yang hancur. Tapi, Aku bangga kepada mu karena kamu memiliki itikad baik untuk bertanggung jawab, jika saja kamu lari dari tanggung jawab, Aku William Anthony tidak akan membiarkan hidupmu tenang, sampai ke lubang tikus pun Aku akan terus mencarimu." ucapnya sembari berbisik telinga Bryan.

__ADS_1


"Iya Om, maaf! Saya memang sudah khilaf, dan saya merasa sangat berdosa saat tahu Zyva adalah gadis yang sudah Saya nodai, sekarang Saya akan membuktikan tanggung jawab Saya, Saya akan menikahi Zyva secepatnya." pungkas Bryan yang membuat Willy senang Bryan bisa bertanggung jawab untuk menikahi keponakannya, Zyva.


"Mari silahkan masuk!" Ellen mempersilahkan masuk kepada calon besannya, sementara Bryan terlihat celingukan mencari keberadaan Zyva.


Suasana hangat itu mulai terasa, akhirnya Ruli pun mulai mengatakan keinginan nya untuk menjadikan putri Rafael dan Ellen untuk menjadi menantu mereka. Sebagai bentuk tanggung jawab Bryan.


"Kami sangat berharap, agar Pak Rafael dan Bu Ellen menerima lamaran kami untuk menjadi kan Zyva sebagai menantu kami." seru Ruli kepada mereka.


Tentu saja itu sangat membuat Rafael dan Ellen begitu bahagia, Willy dan Eve pun juga ikut bahagia. Pinangan itu tentu saja diterima dengan baik oleh Rafael dan Zyva.


Sementara itu Bryan terlihat masih sibuk mencari dimana calon istrinya, Ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Ellen dimana Zyva berada.


"Maaf Tante Ellen! Zyva dimana ya? Dari tadi Saya belum melihat Zyva?"


"Oh Zyva! Ya ampun tuh anak, pasti dia masih malu untuk turun, sebentar ya Tante panggilkan dulu." Ellen pun segera naik ke atas dan menemui Zyva yang masih berada di dalam kamarnya.


Sementara itu Zyva masih terlihat mondar-mandir, dirinya begitu gugup dan malu saat bertemu dengan Bryan. Ellen pun membuka pintu kamar Zyva dan melihat putrinya yang sedang mondar-mandir di kamarnya.


"Aduh, Ma! Zyva malu banget, Zyva gugup, Ma!"


"Sudah nggak apa-apa." Ellen terus membawa sang putri untuk turun menemui keluarga Bryan.


Sejenak Bryan yang sedari tadi ingin melihat Zyva, Ia melihat dari atas tangga gadis yang kini mulai mengisi hatinya itu terlihat turun bersama sang Ibu, seketika senyum bahagia terukir pada wajah tampan Bryan, melihat calon istrinya datang untuk menemuinya.


"Dia kok cantik banget malam ini, ah nggak sia-sia Aku menjadi orang pertama untuknya, nggak sabar Aku menunggu sah." batin Bryan sembari menatap wajah Zyva tanpa berkedip. Zyva pun melihat ke arah Bryan yang sedari tadi memperhatikan nya.


"Hiii gitu amat lihatin nya, dasar Bryan! Kok Aku deg-degan sih!" batin Zyva saat dirinya mulai tiba di ruangan dimana semua keluarga sudah berkumpul membicarakan tentang pernikahan mereka. Zyva menyalami calon mertuanya, seketika Riris memuji kecantikan gadis itu.


"Zyva! Kamu benar-benar gadis yang sangat cantik, pantas saja putraku tak bisa mengendalikan dirinya, kamu jangan khawatir Sayang! Aku dan Papanya tidak akan membiarkan Bryan menyakiti mu, kamu bilang saja sama kami, jika suatu hari nanti Bryan menyakiti mu, Aku akan potong burungnya." seketika Bryan yang mendengar ucapan Riris pada Zyva, pemuda itu pun segera protes kepada sang Mama.

__ADS_1


"Ya jangan dong, Ma! Bryan nggak akan nyakitin Zyva lagi, Kalau dipotong gimana nasib Bryan, nanti Mama nggak bisa dapet cucu dong!" ucapnya sembari berbisik pada telinga sang Mama.


Seketika seluruh ruangan dihiasi oleh tawa kecil kedua keluarga yang melihat tingkah konyol Bryan. Mereka pun memutuskan untuk menikahkan Bryan dan Zyva Minggu depan, dan lagi-lagi keputusan itu di protes oleh Bryan.


"Kok Minggu depan sih, Pa?" katanya kepada Ruli yang mengusulkan agar pernikahan mereka dilaksanakan Minggu depan.


"Bukannya kamu senang dipercepat, itu mau kamu, kan?" balas Ruli.


"Ya ... jangan Minggu depan dong, Pa!"


"Terus kamu maunya kapan?"


Seketika Bryan tersenyum sambil berkata, "Besok saja, Pa! Aku maunya besok." mendengar penuturan dari sang anak, Ruli tampak geleng-geleng kepala melihat tingkah sang anak.


"Eh dodol! Elu pikir semudah itu mempersiapkan semuanya, besok besok, kita butuh persiapan dulu,"


"Aduh, Pa! Kelamaan udah nggak nahan pingin segera Aku sah in tuh Zyva, Papa nggak lihat noh, mantu Papa malam ini cantik banget, pingin tak gigit aja, Pa! Ayo lah Pa!" bisik Bryan yang tak sengaja di dengar oleh Willy.


Mendengar keinginan Bryan yang sudah tak sabar ingin segera menikahi keponakannya, Ia pun diam-diam menghubungi orang kepercayaan nya untuk mencarikan penghulu sekarang ini juga untuk menikahkan Bryan dan Zyva malam ini juga.


"Eh semprul kamu yang sabar dong! Calon mertuamu juga butuh waktu, seenak jidatmu saja minta kawin sekarang." balas Ruli yang heran melihat putranya yang sudah tidak sabar.


"Ya gimana lagi dong, Pa! Kebelet banget sih." jawab Bryan yang masih saja matanya tak bisa lepas dari Zyva.


Sementara itu Rafael dan Ellen tertawa kecil melihat tingkah lucu calon mantu dan besannya itu. Tak berselang lama tiba-tiba ada suara bel berbunyi. Ellen pun segera membuka pintu, seketika Ellen sangat terkejut saat melihat dua orang yang sedang bertamu ke rumah.


"Permisi Bu! Saya kesini atas permintaan dari Pak Willy untuk menikahkan keponakannya yang bernama Zyva."


Tentu saja Ellen tak menyangka jika Willy langsung mendatangkan penghulu dan langsung menikahkan Zyva dan Bryan hari itu juga.

__ADS_1


Seperti kejatuhan durian, Bryan begitu senang jika hari ini juga Ia akan menjadikan Zyva sebagai istrinya, meskipun masih pernikahan secara agama, tapi setidaknya dirinya sudah sah dan halal untuk menjadi suami Zyva.


__ADS_2