I LOVE YOU SAHABAT KU

I LOVE YOU SAHABAT KU
BONCHAP Begitu syulitt


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Zyva terjaga karena Ia mendengar suara gemuruh yang cukup besar, rupanya diluar sana sedang hujan deras yang disertai dengan angin kencang. tirai-tirai dalam kamar mereka terlihat berterbangan diterpa angin kencang, Zyva beranjak bangun dari tidurnya, Ia pun melihat Bryan yang sudah tidur pulas di sampingnya.


Zyva memang takut dengan suara gemuruh apalagi disertai hujan deras dan angin kencang, sungguh membuat gadis itu memeluk kedua lututnya, sembari menutup kedua telinganya agar dirinya tidak mendengarkan suara guntur itu terlalu besar.


"Astaga! Hujannya gede banget! Mana gledeknya keras juga, duh Mama ... Papa ... Zyva takut, Zyva mau pulang, Zyva mau bobo bareng Mama aja kalo kayak gini." suara rintihan itu nyatanya terdengar oleh Bryan yang tidur di samping nya.


"Kamu kenapa?" Bryan menatap wajah sang istri yang terlihat ketakutan.


"Aku takut suara gledek, Bryan!" sejenak Bryan tertawa kecil mendengar pengakuan dari Zyva.


"Kok malah senyum sih, Aku beneran takut, malah diketawain, gimana sih!" gerutu Zyva tatkala dirinya melihat Bryan menertawakan nya.


"Sorry sorry, Aku nggak bermaksud seperti itu, sini biar kamu nggak takut." seru Bryan sembari merentangkan kedua tangannya berharap Zyva mau masuk ke dalam pelukannya.


"Diihh kamu ngapain!" Zyva terlihat memalingkan wajahnya karena Ia melihat Bryan sedang bertelanjang dada, Bryan tidak pernah memakai baju saat dirinya tidur, itu sudah menjadi kebiasaan nya setiap hari.


"Katanya kamu takut geledek, sini sembunyi di sini saja, biar kamu nggak takut!" seru Bryan yang mencoba memanfaatkan kesempatan.


"Ogah ah, entar kamu macam-macam lagi." sahut Zyva khawatir.


"Enggak, Aku nggak bakalan macam-macam, Aku kan cuma mencoba nolong kamu, gimana sih, daripada sepanjang malam kamu gitu terus, nggak capek apa?" ucap Bryan sembari melihat posisi Zyva dengan kedua kaki yang ditekuk dan kedua tangan yang Ia tutupkan pada telinganya.


Seketika Zyva melihat dirinya yang sedang dalam posisi yang disebutkan oleh Bryan tadi, Ia pun segera merubah posisi duduknya dengan meluruskan kedua kakinya. Namun, alih-alih Zyva ingin meluruskan kedua kakinya, tiba-tiba saja terdengar suara Guntur yang begitu besar membuat Zyva terperanjat tak karuan, spontan Ia memeluk Bryan yang berada di sampingnya, Zyva terlihat membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami dengan kedua tangan merangkul pinggang Bryan dengan erat.


"Aaaaaaaaaa ...!"

__ADS_1


Seketika Bryan tersenyum dan memeluk balik Zyva.


"Sssttt ... sudah nggak apa-apa, ada Aku disini!" seketika Zyva sadar dan melepaskan tangannya dari pinggang sang suami, namun belum lima detik Zyva melepaskan tangannya tiba-tiba saja listrik rumah padam, dan itu membuat Zyva kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Ya ampun! Kenapa pakai lampu mati segala sih." pekik Zyva sembari memeluk Bryan begitu erat.


"Oh Shiiit! Apa ini pertanda oh my god!" batin Bryan saat secara tak sengaja tubuh Zyva mengenai sesuatu yang membuat gairah Bryan bangkit kembali.


Zyva pun merasa jika saat ini sedang tidak baik-baik saja, Ia pun berusaha melepaskan tangannya dari pinggang Bryan. Namun sayang, rupanya Bryan tak membiarkan Zyva lepas begitu saja dari pelukannya.


"Bryan! Lepaskan." pinta Zyva sembari menatap wajah Bryan dalam gelap. Bryan tidak menjawabnya, Ia justru mengusap lembut wajah Zyva, menyelipkan rambut sang istri yang di belakang telinga Zyva. Entah kenapa suasana malam itu membuat Zyva hanya terdiam dan mulai ikut terhanyut dalam dinginnya malam yang disertai hujan deras itu.


"Bryan!" bisik Zyva dengan suara lirih.


"Kamu cantik sekali! Bolehkah Aku mencium pipimu?" pinta Bryan saat menyentuh wajah sang Istri.


Karena terlalu dalam Zyva merasakan sentuhan itu, hingga tak terasa Bryan ciuman justru berpindah pada leher sang istri, Zyva yang mulai terhanyut pun tak bisa menolaknya lagi, ada sebuah rasa seperti sengatan listrik yang mulai menjalar ke seluruh tubuh Zyva, aneh tapi nyata, Zyva benar-benar merasakan sentuhan yang berbeda dari seorang Bryan, dulu Ia mendapati Bryan yang kasar dan buas, kini Bryan memperlakukan dirinya layaknya seorang istri, begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Sentuhan itu mulai turun lagi ke bawah, diantara Mounth Everest Bryan bermain di sana, kini Ia mendapati tempat bermain baru yaitu milik istrinya.


"Bryan ... no!" pekik Zyva sembari merremas rambut Bryan saat pria itu mulai berselancar di tempat-tempat yang membangkitkan gairah Zyva. Hingga akhirnya sentuhan itu berakhir pada bibir sang istri dengan sempurna.


Tak bisa lagi menolak apapun yang dilakukan oleh Bryan, Zyva pasrah karena saat ini bukan rasa sakit yang Ia rasakan, tapi sesuatu yang belum pernah Ia rasakan, seolah dirinya ingin sesuatu yang lebih dari sekedar ini.


Zyva mendorong tubuh suaminya hingga tautan itu terlepas, Zyva mengambil nafas banyak-banyak karena ciuman itu membuatnya sedikit sesak. Namun, Bryan tak berhenti di situ saja, Ia tahu jika Istrinya telah merespon dirinya, Ia pun semakin berani untuk mendekati Zyva dan meminta izin kepada nya untuk membawa Zyva ke dunia kenikmatan.

__ADS_1


"Bryan! Apa yang kamu lakukan?" Zyva melihat jika Bryan terus berusaha untuk membuat Zyva rileks dan tidak tertekan, Bryan menyentuh bagian dari Zyva yang membuat gadis itu mendesis tak karuan.


Seketika Bryan tersenyum lebar, ternyata sang istri sudah sangat merespon dirinya, Ia pun membisikkan sesuatu pada telinga Zyva dengan nada mesra.


"Are you ready, Baby!"


Zyva yang saat itu masih terengah-engah hanya bisa mengangguk dengan dua mata yang terpejam.


"Oke!" balas Bryan dengan semangat.


"Bryan, tunggu!" Zyva menahan Bryan agar tidak masuk dulu.


"Kenapa lagi hmm?"


"Sakit tidak?" sungguh pertanyaan yang begitu syulitt untuk diungkapkan, Bryan tidak menjawabnya, namun laki-laki itu langsung mem-ptaktek kan apa yang membuat Zyva takut dan khawatir.


Hanya dalam hitungan detik, Bryan dan Zyva kembali menyatukan raga itu untuk kedua kalinya, dulu Zyva menangis karena perlakuan Bryan yang kasar, sekarang dirinya lebih banyak memejamkan mata karena Zyva tidak merasakan sakit sama sekali, justru sebuah rasa kenikmatan yang luar biasa yang kini sedang Ia rasakan.


"Ah ... Bryan!"


"Apa masih sakit?"


"Hmm ... tidak sama sekali, seperti inikah rasanya, tak sesakit yang kubayangkan." ucap Zyva saat Bryan berhasil membawanya terbang melayang.


"Nikmati lah Sayang, malam ini adalah milik kita berdua." balas Bryan sembari terus memimpin permainan itu.

__ADS_1


Dalam suasana hujan deras dan juga listrik padam, sungguh pasangan mana yang kuat berdua dalam sebuah ruangan, kedua pengantin baru itu nyatanya telah terhanyut dalam suasana dingin nan mesra di malam ini.



__ADS_2