
Pagi yang cerah, secerah hati Galen dan Fiona yang masih berada di atas tempat tidur mereka, tangan Galen masih melingkar sempurna pada pinggang Fio yang sedang tertidur, keduanya masih bersembunyi di balik selimut, hanya terlihat bagian atas tubuh mereka yang sepertinya tidak mengenakan pakaian apapun.
Fio yang mulai membuka kedua matanya, tampak sedang mengerjabkan mata dan melihat di sampingnya, Galen yang masih terpejam dalam kedamaian. Fio menatap wajah sang suami dan tersenyum.
"Galen sayang! Kamu benar-benar sudah membuatku mabuk kepayang, rasanya Aku tidak ingin pergi dari tempat ini, Aku ingin selalu merasakan sentuhanmu di setiap saat, tapi kamu juga nakal sekali, kamu tidak membiarkan Aku untuk istirahat sedikit saja, badanku terasa pegal semuanya." ucapnya lirih sembari merasakan badannya yang terasa capek karena ulah Galen yang menghajarnya habis-habisan.
Tiba-tiba saja Galen membuka kedua matanya dan sontak Fio terkejut saat Galen tiba-tiba saja menatap wajahnya lekat-lekat.
"Galen!"
Pipi Fio tampak bersemu merah, Ia sangat malu sekali ketika Galen membuka matanya, dan pastinya Galen sudah mendengarkan kata-katanya dengan jelas.
"Katakan sekali lagi, jika kamu tidak ingin pergi dari sini, dan aku akan mengabulkannya." jawabnya dengan suara yang parau.
"Pinginnya gitu, tapi kita harus kuliah dulu, Aku nggak mau gara-gara Aku, kamu jadi malas pergi ke kampus." balas Fio sembari beranjak duduk dengan menarik selimutnya agar bisa menutupi bagian dadanya yang polos. Galen pun ikut duduk di samping istrinya.
"Hmm Galen! Aku mau minta izin sama kamu!" ucap Fio sembari menatap wajah sang suami.
"Apa?"
__ADS_1
"Nanti sore, sepulang kuliah Aku mau bertemu dengan Mommy dan Daddy, boleh ya! Aku kangen banget sama mereka!" Fio tampak memohon kepada sang suami agar mengizinkannya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Kenapa tidak boleh! Ya boleh lah, tapi ingat jangan lama-lama!" ucapnya sembari mencolek hidung Fio.
"Memang nya kenapa kalau aku lama?" Fio terus menggoda Galen.
"Siapa dong yang bakal nemenin aku tidur, kamu tega biarin Aku nangis tidur sendirian, mana dingin banget kalau dah malam, nggak ada yang dibuat untuk meluk." ucapnya.
"Tuh ada guling? Kan bisa meluk guling!" goda Fio yang semakin membuat Galen gemas.
"Tega kamu biarin suamimu meluk guling." jawabnya dengan muka jutek.
"Ya ampun Galen Aku nggak bakalan lama, paling nanti malam sudah pulang."
"Seminggu? Astaga! Bisa-bisa keluar kamar ngangkang tuh jalanku. Iya iya Aku nggak bakal terlambat, janji!" ucap Fio yang tak bisa bayangkan jika dirinya berada dalam kamar bersama Galen dalam waktu selama itulah.
Galen tertawa kecil dan menciumi pipi Fiona yang bersemu merah itu.
"Aku cuma becanda, kalau kamu masih kangen sama Mommy dan Daddy, kamu boleh kok menginap di sana, Aku tidak akan melarang mu." ucapan Galen membuat Fiona tersenyum bahagia.
__ADS_1
Galen bukan hanya tampan, dia juga termasuk suami yang pengertian, meskipun Fio bahagia tinggal bersama keluarganya, tapi Fio juga seorang putri, pasti ada kerinduan dalam hati Fio kepada keluarganya. Terutama Mommy dan Daddy nya.
"Terima kasih, Sayang! Kamu baik banget, Aku janji nggak bakalan lama-lama, Aku akan segera pulang." ucapnya sembari memeluk Galen.
Setelah Fio memeluk suaminya, kemudian Ia beranjak untuk pergi mandi. Namun Galen menahannya.
"Lepasin Galen! Aku mau mandi dulu, kita nggak mau terlambat, kan?"
Hampir saja Fiona berdiri, namun terpaksa Ia harus berbaring lagi, karena Galen sengaja menarik tubuh Fio.
"Awwww Galen! Apa lagi sih!" Fio merasa terkejut saat Galen Kembali menindih tubuhnya.
Galen tidak menjawabnya dengan kata-kata, namun Ia menjawabnya dengan sentuhan lembut pada leher jenjang Fio.
"Galen!"
"Sekali lagi, Baby!" bisiknya pada telinga Fio.
Fio kembali mencengkram pundak sang suami tatkala penyatuan itu kembali terjadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥