
Galen pun turut menggoda calon pengantin itu, Galen yang merupakan sahabat Reyna juga, tampak turut mengiyakan ucapan sang istri jika kedua pasangan itu pasti bisa sukses melakukan malam pertama.
"Dengerin Gue ya Rey! Cowok tuh nggak ada istilah di sunat dua kali, abis dan koit dong kalau di pangkas lagi, lagipula itu adalah senjata utama kita buat naklukin kalian ciwi-ciwi, ngerti kagak?" ucap Galen yang membuat Filio mengusap wajahnya kasar karena rasa malunya saat Galen membongkar rahasia besar para pria.
"Eh ... udah-udah, kalian pulang sono ganggu orang aja, Aku mau pergi dulu sama Reyna." titahnya kepada Fio dan Galen.
Kemudian Filio beranjak pergi meninggalkan tempat itu, sementara Fio dan Galen tampak menggelengkan kepalanya, ah sungguh Filio bisa saja membuat Reyna percaya jika burung empritnya sudah di pangkas separuh.
"Gue pergi dulu ya! Terimakasih untuk kedatangan kalian berdua, calon adik ipar." seru Reyna kepada Fio dan Galen.
"Iya hati-hati dan ingat Rey! Kamu harus waspada kali aja si burung empritnya Filio terbang melayang, bisa gawat tuh!" celetuk Galen yang di iringi tawa Fio.
Reyna tampak menatap wajah Filio yang sedang mengulum senyum kepadanya. Kemudian mereka pun segera keluar dari hotel itu dan menuju ke tempat parkiran mobil. Setibanya di parkiran mobil Filio membukakan pintu untuk calon istrinya.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat dimana pertama kali Aku menyatakan cintaku kepadamu." ucapnya kepada Reyna yang terlihat malu-malu itu.
Benar saja Filio membawa Reyna ke tempat dimana kemarin malam mereka saling menyatakan cinta. Tempat yang terlihat begitu romantis dengan suasana malam yang indah, keduanya turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke tempat dimana saat itu Reyna mengetahui isi hati Filio.
__ADS_1
Dengan terus melangkahkan kakinya, Filio selalu menggenggam tangan Reyna, ada rasa deg-degan dan gemetaran ketika mereka berdua tiba di tempat yang mereka tuju, sebuah tempat di tengah taman dengan ukuran 3 x 3 yang beratapkan jerami.
"Untuk apa kamu membawaku kemari, Mas?" tanya Reyna.
Filio menghampiri gadis itu seraya berkata, "Tempat ini adalah saksi saat pertama kali Aku mengucapkan cintaku kepadamu, Aku ingin menghabiskan sejenak malam ini sebelum akhirnya Kau di pingit untuk tidak bertemu denganku sebelum hari pernikahan kita, pasti aku sangat merindukanmu, ingin rasanya Aku memutar waktu dengan cepat, agar secepatnya Pernikahan kita segera di laksanakan."
Filio menahan dagu Reyna dan tentu saja pandangan Reyna pun fokus pada kedua bola mata Filio yang berwarna coklat itu. Sementara satu tangan Filio yang lain Ia gunakan untuk mengusap lembut wajah Reyna, dan tentu saja ada desir-desir aneh yang mulai merambat pada aliran darah mereka.
Bibir Filio semakin mendekat pada bibir Reyna, tak butuh waktu lama untuk menciptakan sebuah ciuman yang mesra, lagi-lagi Reyna di buat terpejam saat Filio berhasil membuat dirinya lupa jika saat ini mereka berdua tengah di landa asmara. Kedua tangan Reyna yang awalnya berada pada pundak Filio, nyatanya kini tangan lentik itu sudah melingkar sempurna pada leher Filio. Sesekali Reyna menrremas rambut Filio saat pria itu semakin intens mengecup leher jenjangnya, hanya sebuah kecupan namun cukup membangkitkan gairah yang membuat Reyna semakin ingin merasakan kehangatan kecupan bibir Filio.
Hampir saja keduanya hanyut dalam sentuhan masing-masing, tiba-tiba Reyna mengucapkan sesuatu kepada Filio.
"Kenapa lagi? Bukankah kita akan menikah? Dan sebentar lagi kamu akan menjadi milikku." jawabnya sembari meraih kembali pinggang Reyna dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Iya Aku tahu kita akan menikah, tapi apa yang dikatakan oleh Galen tadi ada benarnya, Aku takut saja jika burung empritmu tiba-tiba terbang melayang." celetuk Reyna yang membuat Filio tersenyum dan menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Kok kamu malah senyum sih, Mas! Aku serius." ucapnya dengan ekspresi yang membuat Filio semakin gemas kepada gadis itu.
__ADS_1
"Hmm ... memang benar kata Galen, sepertinya burung empritku mulai mengepakkan sayapnya, dia bersiap ingin terbang melayang mencari dirimu, dia ingin hinggap pada mahkota bunga milikmu yang tentu saja masih harum dan mewangi," jawaban Filio membuat Reyna mengerjabkan matanya sembari tersenyum paksa.
Tiba-tiba saja terdengar suara dari bibirnya yang mungil.
"Emang bisa, ya? Kalaupun bisa pasti cuma lima senti, ah ... pendek, Mas!"
Filio semakin di buat geregetan dengan jawaban dari Reyna, hingga akhirnya Filio menantang Reyna untuk membuktikan bahwa burung empritnya tidak seburuk yang Reyna kira.
"Kamu ingin mengetahuinya sekarang?"
"Enggak -nggak! Aduuh Mas Filio, anterin Reyna pulang aja deh, kamu udah bikin Aku spaneng aja, mana kebelet pipis lagi."
Lagi-lagi sikap Reyna yang konyol membuat Filio semakin penasaran dengan gadis itu.
"Baiklah! Kita pulang, karena Aku tahu sepertinya kamu sudah mulai basah ...." bisiknya pada telinga Reyna yang membuat gadis itu tampak bersemu merah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
...Mesti mesem-mesem Dewe Iki 😁...