I LOVE YOU SAHABAT KU

I LOVE YOU SAHABAT KU
Gelap gulita


__ADS_3

Ciuman itu menjadi sangat memabukkan bagi keduanya, awalnya Fio yang merasa kesal dengan perbuatan sang suami, justru kini dirinya yang lebih agresif, kecupan hangat Galen telah berhasil membangkitkan gairah dalam jiwa Fio untuk merasakan kehangatan yang lebih dalam lagi.


Di atas ranjang itu, mereka berdua berguling-guling saling menyerang, bukanlah peperangan yang berdarah, tapi perang saling memberikan kenikmatan yang hakiki di antara suami istri.


Entah bagaimana cara mereka mem-preteli pakaian mereka masing-masing, yang jelas kali ini mereka berdua sudah seperti bayi yang baru di lahirkan, tidak memakai sehelai benangpun dan sangat polos.


Nafas Fio mulai terengah-engah saat Galen bersiap untuk masuk ke dalam tubuh istrinya, sesekali terdengar suara lembut nan lirih yang keluar dari bibir Fio saat Galen mulai masuk ke dalam inti tubuh sang istri.


"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!"


Kata-kata itu keluar dengan begitu lembut di iringi nafas Fio yang mulai naik turun, sementara di bawah sana, si burung emprit terbang bebas melayang-layang, menguasai sawah sepetak milik Fio.


Galen menggenggam erat tangan Fio, seolah dirinya tidak ingin berpisah dengan istrinya sedetikpun, sedangkan bibir Galen terus menyesap buah ceri yang tampak memerah itu, dengan pemandangan dua gunung kembar yang membuat Galen membenamkan wajahnya di sana.


Tak perduli seberapa lebar kedua kaki Fio terbuka, yang jelas Galen tengah sibuk menanamkan benih-benih cintanya pada tanah rawan itu, geol ke kanan geol ke kiri, sesekali bergerak maju mundur pelan, membuat Fio semakin membuka mulutnya karena sensasi itu benar-benar terasa nikmat.

__ADS_1


Bisa dibayangkan peluh keringat yang bercucuran dari tubuh mereka berdua, percintaan yang indah, keterikatan untuk saling memiliki dan berbagi cinta, dari sejak mereka masuk ke dalam kamar, kamar itu tidak terbuka sama sekali, dan lampu pun tampak gelap dari arah luar jendela, sementara Aldo yang tengah duduk santai di samping rumah, melihat ke arah jendela kamar Galen yang terlihat dengan jelas dari arah samping rumahnya.


"Hmm dasar, tuh lihat anakmu! Dari tadi belum keluar kamar sama sekali, mana kamarnya di gelapin lagi, apa mereka nggak laper?" ucapnya kepada sang istri yang ikut duduk santai sambil membaca majalah.


"Apa sih! Kamu ganggu aja!" jawabnya sambil melihat-lihat majalah terbaru favoritnya.


"Itu tuh, kamar Galen dan menantu kita, gelap mulu dari tadi." jawabnya dengan menunjuk arah jendela kamar Galen yang tampak gelap gulita.


"Ya ... mungkin mereka suka yang gelap-gelap, beda lah sama kamu yang suka terang benderang, kaya meja operasi aja." sahut Vega yang sangat faham dengan ciri-ciri Aldo yang suka bermain ranjang dengan lampu yang menyala.


"Apa? Apanya yang nggak kelihatan?" Vega menatap wajah sang suami dengan tatapan yang tajam.


"Ya itu, wajah cantikmu nanti nggak kelihatan dong, kalau aku matikan lampunya, memangnya Aku mau lihat apa? Hah dari dulu Bu Vega pikiran nya ngeres euy!" ucap Aldo yang sama persis saat dirinya masih menjadi murid istrinya.


Lagi-lagi Vega di buat pening dengan ulah suaminya yang selalu konyol, Vega memutar bola matanya dan melanjutkan kembali membaca majalahnya.Tiba-tiba saja Aldo mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang! Kita tidur yuk! Udah malam nih, Aku ngantuk banget!" ajaknya sembari menarik tangan Vega.


"Loh ini masih jam sembilan, Sayang! Aku mau nunggu Galen dan Fio keluar dari kamar mereka, mereka berdua belum makan." ucap Vega.


"Halah biarin aja, entar kalau laper pasti mereka turun, sekarang mereka belum merasa laper sebelum ular kadut nya Galen keluar dari persembunyiannya, mereka lagi sibuk bikinin cucu buat kita, udah Ayo!" titah Aldo dan Vega pun mengikuti Aldo pergi ke kamarnya.


"Eh ... nanti kamu mau lampunya di matiin apa tidak? Kayak Galen tuh!" celetuk Aldo sembari meraih pinggang istrinya. Spontan Vega menyikut perut Aldo dan berkata. "Apaan sih kamu! Di matiin atau enggak itu sama saja, paling juga bentuknya seperti itu." jawab sang istri.


"Ya beda dong sayang! Kalau di matiin lampunya nanti tompel keramat ku nggak kelihatan dong! Padahal kamu suka banget kan lihat tompelnya, nggemesin banget." Aldo tampak tersenyum smirk melihat ekspresi wajah sang istri yang tampak malu-malu.


*


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2