
Keduanya saling melepaskan pelukannya dan memperhatikan sekeliling, betapa mereka begitu terkejut dengan surprise yang direncanakan oleh keluarga mereka, sementara itu Liora berjalan menuju kedua insan yang tengah kasmaran itu dan berkata. "Uti bahagia, akhirnya kalian berdua bisa menyatukan cinta kalian, Filio, Reyna, Uti berharap kalian akan tetap saling mencintai sampai akhir nanti, kalian memang di takdirkan untuk hidup bersama, Uti akan selalu berdoa untuk kebahagiaan cucu-cucu Uti." ucapnya sembari memeluk Filio dan Reyna.
"Terima kasih Uti! Filio janji akan membuat Uti bahagia, Filio akan mengabulkan permintaan Uti untuk menimang cucu." ucapan Filio sontak membuat Reyna menatap Filio dengan serius, bukankah Filio mempunyai kekurangan pada burung empritnya, pikirnya.
"Mas Filio ingin memberi cucu untuk Uti? Apa bisa? Bukannya buntut burung empritnya sudah di pangkas?" gumamnya sembari tersenyum menatap wajah Filio yang tampak tersenyum sumringah.
Akhirnya acara makan malam itu dilaksanakan dengan suka cita, dua keluarga akhirnya bisa tersenyum lega melihat Filio dan Reyna duduk bersama dalam satu meja, Filio tidak melepaskan sedikitpun genggaman tangan Reyna, bahkan semakin erat Filio menggenggam tangan calon istrinya tersebut.
"Mas Filio! Lepaskan tanganku Mas, apa kamu tidak makan? Kalau tanganmu begini terus, bagaimana kamu bisa makan?" bisiknya kepada Filio.
Filio berbalik menatap wajah Reyna yang terlihat malu-malu itu dengan sebuah kalimat yang tak mungkin ia tolak.
"Aku tidak mau melepaskannya, kalau begitu suapin Aku saja!" jawabnya sembari mengecup tangan Reyna dengan mesra, sementara Reyna tampak begitu malu saat semuanya memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
Reyna tersenyum dengan ekspresi yang begitu malu, di saat tangannya di kecup kemudian di genggam terus oleh Filio.
"Mas Filio, jangan gitu dong Aku malu, semua orang melihat kita, Mas!" ucapnya dengan malu-malu meong.
"Kenapa harus malu? Bukankah kita akan segera menikah, dan kita akan segera mengabulkan permintaan Uti untuk segera memberikan cicit, bagaimana? Kamu setuju, kan?" tanyanya dengan sedikit berbisik di telinga Reyna.
"Cicit? Emang kamu bisa buatin Uti cicit?" tanyanya dengan ekspresi menyelidik.
"Bisa." jawab Filio singkat.
"Kamu perlu bukti?" jawaban Filio membuat Reyna salah tingkah dan memalingkan wajahnya.
"Diiih mana bisa kamu bikinin Uti cicit, Mas! Semoga saja ada keajaiban, tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah menghendaki, apapun bisa terjadi, termasuk masalah burung empritmu." gumamnya penuh harap.
__ADS_1
Karena Filio tidak mau juga melepaskan genggaman tangannya dari tangan Reyna, akhirnya Reyna terpaksa makan dengan satu tangan kanannya, sementara tangan kirinya sudah di kuasai oleh Filio dan pria itu justru meletakkan tangan Reyna di atas pangkuannya.
Kedua keluarga itu tampak tersenyum melihat kemesraan mereka berdua, Reyna menyuapi calon suaminya dengan lembut, sesekali Reyna mengusap mulut Filio saat terkena sisa makanan yang masih menempel di ujung bibirnya.
Namun seketika Reyna membulatkan matanya saat tangan kirinya yang di genggam oleh Filio, seolah-olah menyentuh sesuatu yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
Spontan Reyna menjauhkan tangannya dari sesuatu yang membuatnya sempat bergidik itu, Filio yang merasa ada yang aneh dengan Reyna, sontak bertanya kepada gadis itu.
"Ada apa?" tanyanya sembari mengerutkan keningnya.
"Enggak nggak ada, Mas! Cuma Aku merasa ada sesuatu yang tak sengaja aku sentuh, ih ... geli Mas! Itu apa?" jawabnya dengan ekspresi lucu yang membuat Filio mengembangkan senyumnya.
"Sebentar lagi kamu juga akan mengetahuinya." ucap Filio dengan senyum smirk nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥