I LOVE YOU SAHABAT KU

I LOVE YOU SAHABAT KU
Bonchap 3


__ADS_3

Setelah itu Galen tampak nya sedang menyandarkan kepalanya pada dinding, wajahnya pucat dan seperti kurang darah, sang ayah yang melihat keadaan putranya terlihat begitu cemas.


"Eh kamu kenapa Len? Nggak biasanya loh kamu kayak gini? Mukamu kok pucet kayak vampir gitu, kamu butuh mimik susu nih kayaknya, bentar ya Papa ambilin!"


Rupanya ucapan Aldo tidak disetujui oleh Galen, Galen justru ingin kembali ke kamarnya dan beristirahat. Mereka berdua belum tahu jika Eve dan Liora sedang berkunjung ke rumah mereka.


"Eh ... nggak usah, Pa! Galen nggak butuh mimik susu itu, nggak enak. Galen mau ke kamar saja, nyusu di kamar." jawabnya sembari berjalan menuju ke kamarnya. Tapi Aldo justru melarang Galen masuk ke dalam kamar.


"Jangan ngawur kamu, istrimu itu lagi kurang enak badan, masa kamu maksa nyusu juga, biarkan dia istirahat." ujar Aldo sambil duduk di kursi.


"Udah, kamu di sini saja, temani Papa ngopi, hari ini Papa agak siangan ke kantor."


"Males lah, Pa! Di sini Galen pinginnya muntah terus, apalagi lihat Papa!"


Jawaban Galen rupanya membuat Aldo geram, Ia mengambil satu sendalnya dan hendak Ia pukulan pada punggung Putranya.


"He he ... apa kamu bilang! Kamu eneg lihat muka Papa yang tampan mempesona ini, Mamamu saja klepek-klepek kok kamu malah eneg sih, dasar bocah edyann."


"Hehehe ampun, Pa ampun! Bukan begitu maksud Galen Papa, aduuhh ... Galen tuh eneg lihat papa minum Kopi, ngga suka aja sama bau kopi, apalagi Papa yang minum, beuh ... makin gelap, au ah."


Galen segera menutup hidungnya ketika aroma kopi itu masih tercium kuat pada indera penciuman nya. Aldo rupanya mulai curiga dengan sikap sang anak, akhirnya Aldo mendesak Galen untuk bicara sesuatu kepadanya.


"He ... Papa mau tanya! Apa kamu pernah lihat istrimu datang bulan?"


Galen terlihat mengerutkan keningnya saat sang Papa menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Emang nya kenapa, Pa?"


"Udah jawab aja!"


Galen menjawabnya dengan santai.


"Dari awal nikah, Galen nggak pernah tuh lihat Fio datang bulan sama sekali, malah setiap hari Galen pake sampai sekarang, baik-baik saja tuh, Pa! Malah dia seneng dan nagih terus. Emangnya kenapa, Pa? Apakah bahaya jika Galen pakai setiap hari? Tapi enak loh, Pa!" jawaban konyol sang putra rupanya sangat Ia sadari jika putranya itu sangat menuruni bakat dirinya, Aldo mengusap wajahnya kasar.


"Eh semprul! Pantesan aja Fio nggak ketemu-ketemu sama tamu bulanan nya, orang setiap hari kamu masuk terus dodol." balas Aldo menggelengkan kepalanya.


"Hehehe ... ya gimana dong, Pa! Nggak nahan Pa! Bodo amatlah toh Fio nya juga suka, beuh menjiwai sekali ... ah Papa jadi pingin nih!" Galen tampak mengacak rambutnya di kala dirinya teringat akan desaahan sang istri dan geliatan tubuh Fio saat berada di bawah Kungkungan nya.


Aldo menatap wajah Galen yang terlihat masam, ada sesuatu yang membuat Galen terpaksa menahannya. Aldo yang tampak mengerti keadaan putranya, Ia pun membiarkan Galen masuk ke dalam kamar mereka.


"He ... udah sana! Masuk kamar mu, tapi ingat hati-hati, istrimu seperti nya sedang hamil, semoga saja dugaan Papa benar!" ucap Aldo yang tentu saja membuat Galen terkejut sekaligus bahagia.


"Ya ... bisa jadi, gimana nggak hamil setiap hari kamu produksi. Hehehe papa dulu juga gitu ... setiap hari lah Papa produksi, tak berselang lama kamu tuh mulai nongol di Perut Mamamu, tapi yang bikin asseeeemmm ... Papa yang mual-mual, pusing. Mamamu baik-baik saja, ya kayak kamu gini, nih! Persis."


Wajah Galen tampak begitu gembira, akhirnya hal yang Ia nanti-nantikan, kehadiran bayi dalam kandungan Istrinya adalah hal yang terindah yang di berikan Tuhan untuk dirinya dan Fio.


Dengan sangat bersemangat, Galen menuju ke kamarnya, dan dengan spontan Ia membuka pintu kamar itu. Galen belum mengetahui jika Eve, Liora dan Vega ada di dalam kamar mereka.


Ketiga wanita itu sedang duduk di sofa yang terletak di sudut kamar Galen. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, Galen langsung menerabas masuk ke dalam kamarnya dan berlari menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Gedebak ... gedebak ... gedebak ."

__ADS_1


Suara kaki Galen yang berlari menghampiri Fio yang terlihat sangat terkejut.


"Sayang, Kamu!"


Galen langsung memeluk istrinya dan menciumi wajahnya berkali-kali. Membuat Fio bingung dan mencoba memberi tahukan kepada Galen jika Mommy dan Uti nya ada di dalam kamar mereka.


"Oh Sayang! Aku bahagia sekali. Nanti kita ke dokter, ya! Kita periksa kandungan kamu, Aku ingin pastikan jika kamu sedang hamil anak kita." Galen terus memeluk Fio. Sementara ketiga wanita itu masih belum bersuara saat Galen memeluk istrinya.


"Sayang! Lepasin aku!" pinta Fio.


"Nggak mau."


"Galen! Lepasin Aku!"


"Nggak mau, meluk kamu membuat mood ku menjadi lebih baik, apalagi mimik susu, boleh ya!" rengek Galen sambil membuka kancing baju Fio, dan dirinya masih belum menyadari jika ibu mertua nya sedang berada di sudut ruangan bersama Mamanya.


"Galen, Pliss! Ada Mommy dan Uti di sana!" seru Fio sembari menunjuk ke arah sudut ruangan dengan kode matanya.


Spontan Galen membulatkan matanya dan memasang kembali kancing baju Fio yang Ia lepas.


"Mommy dan Uti?" tanyanya dengan serius.


Fio mengangguk dan tersenyum. Perlahan Galen bangkit dan berdiri, setelah itu Ia mulai membalikkan badannya dan alangkah terkejutnya saat ia melihat Sang Mama dan Ibu mertuanya sedang duduk di sofa di sudut kamar tidurnya.


"Hehehe Mommy, Uti, Mama ...."

__ADS_1


Galen tampak cengar-cengir melihat ketiga wanita itu.


__ADS_2