
"Entahlah! Tiba-tiba saja perasaan ku tidak enak." jawabnya dengan sedikit memijit pelipisnya.
Bryan seolah mendapat firasat yang tidak baik, Ia terlihat tidak tenang, sementara Zyva mencoba menghibur Bryan dengan mengajaknya jalan-jalan.
"Bryan! Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dulu, siapa tahu perasaanmu sedikit tenang." Zyva mencoba menghibur Bryan.
"Oke!" jawabnya menyetujui.
Akhirnya, setelah acara makan bersama, hari itu juga Bryan bersama Zyva pergi ke tempat-tempat hiburan di kota London, rupanya mereka masuk ke sebuah bar yang cukup terkenal di kota itu.
Bryan dan Zyva menghabiskan waktu bersama dalam bar tersebut, seolah mereka lupa untuk pulang, rupanya Bryan dan Zyva terlalu menikmati kebersamaan mereka berdua, hingga tak di sadari Bryan sudah terlalu banyak minum, membuat pria itu sedikit menahan rasa pusing di kepalanya.
Zyva yang melihat Bryan sudah mabuk berat, mengajak Bryan untuk pulang.
"Bryan! Kita pulang yuk, sepertinya Kamu udah terlalu banyak minum." seru Zyva kepada Bryan yang sudah mabuk itu.
"Hmm ... kepalaku pusing sekali." Bryan terus mengeluhkan kepalanya yang semakin terasa pusing. Zyva mencoba memapah Bryan untuk keluar dari bar itu. Dengan tubuh yang sempoyongan Bryan dibantu Zyva berjalan menuju ke tempat mobil Bryan.
Sesampainya di parkiran, agaknya kali ini Zyva harus ambil kendali untuk menyetir mobil Bryan, karena tidak mungkin Bryan mampu berkonsentrasi dalam mengendara.
Zyva membawa tubuh Bryan masuk ke dalam mobil, setelahnya Zyva duduk di kursi kemudi untuk membawa Bryan pulang, kemudian Zyva mencoba melihat kartu pengenal Bryan, untuk melihat dimana Bryan tinggal.
Sepertinya Zyva mengerti dimana lokasi tempat tinggal Bryan, setelah itu gadis berkulit putih itu segera melajukan mobilnya menuju alamat apartemen Bryan.
Sesampainya di apartemen Bryan, Zyva membantu kembali membantu Bryan untuk masuk ke dalam apartemennya. Dengan susah payah Zyva membantu Bryan untuk segera masuk ke dalam tempat tinggalnya.
__ADS_1
"Bryan! Kuncinya mana? Kita sudah sampai!" ucap Zyva sembari meminta kunci pintu kepada Bryan.
"Hmm ... ada di kantong." jawabnya dengan nada lemas. Sementara Zyva bingung di kantong mana maksud Bryan.
"Bryan! Di kantong mana kamu meletakkannya?" tanya Zyva sekali lagi. Kemudian Bryan mulai memasukan tangannya pada saku celana yang sebelah kanan, sepertinya Bryan sudah tidak kuat lagi menahan kepalanya yang semakin pusing, apalagi perutnya semakin mual karena terlalu minum alkohol. Bryan sedikit kesusahan mencari kunci apartemen nya, Zyva yang melihat itu, tampak mencoba membantu Bryan untuk merogoh kuncinya di dalam saku celana Bryan.
"Sini! Aku bantu." ucap Zyva sembari mencari kunci di dalam saku celana Bryan, Zyva mulai memasukkan satu tangannya pada celana Bryan, dengan mudah Zyva berhasil mengambil kunci tersebut, kemudian Ia mulai membuka kunci pintu apartemen Bryan.
Setelah pintu terbuka, Zyva segera membawa Bryan masuk ke dalam apartemen nya dan mengantarkan Bryan sampai ke tempat tidur. Karena bobot tubuh yang tak imbang, tentu saja bobot tubuh Bryan lebih besar ketimbang Zyva yang tergolong imut.
"Bruggg." Bryan dan Zyva sama-sama terjatuh di atas ranjang.
"Awwww .... Bryan, lepasin!" seru Zyva memohon saat tubuh Bryan menindihnya. Namun sepertinya Bryan yang sudah mabuk berat itu, melihat wajah Zyva berubah menjadi wajah Fio, dan sontak Bryan begitu terkejut, bagaimana Fio bisa berada di dalam kamar nya.
"Fio! Kau kah itu? Aku senang sekali melihat mu di sini, Aku sangat merindukanmu, apa kamu juga tidak merindukan ku?" ucap Bryan yang mulai ngelantur.
"Bryan! Lepasin Aku! Kau salah orang, aku Zyva."
Rupanya Bryan tidak mendengarkan ucapan Zyva, Bryan yang sudah lama menginginkan Fio menjadi miliknya, sepertinya hari itu Bryan akan merealisasikan nya. Dalam ketidak sadaran Bryan terus mencumbui gadis malang itu. Zyva semakin berontak saat Bryan mulai melepaskan pakaian nya satu persatu.
Sekuat apapun tenaga, Zyva akan tetap kalah dengan kekuatan Bryan yang sudah di kuasai oleh nafsu.
"Bryan, Stop! Aku mohon biarkan Aku pergi, ku mohon jangan lakukan itu?" rengek gadis yang kini sudah polos tanpa sehelai benangpun itu.
"Aku sangat menunggu saat-saat seperti ini, baby." Bryan terus menganggap jika Zyva adalah Fio. Hingga akhirnya kejadian yang tak akan pernah Zyva lupakan itu terjadi begitu saja.
__ADS_1
"No .... Bryan! No ....." pekik gadis malang itu saat Bryan telah berhasil mengambil sesuatu yang berharga darinya, Zyva hanya bisa menangis merasakan rasa sakit dan perih pada area sensitifnya, gadis itu hanya bisa pasrah saat Bryan terus menghujamkan miliknya di bawah sana.
"Kamu jahat Bryan, kamu jahat."
Zyva tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya sudah di kuasai oleh nafsu seorang pria yang baru saja ia kenal, dan parahnya lagi pria itu menganggap dirinya perempuan lain.
Perlahan Bryan berhasil membuat Zyva yang awalnya menangis kini gadis itu menikmati permainan Bryan, matanya terpejam, Ia membiarkan Bryan melakukannya, karena Zyva sendiri mulai menikmatinya.
Setelah hampir satu jam, Bryan pun telah mencapai puncaknya, pria itu terhempas begitu saja di samping Zyva yang wajahnya sudah penuh dengan peluh dan keringat. Zyva menoleh ke arah Bryan yang telah terlelap, Ia menatap bagaimana pria ini telah mengambil kesuciannya.
"Kau sudah melakukannya padaku, Bryan! Aku tidak akan pernah melupakannya sepanjang hidupku."
Zyva bangkit dan duduk sembari menahan betapa perihnya pada area pangkal pahanya, Zyva melihat bercak darah pada sprei yang mereka gunakan untuk bercinta.
"Tidak! Itu tidak mungkin!"
Zyva menangis, Ia tidak mungkin meminta pertanggungjawaban dari Bryan, karena Ia tahu Bryan sudah memiliki pacar yang akan dinikahinya, Zyva memang terlahir dari rahim Ellen, namun rupanya Ellen tidak ingin sang putri mengikuti jejaknya yang dulu pernah merusak hubungan Rafael dan Eve.
Ellen selalu memberikan nilai positif kepada putrinya itu, sehingga Zyva tumbuh menjadi gadis yang periang, cerdas dan selalu menuruti perintah orang tuanya.
Zyva meraih pakaiannya yang sudah di lempar Bryan ke lantai, dengan terisak Zyva memakai kembali satu persatu bajunya, sembari menatap Bryan yang tampak polos dan tertidur tanpa sehelai benangpun, setelah itu Zyva segera pergi dari kamar apartemen Bryan.
"Aku akan pergi menjauh dari mu Bryan! Aku tidak akan menggangu hidupmu, karena percuma saja Aku meminta pertanggungjawaban darimu, saat itu saja Kamu tidak melihat ku sebagai Zyva, tapi orang lain yang tak lain adalah pacarmu."
Zyva segera berlaku pergi dengan wajah yang sedih.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥